Beranda » Artikel » Agar Mudah Memahami Ilmu

Agar Mudah Memahami Ilmu

Agar Mudah Memahami Ilmu

Kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawi, hafizhahullah
16 Jumadal Ula 1443/ 21 Desember 2021

 

بِسْــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Ilmu dalam hal ini adalah ilmu syar’i. Mengapa ini kita bahas? Sebab kita semua sejak kecil sampai tua saat ini selalu berupaya mencari ilmu, ilmu agama, tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Harapan kita menguasai minimal masalah yang sangat lenting bagi pribadi kita di dalam dunia ini, banyak yang kita belum pahami, atau yang lebih parah lagi mengganggap paham tapi pemahamannya keliru.

Mengapa banyak orang yang mencari ilmu puluhan tahun namun pemahamannya keliru?

Ilmu adalah sumber kebaikan. Pemahaman akan agama inii adalah bukti nyata kita dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ini yang menjadi penyebab kita ingin paham agama, ingin memperoleh kebaikan dari Allah, untuk diri sendiri maupun orang lain, dunia maupun akhirat. Multi dimensi kebaikan yang lahir dari agama ini

Allah mentakdirkan kebaikan seseorang dengan cara memahamkan agama yang benar terhadap seseorang tersebut. Akan lahir aqidah yang lurus, akhlak mulia, dakwah, aksi sosial membantu orang lain, yang semuanya lahir dari adanya ilmu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا ومن كفَّ غضبَه ستر اللهُ عورتَه ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ اللهُ قلبَه رجاءَ يومِ القيامةِ ومن مشى مع أخيه في حاجةٍ حتى تتهيأَ له أثبت اللهُ قدمَه يومَ تزولُ الأقدامُ

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan ke hati seorang mukmin, atau engkau hilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada ber-i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan lamanya. Dan siapa yang menahan marahnya maka Allah akan tutupi auratnya. Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia bisa menumpahkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka” (HR. Ath Thabrani 6/139, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/575).

Kita termotivasi akan aksi sosial, yang melahirkan kebaikan di dunia dan akhirt, untuk diri kita maupun orang banyak.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ اَلدُّنْيَا, نَفَّسَ اَللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اَلْقِيَامَةِ , وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ, يَسَّرَ اَللَّهُ عَلَيْهِ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ اَلْعَبْدِ مَا كَانَ اَلْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2699].

Orang yang allah kehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan jadikan orang itu paham dalam agamanya. Maka kita lihat orang yang baik ibadahnya, kuat imannya, baik akhlaknya, dermawan, adalah orang yang sering mengkaji ilmu syar’i.

Maka kita harus mencari cara agar mudah memahami agama ini. Sayangnya puluhan tahun kita belajar ilmu masih belum selalu paham dikarenakan banyak kendala. Diantara caranya agar mudah memahami agama ini terdapat 4 kaidah umum:

1. Ibarat membangun rumah / gedung. Yang pertama kali harus dipersiapkan adalah pondasi yang kokoh. Tergantung bangunan yang akan dibangun tersebut, semakin tinggi pondasi harus kuat. Begitu pula dalam menuntut ilmu. Siapkan pondasi dari bangunan ilmu yang akan di dirikan dalam diri kita. Apa pondasinya? Ketakwaan. Ketakwaan adalah pondasi dari seluruh kebaikan, termasuk pondasi ilmu yang akan kita pelajari. Ketajwaan pondasi bagi segala hal, pondasi bagi amal, ilmu, akhlak. Ketakwaan juga diwasiatkan oleh Allah Ta’ala dari zaman Nabi Adam hingga saat ini. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَنِيًّا حَمِيْدًا

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” QS. An-Nisa'[4]: 131

Maka tak heran apabila nabi ketika diminta nasihat dan bahkan ketika tidak diminta, dan ketika mengutus pasukan di medan perang, beliau mewasiatkan takwa. Dan diantara khutbah pada saat haji wada. Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah saat haji wada’ dan mengucapkan,

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

Bertakwalah pada Allah Rabb kalian, laksanakanlah shalat limat waktu, berpuasalah di bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dari harta kalian, taatilah penguasa yang mengatur urusan kalian, maka kalian akan memasuki surga Rabb kalian.” (HR. Tirmidzi no. 616 dan Ahmad 5: 262. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Dan begitu pula ketika mewasiatkan kepada para sahabat ketika berperang jihad fisabilillah dengan bertakwalah karena dapat mendatangkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian juga para sahabat Rasulullah mewasiatkan ketakwaan, Umar mewasiatkan ketakwaan kepada anaknya, Ali memberi wasiat ketika diminta yaitu bertakwalah kepada Allah.

Mengapa takwa diharuskan dan menjadi pondasi, khususnya dalam ilmu? Ilmu akan menghasilkan tanggung jawab. Pertama, dipelajari. Kedua, diyakini kebenarannya. Ketiga, diamalkan/aplikasikan. Keempat, didakwahkan. Kelima, dibela dan diperjuangkan dari orang kafir dan munafik yang menyesatkan pemahaman umat tentang ilmu, atau upaya untuk menghinakan dan merendahkannya. Inilah bangunan dari ilmu kita.

Tanpa ada pondasi dalam langkah awal dapat tumbang dan berhenti dari upaya memahami ilmu. Ilmu tidak bisa dicari dengan leha-leha, rileks, alakadanya seadanya, harus dalam kesungguh-sungguhan. Dan kesungguh-sungguhan tidak bisa lahir tanpa ketakwaan.

Mengamalkan ilmu itu berat, karena tanpa ketakwaan tidak bisa melakukannya. Begitupun dalam mendakwahan ilmu tanpa ketakwaan pun kita tidak bisa menyampaikannya karena berdakwan lebih beresiko bagi diri didalam menyampaikannya dibandingkan mengamalkannya.

Takwa mempermudah didalam memahami, mencari, dan mengerti tentang ilmu. Baik aspek internal meliputi kecerdasan, daya analisa, ketajaman analisa, dan daya hafal, takwa akan membuat kita jauh lebih cerdas. Dan aspek eksternal Allah yang mengatur. Allah yang memudahkan kita dalam memahami dan memperlajari ilmu, seperti dipertemukan dengan pengajar/guru terbaik, termasuk fasilitas dan biayanya, dan hal ini ada dalan Quran dan Hadits betapa besarnya takwa dalam mendatangkan pertolongan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.” QS. Al-Anfal[8]: 29

Ketika menerang Syaikh Shalih Al-Ustaimin rahimahullah dalam Kitabul ‘ilm, dalam ayat ini ada 3 di faedah penting dalam memahami ilmu.

Pertama, kalau kjamu takwa Allah akan memberikan furqan (ilmu), pembeda antara haq dan batil, maslahat dan mudharat, benar dan salah, iman dan kufur, syirik dan tauhid, sunnah dan bidah, taat dan maksiat. Dan termasuk kedalam kata furqan adalah ilmu, karena ilmu yang bisa membedakan. Maknanya Allah bukakan kepada orangang bertakwa munyang tidak didapatka oleh orang lainnya. Pertambahan hidayah, ilmu, kualitas hafalan dan yang sejenisnya.
Tidak diragukan lagi ketika ilmu bertambah bertambah pula lah marifat dan furqan dia dalam memahami yang haq dan batil, maslahat dan mudharat dan sejenisnya.

Sebagai contoh Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memahami ketika ayat terakhir turun. Beliau sedih dikarenakan memahami sesuatu yang tidak dipahami oleh para sahabat lainnya yang sedang bergembira, karena beliau memahami ketika agama ini sudah sempurna maka tugas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sudah selesai dan sebagai isyarat akhir hidupnya di dunia akan selesai. Ini yang membedakan ketakwaan Abu Bakar As-Shiddiq berbeda dengan sahabat yang lainnya. 81 hari setelah ayat tersebut turun, Rasulullah di panggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu kebalikan dari ketakwaan, ketika takwa berdiri sendiri tanpa al-birr (kebaikan) maka dapat diartikan menaati perintah menjauhi larangan. Dan apabila disandingkan dengan al-birr, makna takwa adalah menjaga diri dari maksiat dosa azab dan murka Allah. Itu yang membuat hati kita dari dosa, terang karena cahaya ilmu, dan menimbulkan efek cerdas.

Imam Syafii rahimahullah ketika oleh Imam Malik rahimahullah dilihat karena sangat cerdas, dan Imam Malik berkata Allah telah menjadikan cahaya di dalam hatimu, dan jangan ditenggelamkan oleh kegelapan maksiat.

Dosa akan mengalangi seseorang dari cahaya ilmu dan diantara dosa tersebut menyebabkan susah mengingat dan cepat lupa.

Imam Al Baihaqi ketika awal sebelum menjadi imam, beliau menuntut ilmu dengan niat demi popularitas dan berakhir gagal karena tidak ikhlas. Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu adalah dosa dan kemaksiatan, maka ketika beliau ikhlas karena Allah dalam menuntut ilmu, kesuskesan didapatkan oleh beliau.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Ketakwa akan melahirkan kesabaran didalam menghadapi apapun, baik hal yang buruk menimpanya, dihujat oleh orang-orang bahkan siksaan dan makian kepada dirinya.

Kedua, Ulet dan kontinyu dalam mencari ilmu, tidak berhenti di tengah jalan, tidak diselingi dengan santai, rileks, karena ilmu sesuatu yang jauh lebih berharga dari dunia dan isinya.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ditanya dengan cara apa memperoleh ilmu, Beliau adalah sebaik-baik penafsir Al-Quran, para sahabat banyak yang menanyakan kepada beliau tentang perjalannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup) saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ. Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai ia keluar.

Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’ jawabku.

‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.

Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi (dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripad aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).

Imam An-Nawawi rahimahullah, ahli fiqih dan hadits, bermahzab syafii, penulis Riyadhus Shalihin, beliau mempelajari ilmu sehari semalam 12 jam.

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.” (Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7: 442).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga mengatakan,

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ النَّافِلَةِ

Menuntut ilmu itu lebih utama dari shalat sunnah.”

Wallahu’alam bishawab.

Akhukum Fillah, Dwiki, hafizhahullah

——————-

Bismillah..

Mau dapat Ilmunya ?
Mau dapat pahalanya ?
Silahkan ikuti link dibawah ini dan jangan lupa tag, mention, like, subscribe, follow serta comment

🌐 Web: https://multaqaduat.com
🎬 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
🐝 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
📫 Telegram: https://t.me/multaqaduat
📮 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
💻 Facebook: https://www.facebook.com/multaqa2020/
💻 Facebook: https://www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
📲 WAgrup Ikhwan MDI : https://chat.whatsapp.com/DLCDjuJ9nJR0Z4uGV53mAn
📲 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
📧 Email : team.media.mdi@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6281320205670

Share yuk!!! Ikhwah!! Semoga kita dan saudara² mendapatkan faidah ilmu dari yang antum bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi antum yang telah menunjukkan kebaikan.

Semoga istiqomah dan mudah-mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiin…

Jazakumullah khair ala TA’AWUN

Multaqa Du’at Indonesia
Forum Kerjasama Da’i Indonesia

User Rating: Be the first one !

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Siapa Saja Tetangga Anda?

Siapa Saja Tetangga Anda?   Bismillahirrahmanirrahim… Di dalam Islam tetangga memiliki kedudukan yang sangat mulia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *