Beranda » Artikel » NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

 

Disampaikan oleh Al-Ustadz Maududi Abdullahhafidzahullah-, tadi malam di bawah pohon kelapa petang hari kala gelap dan remang berpadu antara lampu dan bayang-bayang malam.

1. Target dakwah itu adalah menyampaikan kebenaran dengan akhlak mulia, sehingga jika seseorang menyampaikan dakwah, menyampaikan bahwa yang haq adalah haq, menyampaikan yang bathil adalah bathil, dengan akhlak yang mulia maka target dakwah sudah tercapai.

2. Kita tidak dituntut agar semua orang menerima dakwah kita, karena memang kita tidak akan mampu merubah hati seseorang dari menolak menjadi menerima, seandainya Nabi bisa merubah keadaan seseorang tentu Nabi sangat ingin merubah pamannya (Abu Thalib) menjadi muslim, namun itu tidak terjadi karena tugas berdakwah adalah hanya menyampaikan, perkara apakah orang yang kita dakwahi menerima ataukah menolak itu bukan urusan kita karena memang bukan target kita.

3. Apakah jika ada seorang da`i yang berceramah dengan jamaah sampai ratusan ribu itu artinya ia dipandang berhasil dan hebat di sisi Allah? Tidak. Namun yang lebih berhasil lagi adalah para Nabi dan para Rasul walau pun pengikutnya hanya satu atau dua orang atau bahkan tidak memiliki pengikut, karena yang didakwahkan adalah kebenaran.

4. Jadi agama itu tidak berpandang kepada seberapa orang yang mendengarmu, seberapa orang yang mengikutimu, seberapa orang yang hadir di majelismu, seberapa orang yang berubah setelah ceramahmu. Namun, dakwah berpandang pada seberapa engkau istiqamah untuk menyampaikan kebenaran dan disampaikan dengan akhlaqul kariimah, menyampaikan yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil, yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, yang sunnah adalah sunnah ada yang bid`ah adalah bid`ah, baik kepada orang yang disegani atau pun kepada orang yang dicintai.

5. Ketika seorang da`i menasehati orang lain dengan tujuan agar orang yang didakwahi harus berubah, maka ia telah memiliki target dakwah yang bid`ah. Rasul saja tidak memiliki target itu, lalu siapa anda?, itu artinya anda masuk jebakan setan.

6. Setan jika ingin menjebak manusia ketika menusia itu semangat dalam kebaikan adalah menambah semangatnya agar ia melewati batas, setan tidak mengajak berhenti bahkan mengajak agar melebihi kadar yang sesungguhnya, tujuannya apa? Setan mengetahui jika seseorang melebihi batas maka ia akan sampai pada titik enggan kembali melakukan. Sehingga ketika seseorang merasa telah mendakwahi 10 kali, 20 kali, 30 kali dan orang itu tidak berubah maka ia akan mengatakan: Capek saya,….. Sia-sia perjuangan saya selama ini,… lalu mundur, tak mau lagi menasehati, atau bahkan tak mau bertemu lagi dengan orangnya. Maka ia kembali ke titik nihil, titik nadir, titik paling bawah.

7. Jika target dakwah adalah menyampaikan kebenaran, bertemu 30 kali menyampaikan kebenaran maka 30 kali pula target dakwah tercapai, bertemu 100 kali menyampaikan kebenaran maka 100 kali pula target dakwah tercapai.

8. Seseorang jika target dakwahnya bukan merubah orang lain, namun sebatas hanya menyampaikan, niscaya ia akan bahagia setiap selesai menyampaikan dakwah, ia tidak akan bersedih, tidak akan ada yang namanya bosan, tidak akan ada yang namanya merasa si-sia karena sedikitnya orang yang menerima. Apa yang mesti disedihkan sedangkan target dakwah sudah tercapai.

9. Kenapa nabi Nuh bisa bertahan dalam dakwahnya selama 950 tahun? Karena memahami point ini. Bukan merubah manusia, tapi menyampaikan kebenaran apa adanya. Allah sebutkan tentang ucapan para Nabi kepada kaumnya:

وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ١٧

Artinya: “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. (Surat Yaasiin: 17).

Bukan tugas kami merubah kalian, bukan tugas kami merubah kesalahan kalian menjadi kebenaran, bukan tugas kami merubah kalian dari menyukai bid`ah menjadi mencintai sunnah, itu bukan tugas kami, tapi itu urusan antara kalian dengan Rabb (Tuhan) kalian.

10. Jangan merasa sia-sia walaupun ditentang dengan orang yang didakwahi, tetaplah berlemah lembut kepadanya.

11. Belum kelas kita, atau belum level kita seperti apa yang dilakukan Nabi, yaitu ketika manusia membenci beliau , mencaci maki beliau, berusaha membunuh beliau, manusia meletakkan kotoran Onta di atas kepala beliau dan beliau tetap berbuat baik kepada orang itu. Jika itu terjadi pada kita ketika berdakwah, mungkin yang ada hanyalah tak ada rasa lagi untuk ingin memberi nasehat, memberi kebaikan bahkan tak ada lagi rasa ingin berjumpa. Kenapa? Karena hati kita adalah masih hati yang belum terlatih untuk bisa berbuat sesuatu karena Allah, tapi karena manusia.

12. Dan karena kita masih punya ego tingkat tinggi walau kita merasa diri kita telah tawadhu`, kita masih memiliki rasa harga diri yang harus diperjuangkan. Campakkan harga diri antum! Tak ada yang perlu dibela dari harga diri ini, Rasul saja tak pernah membela harga dirinya. Jika harga diri seperti itu maka sama pula dengan harga diri sebuah nama komunitas, harga diri radio A, harga diri B Mengaji. Marilah kita berusaha mendakwahkan kebenaran ini tujuannya adalah menyayangi dan mengasihi orang-orang yang kita sampaikan kepadanya kebenaran.

13. Allah berfirman:

وَمَا عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنۡ حِسَابِهِم مِّن شَيۡءٖ وَلَٰكِن ذِكۡرَىٰ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ ٦٩

Artinya: “Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa”. (Surat Al-An`am: 69).

Jadi dakwah itu bukan sekedar menyampaikan informasi ini sesat, ini bathil, ini bid`ah, tapi ingin mengajak saudara kita agar mereka menjadi hamba yang bertaqwa.

14. Persaudaraan di kancah dakwah itu wajib, karena persaudaraan itu adalah persaudaraan di atas iman da taqwa, kesadaran di atas ukhuwwah Islamiyyah.

15. Jika seseorang melakukan kegiatan dakwah karena dirinya, maka siap-siaplah akan tersinggung dan meninggalkan kancah dakwah! Namun jika seseorang berbuat karena Allah, sehancur apapun ia disalah-salahkan dalam dakwah itu ia tetap akan lagi dan lagi melakukan dakwahnya. Kenapa? Karena ia berdakwah bukan untuk mendapatkan pujian manusia sehingga tidak akan berhenti hanya karena mendapat hinaan manusia.

16. Kalau lah mesti harus ada nama komunitas, yayasan, sekolah, usahakan nama itu hanya sarana! Bukan sesuatu yang harus dibela.

17. Adanya nama hanya sekedar sarana untuk bisa berdakwah, maka hal yang sangat terbalik jika yang kita bela-bela adalah nama-nama tersebut, kemudian kita campakkan persaudaraan Islam.

18. Persaudaraan di atas agama Islam itulah agama, nama-nama hanyalah sarana pendukung persaudaraan Islam, dan orang-orang yang mempertahankan nama-namanya lalu mencampakkan saudaranya maka orang ini sudah terbalik. Dia fokus pada sarana dan dia abaikan tujuan.

19. Jika ada di antara kita yang hilang persaudaraannya karena nama (komunitas, yayasan, radio, Tv) inilah orang yang terbalik. Harusnya, kita katakan: Saya siap campakkan semua nama-nama asal engkau tetap menjadi saudaraku.

20. Campakkan kalimat-kalimat: Saya A mengaji bukan B mengaji, saya Radio C bukan radio D, saya dan dia tak sama, campakkan yang seperti itu! Sehingga anda yang di komunitas A bisa saling membantu dengan komunitas B, anda yang menjadi sekretaris di yayasan A siap menjadi bendahara di yayasan yang lain jika memang dibutuhkan dan mampu, karena semua nama-nama tersebut hanya sarana. Ketika ada yang harus dicampakkan maka campakkan semua nama-nama ini untuk persaudaraan di atas agama Allah. Karena persaudaraan di atas agama itulah agama. Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ …… ١٠

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara”. (Surat Al-Hujurat: 10).

21. Orang yang sudah mengenal dakwah, sudah membenci syirik, sudah membenci bid`ah, maka yang dilakukan setan kepada mereka adalah agar mereka saling baku hantam.

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Artinya: “Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah orang-orang yang shalat dijazirah arab, tapi ia akan terus mengadu domba diantara mereka”. (Riwayat Muslim no. 5030).

Dan apa yang dikatakan Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam– terbukti. Di awal-awal dakwah rasanya persaudaraan itu begitu erat, namun ketika nama-nama (komunitas/lembaga) sudah banyak maka terjadilah perenggangan yang luar biasa, saling benci, saling menyalahkan. Hati-hatilah dari tipu daya setan melalui pintu ini.

22. Jika dakwah kita disalah-salahkan, bahkan manusia sempurna seperti Nabi Muhammad pun masih ada ummat Islam yang mengatakan: “Berbuat adillah wahai Muhammad, sesungguhnya engkau belum berbuat adil”.

Rasul saja dibegitukan dalam dakwah beliau apalagi kita yang banyak salah.

23. Berhentilah mencari-cari kesalahan saudara kita, jika ingin mencari kesalahan orang, ketahuilah bahwa kita memiliki kesalahan yang lebih luas dari pada lautan.

24. Walau engkau habiskan umurmu untuk mencari kesalahan manusia, sampai mati pun kesalahan manusia itu tidak akan habis engkau selami, bahkan yang ada hanyalah engkau akan mati dari menyelami kesalahanmu sendiri untuk memperbaikinya.

25. Yang harus kita lakukan adalah menyelami kesalahan dan kekurangan kita sendiri untuk kita perbaiki, karena di antara petunjuk akhlak salaf adalah mereka pergi ke tempat saudara-saudaranya, bukan untuk membicarakan kesalahan orang lain namun untuk diberi tahu tentang apa saja kekurangan dirinya, aib dirinya, sehingga ia bisa memperbaikinya.

26. Barangsiapa yang disibukkan dengan memperhatikan aib orang lain sehingga lupa memperhatikan aibnya sendiri maka kata Ibnu Mas`ud inilah orang yang tertipu.

27. Nama-nama komunitas jika tak penting maka jangan dibuat karena itu yang akan memecah belah barisan, dikhawatirkan semakin banyak nama maka setan punya celah untuk masuk di dalam-nama-nama tersebut.

28. Jangan pilih-pilih Ustadz dengan standar mantab dan tidak mantab, lucu dan tidak lucu, terkenal dan tidak terkenal, karena agama ini bukan mantap-mantapan, bukan lucu-lucuan. Dan ustadznya pun yang merasa dirinya kurang diminati jangan berkecil hati, karena ketika seseorang berdakwah karena Allah maka ia tak peduli berapa orang yang hadir, karena yang hadir banyak atau pun yang hadir sedikit sama saja, sama-sama menyampaikan dakwah.

Pernah terjadi di Masjid Nabawi, dahulu kala ketika Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dan Asy-Syaikh Al-Albani masih sama-sama di kota Madinah, majelis Asyaikh Al-Albani ramai yang hadir, majelis Asy-Syaikh bin Baaz sedikit sekali yang hadir. Dan kemudian ada seorang murid yang berkata kepada Asy-Syaikh Ibn Baaz: Wahai Syaikh, kenapa orang-orang meninggalkan majlis antum dan ramai-ramai menghadiri majelis Asy-Syaikh Al-Albani? Kata Asy-Syaikh bin Baaz: Itu adalah karunia Allah yang Allah berikan kepada orang yang Allah inginkan.

Inilah, tidak ada hasad pada Asy-Syaikh bin Baaz kenapa majelis orang lain ramai dan majelis saya tidak, padahal Asy-Syaikh Al-Albani adalah dosen sedangkan aku adalah mudir, tidak ada kebencian demikian pada Asy-Syaikh bin Baaz. (SELESAI RINGKASAN).

Hanya ini yang dapat disadur, dengan beberapa perubahan kata ala penulis, jika ada yang ikut hadir dan merasa ada yang salah dari ringkasan ini silahkan ditegur.

JANGAN DICOPAS, SHARE AJAH!

Abu Uwais Musaddad
Kotaraya, Sulawesi Tengah. Senin 24 Rabii`ul Aakhir 1443 H/ 29 November 2021 M. di Pesantren Minhajussunnah Kotaraya

——————-

Bismillah..

Mau dapat Ilmunya ?
Mau dapat pahalanya ?
Silahkan ikuti link dibawah ini dan jangan lupa tag, mention, like, subscribe, follow serta comment

🌐 Web: https://multaqaduat.com
🎬 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
🐝 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
📫 Telegram: https://t.me/multaqaduat
📮 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
💻 Facebook: https://www.facebook.com/multaqa2020/
💻 Facebook: https://www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
📲 WAgrup Ikhwan MDI : https://chat.whatsapp.com/DLCDjuJ9nJR0Z4uGV53mAn
📲 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
📧 Email : team.media.mdi@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6281320205670

Share yuk!!! Ikhwah!! Semoga kita dan saudara² mendapatkan faidah ilmu dari yang antum bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi antum yang telah menunjukkan kebaikan.

Semoga istiqomah dan mudah-mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiin…

Jazakumullah khair ala TA’AWUN

Multaqa Du’at Indonesia
Forum Kerjasama Da’i Indonesia

User Rating: Be the first one !

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Agar Mudah Memahami Ilmu

Agar Mudah Memahami Ilmu Kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawi, hafizhahullah 16 Jumadal Ula 1443/ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *