Beranda » Arsip Tag:khawarij

Arsip Tag:khawarij

Siapakah Khawarij (Bagian 02)

Siapakah Khawarij (Bagian 02)

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita telah membahas beberapa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela keberadaan khawarij, berikut karakter mereka, dan sikap yang tepat ketika menjumpai mereka. Selanjutnya, kita akan menyebutkan komplotan khawarij pertama di masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran, betapa miripnya khawarij zaman dulu dan khawarij sekarang.

Debat Ibnu Abbas dengan Khawarij

Kita awali dari cuplikan sejarah seusai perang Shiffin dan peristiwa Tahkim.

Sepulang dari peritiwa Shiffin (perang antara Ali dengan Muawiyah), Ali bin Abi Thalib bersama seluruh pasukannya kembali ke Kufah. Beberapa mil sebelum sampai Kufah, ada sekitar 14 ribu orang (menurut riwayat Abdurrazaq dalam Mushannaf) yang memisahkan diri dari jamaah dan mencari jalur yang berbeda. Mereka tidak terima dengan genjatan senjata antara Ali dengan Muawiyah.

Peristiwa tahkim, kesepakatan damai antara Ali dengan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma, yang diwakilkan kepada dua sahabat Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, menjadi pemicu sebagian masyarakat yang sok tahu dengan dalil untuk mengkafirkan Ali bin Abi Thalib. Karena peristiwa ini, pada saat Ali bin Abi Thalib berkhutbah, banyak orang meneriakkan:

لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ

Tidak ada hukum, kecuali hanya milik Allah.”

Mereka beranggapan – dengan kebodohannya –, Ali telah menyerahkan hukum kepada manusia (Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu), yang oleh mereka itu dianggap telah meninggalkan hukum Allah.

Ali tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai di Kufah. Ali sangat berharap mereka mau kembali bergabung bersamanya. Untuk tujuan itu, beliau mengutus Ibnu Abbas agar berdialog dengan mereka.

Ibnu Abbas menceritakan,

Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melanjutkan: “Sungguh aku melihat seolah diriku masuk di tengah kaum yang belum pernah sama sekali kujumpai. Satu kaum yang sangat bersemangat dalam ibadah seperti mereka. Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bagaikan lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pucat karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.

‘Selamat datang wahai Ibnu Abbas, misi apa yang anda bawa?’ sambut mereka.

‘Aku datang dari sisi seorang sahabat nabi, menantu beliau. Al-Quran turun kepada para sahabat, dan mereka lebih paham tentang tafsir Al-Quran dari pada kalian. Sementara tidak ada satupun sahabat di tengah kalian. Sampaikan kepadaku, apa yang menyebabkan kalian membenci para sahabat Rasulullah dan putra paman beliau (Ali bin Abi Thalib)?’

‘Ada tiga hal..’ jawab orang khawarij tegas.

‘Apa saja itu?’ tanya Ibnu Abbas.

‘Pertama, dia menyerahkan urusan Allah kepada manusia, sehingga dia menjadi kafir. Karena Allah berfirman, ‘Tidak ada hukum kecuali hanya milik Allah.’ Apa urusan orang ini dengan hukum Allah?’

‘Ini satu..’ tukas Ibn Abbas

‘Kedua, Ali memerangi Muawiyah, namun tidak tuntas, tidak memperbudak mereka dan merampas harta mereka. Jika yang diperangi itu kafir, seharusnya dituntaskan dan diperbudak. Jika mereka mukmin, tidak halal memerangi mereka.’

‘Sudah dua.. lalu apa yang ketiga?’ kata Ibnu Abbas.

‘Dia tidak mau disebut amirul mukminin, berarti dia amirul kafirin.’

‘Ada lagi alasan kalian mengkafirkan Ali selain 3 ini?’ tanya Ibnu Abbas.

‘Cukup 3 ini.’ jawab mereka.

Anda bisa perhatikan, betapa miripnya khawarij dulu dan sekarang. Ayat yang didengung-dengankan sama. Cara berfikir dan berlogika juga sama. Banyak menggunakan mafhum kelaziman untuk mengkafirkan banyak manusia, siapa yang setuju dengan selain hukum Allah maka dia setuju dengan kekafiran, dan siapa yang setuju dengan kekafiran maka dia kafir. dst. Bagi anda yang pernah mendengar ceramah para ’teroris’, para ‘buron polisi’ akan sering mendengarkan ayat ini diulang-ulang.

Kita kembali kepada kisah Ibnu Abbas bersama Khawarij.

Mulailah Ibnu Abbas menjelaskan ke-salah pahaman mereka,

‘Apa pendapat kalian, jika aku sampaikan kepada kalian firman Allah dan sunah Nabi-Nya, yang membantah pendapat kalian. Apakah kalian bersedia menerimanya?’

‘Ya, kami menerima.’ Jawab mereka.

‘Alasan kalian, Ali telah menunjuk seseorang untuk memutuskan hukum, akan kubacakan ayat dalam firman Allah, bahwa Allah menyerahkan hukum-Nya kepada manusia untuk menentukan harga ¼ dirham. Allah perintahkan agar seseorang memutuskan hal ini. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai sembelihan yang dibawa ke ka’bah.” (QS. Al-Maidah: 95)

Aku sumpahi kalian di hadapan Allah, apakah putusan seseorang dalam masalah kelinci atau hewan buruan lainnya, lebih mendesak dibandingkan keputusan seseorang untuk mendamaikan diantara mereka. Sementara kalian tahu, jika Allah berkehendak, tentu Dia yang memutuskan, dan tidak menyerahkannya kepada manusia?.’ Jelas Ibn Abbas.

‘Keputusan perdamaian lebih mendesak.’ Jawab mereka.

‘Allah juga berfirman tentang seorang suami dengan istrinya,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا

Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada keduanya.” (QS. An-Nisa: 35)

Aku sumpahi kalian di hadapan Allah, bukankah keputusan seseorang untuk mendamaikan sengketa dan menghindari pertumpahan darah, lebih penting dibandingkan keputusan mereka terkait masalah keluarga?

‘Ya, itu lebih penting.’ Jawab khawarij.

Alasan kalian yang kedua, ‘Ali berperang namun tidak tuntas, tidak menjadikan lawan sebagai tawanan, dan tidak merampas harta mereka.’

Apakah kalian akan menjadikan ibunda kalian sebagai budak. Ibunda A’isyah radhiyallahu ‘anha, kemudian kalian menganggap halal memperlakukannya sebagai budak, sebagaimana budak pada umumnya, padahal dia ibunda kalian? Jika kalian menjawab, ‘Kami menganggap halal memperlakukan dia (Aisyah) sebagai budak, sebagaimana lainnya.’ berarti dengan jawaban ini kalian telah kafir. Dan jika kalian mengatakan, ‘Dia bukan ibunda kami’ kalian juga kafir. Karena Allah telah menegaskan,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6).

“Dengan demikian, berarti kalian berada diantara dua kesesatan.”

“Apakah kalian telah selesai dari masalah ini?” tanya Ibn Abbas

‘Ya..’ jawab mereka.

Alasan kalian yang ketiga, Ali menghapus gelar amirul mukminin darinya. Saya akan sampaikan kepada kalian kisah dari orang yang kalian ridhai (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan saya kira kalian telah mendengarnya. Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Hudaibiyah, beliau mengadakan perjanjian damai dengan orang musyrikin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Ali: “Tulis, ini yang diputuskan oleh Muhammad rasulullah (utusan Allah).”

Maka orang-orang musyrik mengatakan, “Tidak bisa. Demi Allah, kami tidak mengakui bahwa kamu rasul Allah. Kalau kami mengakui kamu Rasul Allah, kami akan mentaatimu. Tulis saja, ‘Muhammad bin Abdillah.”

“Hapuslah wahai Ali, hapus tulisan utusan Allah. Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku utusan-Mu. Hapus wahai Ali, dan tulislah: ‘Ini perjanjian damai yang diputuskan Muhammad bin Abdillah.” Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali.

“Demi Allah, Rasulullah lebih baik dari pada Ali. Namun beliau telah manghapus dari dirinya gelar rasul Allah. Dan beliau menghapus hal itu, tidaklah menyebabkan beliau gugur menjadi seorang nabi. Apakah kalian telah selesai dari masalah yang ini?” jelas Ibnu Abbas.

“Ya..” jawab khawarij.

Sejak peristiwa ini, ada sekitar 2000 orang khawarij yang bertaubat dan kembali bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sisanya diperangi oleh Ali bersama para sahabat Muhajirin dan Anshar.

(Khashais Ali bin Abi Thalib, An-Nasai, hlm. 20).

Khutbah Ali di Depan Khawarij

Setelah berdebat dengan Ibnu Abbas, bertaubatlah sekitar 2 ribu orang khawarij. Mereka ‎balik ke Kufah, untuk bergabung bersama Ali bin Abi Thalib. ‎Kemudian Ali datang sendiri menemui mereka yang tersisa dan belum bertaubat. Ketika Ali datang, mereka menyangka Ali telah berpihak kepada mereka. Mereka menganggap bahwa Ali ‎telah bertaubat kesalahannya – menurut anggapan mereka – dan menarik kembali ‎keputusan tahkim.‎

Merekapun mendengang-dengungkan hal ini di tengah Masyarakat. Hingga al-Asy’as bin Qais al-Kindi menemui Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, menyampaikan informasi bahwa masyarakat membicarakan bahwa anda telah kembali (bertaubat) dari kekufuran anda.

Keesokan harinya, pada hari jumat, Ali berkhutbah. Beliau menyinggung sikap orang-orang yang memisahkan diri dari negara. Beliau mencela habis orang yang berpecah belah. Ketika turun dari mimbar, beberapa orang di pojok masjid meneriakkan,

‘‎لا حكم إلا لله‎’

Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”

‎‎”Hukum Allah, akan diterapkan kepada kalian.” Komentar Ali. ‎

Kemudian beliau berisyarat dengan tangannya, menyuruh mereka diam. Hingga ada salah satu dari khawarij itu yang maju, sambil menyumbat telinganya, dan membaca firman Allah, ‎

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

‎”Jika kamu berbuat syirik, maka amalmu akan terhapus dan kamu akan menjadi orang yang merugi.” (QS. az-Zumar; 65). ‎

Kemudian Ali radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah, ‎

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلاَ يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لاَ يُوقِنُونَ

Bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” ‎(QS. ar-Rum: 60). ‎

‎[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 734]. ‎

Setelah tidak memungkinkan untuk disadarkan, Ali mengikat janji kepada ‎mereka, ‎

إن لكم عندنا ثلاثًا: لا نمنعكم صلاةً في هذا المسجد، ولا نمنعكم نصيبكم من هذا الفيء ما كانت أيديكم مع ‏أيدينا، ولا ‏نقاتلكم حتى تقاتلونا

Kalian memiliki 3 hak di hadapan kami, [1] kami tidak melarang kalian untuk shalat di masjid ini, [2] kami tidak menghalangi kalian untuk mengambil harta rampasan perang, selama kalian ikut berjihad bersama kami, [3] kami tidak akan memerangi kalian, hingga kalian memerangi kami.” (Tarikh al-Umam wa al-Muluk, at-Thabari, 3/114)

Akhirnya para khawarij ini berkumpul, untuk menentukan pemimpin mereka. Mereka berkumpul di rumah Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Dia-pun berkhutbah di hadapan mereka, dengan khutbah yang sangat memotivasi mereka untuk zuhud terhadap dunia, berharap akhirat, menegakkan amar ‎

makruf nahi munkar dan menjauh diri dari masyarakat yang penduduknya dzalim ini (yaitu Ali dan rakyatnya). Sebagai bentuk pengingkaran terhadap hukum yang menyimpang – menurut kebodohan mereka -.‎

Mereka kemudian menunjuk Zaid bin Hishn at-Thai (pemimpin gembong anti-Ali), tapi dia menolak. Lalu menunjuk Huqus bin Zuhair, dia juga menolak, lalu Hamzah bin Sinan, dan dia juga menolak. Lalu ditawarkan kepada Abu Aufa al-Absy, dia juga menolak. Hingga ditawarkan kepada Abdullah bin Wahb, dan dia menerimanya. Ketika menerima, dia mengatakan, ‎

أما والله لا أقبلها رغبةً في الدنيا ولا أدعها فَرَقًا من الموت

‎”Demi Allah, aku tidak menerimanya karena berharap dunia, dan aku juga tidak menolaknya karena lari dari kematian.” (an-Nihayah wal Bidayah, Ibnu Katsir, 7/316)

Dalam satu kesempatan perkumpulan mereka, Zaid bin Hishn at-Thai berkhutbah ‎menasehatkan mereka, dengan membaca beberapa firman Allah, diantaranya, ‎

Firman Allah, ‎

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” ‎(QS. Shad: 26)‎

Lalu firman Allah, ‎

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” ‎(QS. al-Maidah: 44)‎

Kemudian firman Allah, ‎

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” ‎(QS. al-Maidah: 45)‎

dan firman Allah

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Maidah: 47)‎

Lalu dia melanjutkan khutbahnya,

‎”Saya bersaksi bahwa para ahli kiblat (kaum muslimin) telah mengikuti hawa nafsu, membuang hukum Allah, dan berbuat dzalim dalam ucapan dan perbuatan.” ‎

Hingga salah satu diantara mereka menangis, dan memotivasi orang disekitarnya untuk memberontak Ali dan para sahabat. Dia mengatakan, ‎

اضربوا وجوههم وجباههم بالسيوف حتى يطاع الرحمن الرحيم، فإن أنتم ظفرتم وأطيع الله كما أردتم أثابكم ثواب ‏المطيعين له العاملين ‏بأمره

Sabet wajah dan jidat mereka dengan pedang, agar Dzat yang Maha ar-Rahman ar-Rahim kembali ditaati. Apabila kalian menang, dan aku mentaati Allah sebagaimana yang kalian inginkan, Allah akan memberikan pahala kepada kalian seperti ‎pahala orang yang taat kepada-Nya, mengamalkan perintah-Nya.!!?‎

al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menyebutkan kisah mereka, beliau berkomentar, ‎

وهذا الضرب من الناس من أغرب أشكال بني آدم، فسبحان من نوّع خلقه كما أراد، وسبق في قدره العظيم‏

Manusia model seperti ini adalah bentuk keturunan Adam yang paling aneh. Maha Suci ‎Dzat yang menciptakan jenis makhluk-Nya ini seperti yang Dia kehendaki. Semua telah ‎didahului oleh taqdir-Nya yang agung.” (an-Nihayah wa al-Bidayah, 7/316)‎

Mereka sepakat bulat untuk menjauh dari wilayah Ali. Kemudian merekapun pergi diam-‎diam, satu demi satu, agar tidak ketahuan, menuju tempat yang disepakati, Nahrawan. ‎Hingga mereka memiliki kekuatan.‎

Bersambung, insyaaAllah..

Artikel sebelumnya: Siapakah Khawarij (Bagian 01)
https://www.facebook.com/103034065061644/posts/258778486153867/

*

Ditulis oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Dipublikasikan kembali oleh : Ummu Aisyah Al-Atsariyyah

Silahkan disebarluaskan untuk menambah manfaat, dengan tetap menyertakan sumber

——————-

Bismillah..

Mau dapat Ilmunya ?
Mau dapat pahalanya ?
Silahkan ikuti link dibawah ini dan jangan lupa tag, mention, like, subscribe, follow serta comment

🌐 Web: https://multaqaduat.com
🎬 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
🐝 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
📫 Telegram: https://t.me/multaqaduat
📮 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
💻 Facebook: https://www.facebook.com/multaqa2020/
💻 Facebook: https://www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
📲 WAgrup Ikhwan MDI : https://chat.whatsapp.com/DLCDjuJ9nJR0Z4uGV53mAn
📲 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
📧 Email : team.media.mdi@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6281320205670

Share yuk!!! Ikhwah!! Semoga kita dan saudara² mendapatkan faidah ilmu dari yang antum bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi antum yang telah menunjukkan kebaikan.

Semoga istiqomah dan mudah-mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiin…

Jazakumullah khair ala TA’AWUN

Multaqa Du’at Indonesia
Forum Kerjasama Da’i Indonesia

Hakikat Perusak Agama Islam yang Murni

KENAPA PARA ULAMA BANYAK YANG MENYIFATI ISIS/DAISY/IS/DI ITU SEBAGAI KHOWARIJ?

Bukankah KHOWARIJ itu mengkafirkan para pelaku dosa besar atau pelaku kemaksiatan sedangkan IS/DI tidak berpendapat seperti ini!!

KHOWARIJ itu mereka yang keluar dari ketaatan (memberontak) terhadap penguasa muslim  yang menerapkan syariat, sedangkan tidak ada di Suriah dan Iraq ini penguasa muslim yang seperti itu. Bahkan penguasa yang ada memerangi ahli sunnah!! Bagaimana bisa dikatakan ISIS itu khowarij?!

Bagaimana bisa dituduh Khowarij, sedangkan IS/DI itu adalah kaum yang paling bersemangat di dalam menerapkan syariat Islam, berjihad di jalan Allah dengan darah2 mereka dan menegakkan hukum Islam secara sempurna!!

JAWABAN :

Tidak ragu lagi, diantara sekte di dalam Islam yang dijelaskan paling rinci dan gamblang sifatnya oleh Nabi kita ﷺ adalah sekte KHOWARIJ. Nabi ﷺ menerangkan sifat, karakter, sebutan hingga ancamannya kepada umat beliau, sehingga -seharusnya- hal ini menjadi jelas bagi kita.

Sebenarnya nash-nash hadits Nabi ﷺ tidaklah menetapkan bahwa diantara syarat untuk dikatakan sebagai khowarij itu haruslah memberontak terhadap penguasa muslim atau mengkafirkan para pelaku dosa besar. Banyak sifat yang disebutkan oleh Nabi kita ﷺ tentang karakter khowarij yang bisa menjadi parameter kita di dalam membandingkannya. Diantaranya :

[PERTAMA]

Batasan yang mu’tabar dan pemisah yang jelas (haddul fashl) di dalam menerangkan sifat khowarij yang berbeda dengan sekte2 (firqoh) lainnya sudah dijelaskan di dalam nash2 hadits Nabi secara spesifik dan khusus, dimana Nabi tidak menerangkan sifat2 yang detaill ini pada sekte/firqoh lainnya. Ini menunjukkan betapa bahayanya sekte khowarij ini, sampai-sampai Nabi mengatakan mereka ini adalah “anjing2 neraka” [kilâbun nâr] dan seburuk2 mayat yang mati di kolong langit.

Diantara karakter menonjol sekte khowarij ini adalah : “mudah menvonis kafir dan murtad, menghalalkan darah umat Islam, pemahaman yang buruk terhadap al-Qur’an dan sunnah, pandir lagi bodoh, berusia muda, namun terpedaya dengan kondisi mereka (menganggap diri sebagai mujahid sejati, ahli tauhid paling benar, dll) lagi bersikap tinggi (muta’aali)…”

[KEDUA]

Karakter yang dijelaskan ulama bahwa mereka (khowarij) itu MENGKAFIRKAN PARA PELAKU DOSA BESAR, bukanlah suatu keharusan dan harus selalu ada pada semua sekte khowarij, serta bukan pula syarat untuk bisa dikatakan sebagai khowarij. Namun, semua orang yang bermudah2an di dalam mengkafirkan kaum muslimin secara tidak benar (tanpa haq) dan menghalalkan darah mereka meskipun mereka tidak meyakini kafirnya pelaku dosa besar, maka mereka adalah KHOWARIJ. Nabi ﷺ mengatakan :

يقتلون أهل الاسلام

“Mereka membunuhi sesama umat Islam”

Para ulama menerangkan bahwa sebab mereka melakukan pembunuhan adalah, menvonis umat Islam dengan kekafiran dan murtad, hanya karena menyelisihi mereka.

Ibnu Taimiyah menerangkan :

الْخَوَارِج دِينُهُمْ الْمُعَظَّمُ: مُفَارَقَةُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ، وَاسْتِحْلَالُ دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

Khowarij itu, semboyan agama terbesar mereka adalah menyempal dari jama’ah kaum muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka.”

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyiah rahimahullahu pula saat menyifati khowarij :

لاعتقادهم أنهم مرتدون أكثر مما يستحلون من دماء الكفار الذين ليسوا مرتدي فإنهم يستحلون دماء أهل القبلة

Mereka ini lebih menghalalkan darahnya umat Islam karena meyakini umat ini telah murtad ketimbang menghalalkan darahnya orang kafir yang bukanlah termasuk murtad (kafir secara asal).”

Bukankah khowarij yang memberontak kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu itu tidaklah berpemahaman mengkafirkan para pelaku dosa besar, seperti peminum khamr, pezina, pencuri, dll, namun mereka mengkafirkan Ali dan para sahabat ridhwanullahi ‘alayhim ajma’in adalah lantaran masalah “tahkim” (arbitrase). Mereka mengkafirkan Ali, Mu’awiyah, kedua hakim yang dipilih dalam tahkim, dan siapa saja yang ridha dengan tahkim ini, maka MEREKA HALALKAN DARAHNYA. Karena itulah para sahabat radhiyallahu ‘anhum menyebut mereka ini sebagai KHOWARIJ yang telah disebutkan oleh Nabi ,ﷺ padahal mereka tidak mengkafirkan pelaku dosa besar.

Jadi, qoulul fashl (pendapat yang tepat sebagai penentu) tentang khowarij adalah :

تكفير المسلمين يغير حق واستحلال دمائهم بذك

MENGKAFIRKAN KAUM MUSLIMIN SECARA TIDAK BENAR LALU MENGHALALKAN DARAH MEREKA (YAITU BOLEH MEMBUNUH MEREKA) LANTARAN PENGKAFIRAN INI

Takfir bighoyri haq ini bisa berupa mengkafirkan pelaku dosa besar (seperti pezina, peminum khamr, perampok, dll), mengkafirkan orang yang tidak melakukan dosa besar namun dianggap dosa besar oleh mereka, mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan madzhab mereka, mengkafirkan orang yang tidak mau berbaiat dengan imam mereka, mengkafirkan orang yang tidak mau gabung dengan kelompok mereka, mengkafirkan karena sebab perkara yang belum jelas, yang mengandung probabilitas (ihtimal) dan syubuhat, atau mengkafirkan orang yang jatuh kepada kekafiran tanpa memenuhi syarat2nya seperti menegakkan hujjah (iqômatul hujjah) dan menghilangkan penghalang (izâllatul mawâni’) kekafiran. Maka ini semua adalah SIFAT KHOWARIJ.

[KETIGA]

Tidak pula menjadi syarat untuk dikatakan khowarij haruslah keluar (memberontak) dari penguasa muslim (khurûj ‘anil hukkam). Karena tidak ada bedanya, mereka yang memberontak atau tidak memberontak dari penguasa muslim, selama berkeyakinan dengan keyakinan khowarij (seperti takfir dan penghalalan darah), maka mereka adalah KHOWARIJ.

Dikatakan khowarij, lantaran mereka ini keluar (khuruj) dari nash-nash dan hukum-hukum agama serta menyempal dari jamaah kaum muslimin, sebagaimana sabda Nabi ﷺ saat menjelaskan ciri dan sifat-sifat mereka :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَأونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، »

“Akan keluar di akhir zaman ini suatu kaum yang muda belia usia2 mereka namun lemah intelektualitasnya. Mereka berbicara dengan perkataan manusia terbaik (Rasulullah). Mereka membaca al-Qur’an namun tidak sampai kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari busurnya.” [Muttafaq alaihi]

Kata Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullahu :

وسموا خوارج؛ لخروجهم على الجماعة، وقيل: لخروجهم عن طريق الجماعة

“Mereka dinamakan khowarij lantaran mereka keluar (menyempal) dari jamaah kaum muslimin. Juga ada yang berpendapat lantaran mereka keluar dari jalannya jama’ah kaum muslimin.”

Memberontak kepada penguasa muslim, adalah buah dari pemikiran TAKFIR BIGHOYRI HAQ (pengkafiran secara tidak benar) lalu MENGHALALKAN DARAH MEREKA.

Jika mereka dapati ada penguasa yang mereka kafirkan (DIVONIS THOGHUT), maka mereka memberontak darinya dan menghalalkan darah serta harta mereka. Termasuk mereka halalkan membunuh para aparatur negara seperti kepolisian, tentara negara, PNS, dll. Semuanya telah mereka vonis MURTAD, sehingga halal darahnya. Namun jika tidak ada penguasa muslim, maka mereka arahkan TAKFIR mereka kepada mayoritas kaum muslimin dan menghalalkan darah2 mereka.

[KEEMPAT]

Menampakkan keshalihan dan ketaatan, mendengang-dengungkan penerapan syariat dan berkoar-koar memerangi thoghut tidaklah serta merta dikatakan pasti berada di atas kebenaran dan selamat dari kesesatan dan penyimpangan. Bahkan sifat dan karakter inilah yang dikenali sebagai salah satu karakter khowarij yang terbukti dalam rentang sejarah mereka.

Nabi kita ﷺ telah mengabarkan hal ini, terutama kesungguhan mereka di dalam ibadah yang membuat takjub agar kita tidak tertipu dengan mereka. Nabi ﷺ bersabda :

يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ

“Kalian merasa sholat kalian lebih kecil dibandingkan sholat mereka, dan puasa kalian lebih rendah daripada puasa mereka.” [Muttafaq alaihi]

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata :

كَانَ يُقَالُ لَهُمُ الْقُرَّاءُ لِشِدَّةِ اجْتِهَادِهِمْ فِي التِّلَاوَةِ وَالْعِبَادَةِ، إِلَّا أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَأَوَّلُونَ الْقُرْآنَ عَلَى غَيْرِ الْمُرَادِ مِنْهُ، وَيَسْتَبِدُّونَ بِرَأْيِهِمْ، وَيَتَنَطَّعُونَ فِي الزُّهْدِ وَالْخُشُوعِ وَغَيْرِ ذَلِكَ”

“Dahulu mereka disebut sebagai qurro’ lantaran upaya ekstra mereka di dalam tilawah dan ibadah. Hanya saja mereka ini suka menakwilkan al-Qur’an di luar konteksnya dan mengubah-ubahnya sesuai pemikiran mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam kezuhudan, kekhusuyukan dan semisalnya.”

Diantara ciri mereka lainnya yang disebutkan Nabi ﷺ adalalah :

يُحْسِنُونَ الْقِيلَ، وَيُسِيؤونَ الْفِعْلَ

“Mereka ini menampakkan ucapan yang indah namun buruk dalam bertindak.” [HR Abu Dawud]

يَتَكَلَّمُونَ بِكَلِمَةِ الْحَقِّ لَا تُجَاوِزُ حُلُوقَهُمْ

“Mereka berbicara dengan perkataan yang benar namun tidak sampai kerongkongan mereka.” [HR Ahmad]

Kata al-‘Allamah as-Sindî rahimahullahu dalam syarahnya terhadap sunan an-Nasa’i :

أَي يَتَكَلَّمُونَ بِبَعْض الْأَقْوَال الَّتِي هِيَ من خِيَار أَقْوَال النَّاس فِي الظَّاهِر، مثل: إن الحكم إلا لله، ونظائره، كدعائهم إِلَى كتاب الله

“Yaitu, mereka berbicara dengan sebagian perkataan yang merupakan sebaik-baik ucapan  manusia (Rasulullah) secara zhahirnya, semisal : hukum hanyalah milik Allah dan yang semisal, seperti seruan kepada kitabullah…”

Perhatikanlah, di zaman Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, para pemuka Khawarij ini berkumpul dan bersepakat untuk berhukum dengan al-Qur’an, menuntut kebenaran, mengingkari kezhaliman, memerangi orang-orang yang zhalim, tidak bersandar pada dunia, amar ma’ruf nahi munkar, dll hingga akhirnya mereka memerangi sahabat Nabi dengan slogan-slogan yang tampak indah ini…!!!

[KELIMA]

Perhimpunan Ulama Syam dan Siria menerangkan bahwa IS/DI itu jatuh kepada kesalahan-kesalahan serius dan termasuk sekte KHOWARIJ yang menyimpang dari manhaj Nabi -yang mana ini bisa dibuktikan dari mansyurah/selebaran-seleberan mereka baik cetak maupun digital- dan ini perkara yang sudah diketahui oleh orang banyak, baik dekat maupun jauh -kecuali orang yang tertipu atau menipu dirinya-. Diantara kesalahan nyata IS/DI adalah :

  1. Menghukumi semua negeri kaum muslimin ini adalah NEGERI KAFIR & RIDDAH (MURTAD), wajib hijrah darinya ke wilayah yang mereka kuasai.
  2. Menghukumi siapa saja yang menyelisihi dan menentang mereka dengan KAFIR MURTAD, melabeli dengan sebutan buruk seperti Shohawat (sebagaimana mereka labelkan kepada Jabhah Nushroh, al-Qaida dan faksi-faksi muslim yang tidak bersama mereka), pengkhianat, agen kafir (‘umalah lil kuffar), dll padahal secara asal ini semua bukanlah kekekafiran (seperti berinteraksi dengan penguasa atau tanzhim lainnya, bahkan sekedar melakukan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin negara. Semua ini dikatakan MURTAD KAFIR karena dianggap berwala (loyal) dengan THOGHUT).
  3. Menghalalkan memerangi orang2 yang menyelisihi manhaj mereka atau tidak mau tunduk dengan daulah imajiner mereka. Mereka lalu melalukan pemaksaan, pembunuhan, penyembelihan, pemenjaraan, penyiksaan, dll

Mereka menganggap semua faksi muhahidin yang tidak mau tunduk dengan mereka sebagai pemberontak yang halal dibunuh, termasuk pembunuhan terhadap pemimpin faksi2 mujahidin lain faksi, para wartawan/jurnalis yang dituduh mata2, dan semisalnya. Lalu mereka sembelih dengan cara divideokan dan disebarkan di media2 mereka, perbuatan yang musuh2 Islam sendiri tidak sampai melakukannya. Semua ini sebagai bukti atas benarnya sabda Nabi ﷺ :

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

“Mereka membantai umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” [Muttafaq alaihi]

  1. Menghalalkan merampas harta kaum muslimin dengan alasan memerangi kelompok2 menyimpang lalu mendistribusikannya dengan cara yang tidak benar. Selain itu mereka juga memonopoli sumber pendapatan umum seperti minyak dan hasil bumi,lalu mendistribusikannya seakan-akan seperti penguasa yang sudah mapan.
  2. Menyempal dari jama’ah kaum muslimin dan membatasi kebenaran hanya pada mereka. Mereka hukumi siapa saja yang menyelisihi mereka, baik itu berupa pemikiran maupun aktivitas sebagai musuh agama. Mereka mengklaim jamaah mereka sebagai khilafah maka wajib semua kaum muslimin membaiat mereka, atau jika tidak maka diperangi atau dipaksa.
  3. Mereka tidak memiliki ulama yang dikenal dan diakui oleh kaum muslimin. Pembesar mereka adalah orang-orang tak dikenal yang didaulat (diklaim) sebagai ulama ahli tsughur, ulama rujukan dalam jihad dan perang.

Kondisi mereka seperti yang digambarkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumâ :

أتيتُكُم من عندِ صحَابَةِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ، مِنَ المهاجِرينَ والأنصارِ، وفيهِم أُنزِلَ، ولَيسَ فيكُم منهُم أحَدٌ

“Saya datang kepada kalian dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, kalangan Muhajirin dan Anshor. Kepada merekalah (ayat-ayat al-Qur’an) diturunkan. Sedangkan TIDAK ADA SATUPUN SAHABAT BERSAMA KALIAN.” [HR Hakim]

  1. Mayoritas pengikut ISIS ini adalah anak-anak muda (shighôris sinn) yang didominasi sifat yang tergesa-gesa, terlalu bersemangat dan mudah diprovokasi (baca : mudah ditipu). Pandangan dan pemikiran yang pendek, intelektualitas rendah dan sedikit ilmunya, sebagaimana disifatkan oleh Nabi kita ﷺ :

حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ

“Usia-usia yang belia dan intelektualitas yang rendah”

Karena itu jangan heran, jika ketidakberadaan alim ulama dan orang bijaksana di dalam golongan mereka, menyebabkan mereka ini ceroboh, serampangan, ngawur, tidak pikir panjang, tidak bisa mempertimbangkan efek dari perbuatannya, ketika mereka melakukan pengkafiran, menvonis murtad, menghalalkan darah, melakukan penghancuran, peledakan dan pembunuhan2, dan semua itu mereka lakukan dengan slogan JIHAD dan MENEGAKKAN KALIMAT ALLAH…

  1. Kebanyakan pengikut ISIS ini adalah orang-orang yang ghurûr (terpedaya dengan diri sendiri) dan merasa superior (muta’âlî) terhadap kaum muslimin. Mereka menganggap bahwa merekalah yang paling berjasa terhadap Islam, satu-satunya mujahidin yang paling benar, merasa yang paling tahu tentang hukum jihad dan problematika di dalamnya, merasa paling bagus amalannya, menyombongkan dirinya dan berbangga2 (tafâkhur) dengan amalan dan aktivitas mereka. Hal ini tidak berbeda dengan yang disabdakan oleh Nabi kita ﷺ :

إِنَّ فِيكُمْ قَوْمًا يَعْبُدُونَ وَيَدْأَبُونَ، حَتَّى يُعْجَبَ بِهِمُ النَّاسُ، وَتُعْجِبَهُمْ نُفُوسُهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguhnya ada diantara kalian sekumpulan orang (kaum) yang beribadah yang mengagumkan, sampai-sampai manusia takjub dengan mereka dan mereka pun takjub dengan diri mereka sendiri. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya.” [HR Ahmad]

Sikap ghurûr (tertipu dengan diri sendiri) dan merasa takjub dengan diri sendiri inilah yang menyebabkan mereka menjadi  lancang dan tidak memiliki rasa hormat terhadap para ulama. Merendahkan mereka, tidak mau mengambil nasehat, hingga akhirnya mereka meninggalkan ilmu dan faham. Pada akhirnya mereka bergerak tanpa bimbingan ulama dan ilmu, mengkafirkan sana-sini, menghalalkan dan menumpahkan darah kaum muslimin, melakukan aksi2 perusakan, peledakan, pengeboman, penghancuran yang diarahkan kepada sesama kaum muslimin. Dan ini semua mereka lakukan dengan slogan JIHAD JIHAD dan JIHAD.

Bahkan terhadap sesama  mujahidin yang tidak mau tunduk dengan khilafah imajiner mereka, maka mereka perangi dan bunuhi. Kaum muslimin yang mereka bantai lebih banyak daripada orang kafir yang mereka tumpahkan darahnya. Sampai-sampai Perhimpunan ulama Syam dan Iraq mengatakan tentang ISIS ini :

فاجتمع في تنظيم (الدولة) من الشر ما لم يجتمع في غيره من الخوارج من قبل، من الاجتماع على الباطل، والامتناع من الانقياد للحق والمحاكم الشرعية، والكذب، والغدر، والخيانة، ونقض العهود، وممالأة أعداء الإسلام، حتى صاروا أخطر على المسلمين والمجاهدين من النظام النصيري الطائفي، وفاقوا الخوارج الأولين شرًا وسوءًا وانحرافًا

“Terkumpul di tanzhim Daulah (ISIS) ini berbagai keburukan yang belum pernah terkumpul pada khowarij sebelumnya, seperti berhimpunnya mereka di atas kebatilan, menolak untuk tunduk kepada kebenaran dan hukum2 syariat, gemar berdusta, menipu, berkhianat, membatalkan perjanjian secara sepihak, meramaikan musuh2 Islam, sampai2 mereka menjadi kaum yang lebih berbahaya bagi kaum muslimin dan para mujahidin ketimbang kaum Nushairi (Syiah) itu sendiri. Mereka serupa dengan khowarij generasi awal dari sisi kejahatan, keburukan dan penyimpangan.”

.وحُكمنا على تنظيم الدولة بأنه من الخوارج، لا يعني بالضرورة الحكم على كل فرد من أفراده بذلك؛ إذ قد يكون فيهم من هو جاهل بحقيقة أقوالهم وحالهم أو مغرر به، إلا أنهم جميعًا من حيث حكم التعامل معهم سواء، فعلينا دفع شرورهم، وحسابهم على الله تعالى

“Kami hukumi bahwa tanzhim Daulah (ISIS) ini adalah termasuk khowarij. Namun bukan artinya hukum ini berlaku bagi setiap individu di dalamnya (otamatis adalah khowarij), karena bisa jadi ada yang jahil dengan hakikat pendapat dan kondisi ISIS sehingga ia tertipu. Hanya saja ditinjau dari sisi hukum berinteraksi dengan mereka secara umum adalah sama saja (yaitu secara umum mereka adalah khowarij), maka wajib bagi kami menolak keburukan mereka dan perhitungannya (hisabnya) kira serahkan kepada Allah.” [Sumber : http://iswy.co/e13kfl]

 

[PENUTUP]

Banyak simpatisan ISIS (atau IS/DI) yang tertipu dengan tanzhim khowarij ini. Mungkin mereka berbaik sangka atau tertipu dengan euforia khilafah imajiner ISIS yang sedang hangat memprogandakan kebaikan2 ISIS. Padahal tokoh2 Jihadis semisal Abu Muhammad al-Maqdisi, Abu Qotadah al-Filisthini, Abu Bashir Musthofa Halimah, Aiman Azh-Zhowahiri, Sulaiman Nashir Ulwan, dll, semuanya mentahdzir ISIS dan menvonis ISIS itu khowarij serta melarang bergabung bersama mereka.

Lucunya, ISISers yang sok tabayun sana sini, sering jatuh pada logical fallacies. Seperti :

[A] STRAWMAN : membuat interpretasi yang salah dari argumentasi lawan agar mudah diserang

Saat mengkritisi kesesatan ISIS, maka ISISers pun teriak“Antum ini menghujat Mujahidin.  Antum anti jihad. Loyal sama orang kafir!!” Please deh…

[B] APPEAL TO EMOTION : menggunakan perasaan/emosi di dalam berargumen ketimbang berargumen logis.

Saat mengkritisi kesesatan ISIS, maka ISISers pun teriak“Apa antum sudah berjihad? Membela wanita dan anak2 Suriah yang setiap hari dibantai??!” antum sendiri gimane?? Beuh…

[C] ARGUMENTUM AD POPULUM : menggunakan argumentasi yang konklusinya mengacu pada sesuatu yang bersifat populer.

ISISers berkata : “ISIS itu berperang melawan orang2 kafir dan murtad, mereka adalah mujahidin. Jadi siapa yang tidak gabung dengan ISIS atau menentangnya, maka bukanlah mujahidin.”

[D] THE RED HERRING : beragumentasi dengan cara mengalihkan dari fokus pembicaraan.

Ketika ulama menfatwakan ISIS itu khowarij, maka ISISers mengundah video2 propagandis ISIS yang menunjukkan kedamaian, kegembiraan anak2, dst. Lalu mengatakan, “apakah ini khowarij??”

[E] ARGUMENTUM AD HOMINEM : berargumentasi dengan cara menjatuhkan dan menyerang citra lawan.

ISISers berkata : “Itu para ulama yang mengkritisi ISIS adalah para qo’idun, shahawah, antek asing, pembela thaghut, dll”

Dst…

Bener kata Nabi kita ﷺ  bahwa kebanyakan mereka ini adalah hudatsa’ul asnân (usianya belia), sufahâ’ul ahlâm (lemah intelektualitasnya), yusinûnal qîl wa yusi’ûnal fi’l (ngomongnya tampak bagus tapi perbuatannya sangat jelek)….

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

 

@abinyasalma