Beranda » Akhlak » IMAM AL-BUKHARI DIKUCILKAN, DITUDUH SESAT, DAN DIUSIR SEBELUM MENINGGAL DUNIA

IMAM AL-BUKHARI DIKUCILKAN, DITUDUH SESAT, DAN DIUSIR SEBELUM MENINGGAL DUNIA

IMAM AL-BUKHARI DIKUCILKAN, DITUDUH SESAT, DAN DIUSIR SEBELUM MENINGGAL DUNIA

Abul Abbas Thobroni
(Mudir Ma’had Nida’us Salam Pekalongan)

 

Nama Imam Al Bukhori sudah sangat masyhur di telinga kita, sosok pakar Hadits terkenal dengan karya beliau Shohih Bukhori yang dijuluki Kitab paling shohih setelah Al Qur’an dan beliau menulisnya selama 16 tahun.

Nama beliau adalah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, lahir pada tahun 194 H meninggal tahun 256 H.

Walaupun yatim sejak kecil, beliau sangat semangat belajar dan keliling dunia untuk mencari ilmu dari para ulama. Bahkan guru beliau lebih dari seribu orang, sebagaimana beliau sendiri bercerita : “Saya telah menulis Hadits seribu delapan puluh (1.080) Ulama dan semua nya adalah Ahlul Hadits” (Fathul Bari : 1/479)

Akan tetapi dibalik keharuman dan ketenaran nama Imam Bukhori sampai sekarang, ada sebuah cerita yang sangat menyedihkan menimpa beliau sebelum meninggal dunia yang perlu kita ketahui.

Ada dua Fitnah yang menimpa Imam Al-Bukhori sebelum meninggal yaitu :
– Masalah yang terjadi Antara beliau dengan salah satu guru beliau yaitu Imam Muhammad bin Yahya adz Dzuhli
– Masalah yang terjadi antara beliau dengan gubernur kota Bukhoro Kholid bin Ahmad Adz Dzuhli

1. Tuduhan sesat yang dialamatkan kepada Imam Al-Bukhari

Imam Al Bukhari ketika datang ke kota Naisabur disambut sangat meriah dan antusias oleh para ulama dan penuntut ilmu, sampai Imam Muhammad bin Ya’qub Al Akhrom berkata : “Aku mendengar sahabat-sahabat ku bercerita bahwa imam Al Bukhari ketika datang di Naisabur beliau disambut oleh empat ribu orang penunggang kuda, belum lagi yang naik onta, keledai, dan yang berjalan kaki” (Siyar A’lamun Nubala : 12/437)

Ketika imam Al Bukhori tinggal di Naisabur dan beliau membuka majelis ilmu, maka para penuntut ilmu memenuhi majelis beliau. Sedangkan majelis ilmu ulama – ulama lain terlihat sangat sepi dan sedikit karena murid-murid mereka pindah ke majelis nya imam Al-Bukhari.

Dari sinilah awal fitnah dimulai, dimana para ulama mulai marah dan murka dibakar oleh hasad dalam diri mereka ketika melihat para penuntut ilmu berbondong-bondong ke majelisnya imam Al-Bukhari. Akhirnya mulailah fitnah, cacian, dan tuduhan sesat dialamatkan ke imam Al-Bukhari. Mereka menghembuskan Fitnah : “Bukhari sesat beraqidah Lafdziyah dengan mengatakan Lafadzku ketika membaca Al Qur’an adalah Makhluk”.

Dan di antara ulama yang marah adalah imam Muhammad bin Yahya adz Dzuhli, ulama senior di Naisabur dan merupakan salah satu guru Imam Bukhari sendiri.

Imam adz Dzhuli mentahdzir imam Bukhori di majelis beliau dan mengHajer (memboikot) beliau, bahkan siapa yang masih belajar kepada beliau tidak luput dari Tahdziran imam adz Dzuhli. Karena kesenioritas dan ketokohan imam adz Dzuhli di Naisabur maka semua penuntut ilmu mulai ketakukan belajar sama imam Al Bukhari sampai akhirnya mereka meninggalkan majelis imam Bukhori dan tidak ada seorang pun yang berani mengungjungi beliau melainkan cuma segelintir orang.

Muhammad bin Ya’qub Al Hafidz bercerita : “Ketika imam Al Bukhari tinggal di Naisabur, maka Imam Muslim adalah orang yang paling sering mendatangi imam Bukhori untuk belajar.
Dan ketika terjadi masalah antara imam Bukhori dengan Imam Dzuhli tentang Fitnah Lafdziyah, maka imam Dzuhli sering menyebut nama Bukhori dalam majelis nya dan melarang manusia untuk belajar kepada nya, bahkan beliau memboikot imam Bukhori sampai Bukhori keluar dari Naisabur.
Hasil dari fitnah ini, mayoritas manusia mulai meninggalkan imam Bukhori melainkan imam Muslim yang masih setia belajar dan berkunjung kepada beliau.
Pada suatu hari sampai berita kepada imam Dzuhli bahwa imam Muslim masih setia belajar sama imam Bukhori, maka ketika imam Dzuhli menyampaikan kajian dan imam Muslim hadir, di akhir kajian Imam Dzuhli berkata : “Siapa yang berbicara masalah Lafdziyah maka tidak halal duduk di majlis ku”.
Akhirnya imam Muslim berdiri dan keluar dari majelis melewati depan para penuntut ilmu, kemudian Imam Muslim pulang dan mengambil semua kitab hasil dari belajar kepada imam Dzuhli dan meletakan kitab-kitab tersebut di depan pintu rumah imam Dzuhli yang membuat beliau semakin murka dan marah” (Mukhtashor Tarikh Damaski : 24/289).

Karena ujian dan fitnah semakin keras menimpa imam Bukhori, akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan kota Naisabur dan ketika beliau pergi tidak ada seorang pun yang mengantar dan berjumpa dengan beliau kecuali hanya Imam Ahmad Bin Salamah an Naisaburiy.

Imam Ahmad an Naisabury berkata : “Saya berkunjung ke imam Bukhori, dan aku berkata : “Wahai Aba Abdillah (Bukhori), orang ini (yaitu Dzuhli) adalah orang yang ditokohkan dan diterima terkhusus di kota ini. Sungguh beliau (Dzuhli) sudah memaksa setiap orang untuk mengikuti ucapannya dalam fitnah ini, dan sudah tidak ada seorang pun yang bisa menasehati dan menghentikannya. Bagaimana pendapat engkau..?”
Imam Bukhori memegang jenggot lalu beliau berkata :

وَأُفَوِّضُ أَمۡرِیۤ إِلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِیرُۢ بِٱلۡعِبَادِ

Dan aku menyerahkan urusanku kapada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Surat Ghofir : 44)

Setelah itu beliau berdo’a :
“Wahai tuhanku sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa aku tidak menghendaki kedudukan di Naisabur dengan cara keji, sombong, dan aku tidak nafsu akan kepemimpinan.
Akan tetapi diriku enggan untuk pulang ke kampung halaman karena dominasi orang-orang yang menyimpang. Sungguh orang ini (Dzuhli) telah mengarahkan permusuhan denganku karena hasadnya terhadap Apa yang Allah berikan kepada ku dan tidak ada motif lain”
Setelah itu beliau berkata :
Wahai Ahmad besok aku akan keluar dari sini supaya meraka berhenti membicarakan fitnah ini karena keberadaan ku“.
Lalu aku mengabarkan semua sahabat-sahabat ku akan berita ini, dan demi Allah tidak ada seorang pun yang keluar mengantar beliau untuk perpisahan selainku. Aku bersama beliau ketika mulai berjalan keluar dari kota ini” (Tarikhul Islam imam Dzahabi : 6/140)Tarikhul Islam imam Dzahabi : 6/140)

Sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah dan berlepas diri dari fitnah ini, maka imam Bukhori menulis aqidah yang ia yakini tentang masalah Lafadz supaya jelas antara yang Haq dengan yang Batil.

Beliau mengarang kitab dengan judul ( خلق أفعال العباد ) “Makhluqnya perbuatan hamba”, dan juga di akhir kitab Shohihnya beliau berkata : ( والقرآن كلام الله غير مخلوق ) “Al Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk”.

Imam Al-Bukhari menjelaskan secara detail bahwa Lafdzi bil Qur’an (Lafadzku ketika membaca Al Qur’an) ada 2 macam :
– Jika yang dimaksud adalah suara dan gerakan lesan maka itu makhluk.
– Jika yang dimaksud adalah ucapan yang dibaca maka itu adalah firman Allah dan bukan makhluk.

Setelah itu terkenal sebuah Qaedah (الصوت صوت القارئ، والكلام كلام الباري ) “Suara adalah suara makhluk, sedangkan ucapan maka itu ucapan Allah”.

Itulah kehidupan dunia dimana semua orang akan diuji oleh Allah, dan sungguh ujian terbesar adalah Fitnah yang datang dari teman dan saudara kita sendiri, fitnah sesama Masyaikh dan ulama, fitnah sesama ustadz yang mengajarkan Aqidah Salaf dan Sunnah, Fitnah sesama penuntut ilmu yang ingin mendapatkan ilmu Nafi’.

Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi di Hari Kiamat, dimana kita datang kepada Allah dengan pahala sholat, shodaqoh, Bacaan Al Qur’an, dll namun pahala tersebut akan dibagi-bagi kepada orang yang kita dzolimi.

Semoga Allah Ta’ala menguatkan persaudaraan dan kecintaan sesama kaum muslimin, dan Allah membersihkan hati kita dari sifat Hasad, Iri, dengki, dan benci kepada seorang muslim. Amin.

Mau dapat Ilmunya ?
Mau dapat pahalanya ?
Silahkan ikuti link dibawah ini dan jangan lupa tag, mention, like, subscribe, follow serta comment

🌐 Web: https://multaqaduat.com
🎬 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
🐝 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
📫 Telegram: https://t.me/multaqaduat
📮 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
💻 Facebook: https://www.facebook.com/multaqa2020/

Share yuk!!! Ikhwah!! Semoga kita dan saudara² mendapatkan faidah ilmu dari yang antum bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi antum yang telah menunjukkan kebaikan.

Semoga istiqomah dan mudah-mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiin…

Jazakumullah khair ala TA’AWUN

User Rating: 4.85 ( 2 votes)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Khulashah dari Tafsir Surat al Qadr

Khulashah dari Tafsir Surat al Qadr Oleh : Abunibal al-Atsary   Atsar yang aneh dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *