Beranda » Akhlak » KISAH ABU DAHDAH DAN UMMU DAHDAH RADHIALLAHU ANHUMA

KISAH ABU DAHDAH DAN UMMU DAHDAH RADHIALLAHU ANHUMA

KISAH ABU DAHDAH DAN UMMU DAHDAH RADHIALLAHU ANHUMA

Oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz

 

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (QS. Al Baqarah: 245)

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Barang siapa meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda, dan baginya pahala yang mulia.” (QS. Al Hadiid: 11)

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

Jika kalian meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipat gandakan (balasan) untuk kalian dengan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.” (Qs. At Taghaabun: 17)

Allah Ta’ala menyebutnya sebagai pinjaman untuk memberitahukan bahwa pahala yang dijanjikan atas perbuatan tersebut pasti akan mereka dapatkan, sebagaimana orang yang meminjam pasti akan mengembalikan pinjamannya.
(Lihat Zaadul Masiir fii ‘Ilmit Tafsir karya Imam Ibnul Jauzi)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Surat Al Hadid ayat 11 menyebutkan,

“Menurut Umar bin Khathab radhiallahu anhu, makna yang dimaksud ialah membelanjakan harta untuk keperluan jalan Allah. Menurut pendapat yang lain, nafkah untuk keperluan anak-anak. Menurut pendapat yang benar, makna ayat ini umum mencakup semuanya. Maka tiap-tiap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan niat yang ikhlas dan tekad yang benar telah termasuk ke dalam makna umum ayat ini.”

Ibnu Katsir menyebutkan,

“Ibnu Abu Hatim mengatakan:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ عَنْ حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قال: لَمَّا نَزَلَتْ: {مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ} قَالَ أَبُو الدَّحْدَاحِ الْأَنْصَارِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُرِيدُ مِنَّا الْقَرْضَ؟ قَالَ: “نَعَمْ يَا أَبَا الدَّحْدَاحِ” قَالَ: أَرِنِي يَدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: فَنَاوَلَهُ يَدَهُ قَالَ: فَإِنِّي قَدْ أَقْرَضْتُ رَبِّي حَائِطِي. قَالَ: وَحَائِطٌ لَهُ فِيهِ سِتُّمِائَةِ نَخْلَةٍ وَأُمُّ الدَّحْدَاحِ فِيهِ وَعِيَالُهَا. قَالَ: فَجَاءَ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَنَادَاهَا: يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ. قَالَتْ: لَبَّيْكَ قَالَ: اخْرُجِي فَقَدْ أَقْرَضْتُهُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ.

telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (membelanjakan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya.” (Al-Baqarah: 245)

Maka Abu Dahdah Al-Ansari berkata, “Wahai Rasulullah, apakah memang Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Benar, Abu Dahdah.” Abu Dahdah berkata, “Wahai Rasulullah, ulurkanlah tanganmu.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengulurkan tangannya kepada Abu Dahdah. Lalu Abu Dahdah berkata, “Sesungguhnya aku meminjamkan kepada Tuhanku kebun milikku.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa di dalam kebun milik Abu Dahdah terdapat enam ratus pohon kurma, sedangkan istri dan anak-anaknya tinggal di dalam kebun itu. Maka Abu Dahdah datang ke kebunnya dan memanggil istrinya, “Hai Ummu Dahdah.” Ummu Dahdah menjawab, “Labbaik.” Abu Dahdah berkata, “Keluarlah kamu dari kebun ini, sesungguhnya aku telah meminjamkan kebun ini kepada Tuhanku.”
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih melalui Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, dari Umar radhiallahu anhu secara marfu’ dengan lafaz yang semisal.”
(Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqarah 245)

Allah Akbar, betapa lembut hati Abu Dahdah radhiallahu anhu! Beliau langsung terkesan dengan Ayat Al Quran yang baru turun dan langsung mempraktekkannya. Saat memanggil istrinya agar keluar dari kebun, Abu Dahdah memanggil dari luar kebun dan tidak memasukinya karena kebun tersebut sudah bukan miliknya.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِفُلَانٍ نَخْلَةً وَأَنَا أُقِيمُ حَائِطِي بِهَا فَأْمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِي حَتَّى أُقِيمَ حَائِطِي بِهَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ فَأَبَى فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ فَقَالَ بِعْنِي نَخْلَتَكَ بِحَائِطِي فَفَعَلَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ابْتَعْتُ النَّخْلَةَ بِحَائِطِي قَالَ فَاجْعَلْهَا لَهُ فَقَدْ أَعْطَيْتُكَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمْ مِنْ عَذْقٍ رَاحَ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ قَالَهَا مِرَارًا قَالَ فَأَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِي مِنْ الْحَائِطِ فَإِنِّي قَدْ بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ فَقَالَتْ رَبِحَ الْبَيْعُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al-Bunani dari Anas, ada seseorang laki laki berkata: “Wahai Rasulullah, si Fulan memiliki pohon kurma yang tumbuh dikebunku yang aku tinggali. Tolong, perintahkan dia agar memberikannya padaku sehingga aku bisa bertempat tinggal di kebunku itu.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata (kepada si Fulan), “Berikan saja pohonmu, dan bagimu pohon kurma di surga.” Sayang ia menolaknya. Lalu Abu Dahdah mendatangi pemilik pohon dan berujar, “Tukarlah pohon kurmamu dengan kebunku”, maka orang itu menyetujuinya. Lalu Abu Dahdah mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah kutukar pohon kurmanya dengan kebunku.” Rasulullah lantas bersabda, ” Dan sekarang berikan pohon kurmamu kepadanya karena aku telah memberikan pohon kurma surga padamu.” Lantas Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Berapa banyak pohon korma yang Abu Dahdah nikmati di surga kelak.” Rasul mengucapkannya berulangkali.
Anas berkata, “Kontan Abu Dahdah mendatangi istrinya dengan berujar ‘wahai Ummu Dahdah keluarlah dari kebun ini. Aku telah menukarnya dengan pohon kurma di surga’. Ummu Dahdah lantas berkomentar, “Beruntunglah perniagaan ini”, atau dengan kalimat yang semisalnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dimuat dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no 2964)

Dr. Raghib Sirjani mengatakan,
“Dalam riwayat lain, tatkala istrinya mendengar ucapan suaminya, ia keluarkan kurma dari mulut anaknya. Dan menumpahkan yang sudah ada di kantong mereka. Mengomentari hal itu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Alangkah banyak tandan besar kurma di surga milik Abu Dahdah.”

Pemilik pohon kurma yang menolak memberikan satu pohon miliknya kepada tetangganya adalah seorang muslim. Perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepadanya merupakan anjuran. Tapi orang tersebut menolaknya. Maka Abu Dahdah yang mendengar percakapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut berharap untuk mendapatkan pohon kurma di Jannah yang otomatis pemiliknya akan masuk Jannah. Abu Dahdah segera memanfaatkan peluang emas ini untuk mendapatkan Jannah, dan menawarkan kepada pemilik pohon kurma tadi agar menjual padanya dengan harga yang menggiurkan, yaitu kebun kurmanya yang berisikan enam ratus pohon kurma.

Kekaguman kita tidak hanya kepada kedermawanan Abu Dahdah radhiallahu anhu yang rela menginfakkan enam ratus pohon kurma untuk mendamaikan dua orang yang berselisih.

Kekaguman kita juga tertuju kepada ketaatan Ummu Dahdah radhiallahu anha kepada suaminya dan dukungan kepada suaminya untuk mendapatkan ridha Allah.
Ummu Dahdah tidak menegur suaminya mengapa tidak menginfakkan tiga ratus pohon kurma saja dan menyisakan tiga ratus pohon kurma untuk masa depan anak-anaknya. Tapi beliau langsung memotivasi suaminya dengan mengatakan bahwa suaminya telah beruntung dengan perdagangan tersebut.

Dr. Raghib Sirjani mengatakan,
“Abu Dahdah gugur di Perang Uhud pada tahun 3 H. Ada pula yang mengatakan ia wafat di rumahnya. Sepulang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H. Ada pula yang mengatakan ia wafat beberapa saat setelah Perang Uhud. Inilah pendapat yang kuat.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.

Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.

Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.

Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Aku memohon kepada-Mu agar menjadikan segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku sebagai kebaikan bagiku.”

(HR. Ahmad 25019, Ibnu Majah 3846 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

——————-

Bismillah..

Mau dapat Ilmunya ?
Mau dapat pahalanya ?
Silahkan ikuti link dibawah ini dan jangan lupa tag, mention, like, subscribe, follow serta comment

🌐 Web: https://multaqaduat.com
🎬 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
🐝 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
📫 Telegram: https://t.me/multaqaduat
📮 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
💻 Facebook: https://www.facebook.com/multaqa2020/
💻 Facebook: https://www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
📲 WAgrup Ikhwan MDI : https://chat.whatsapp.com/DLCDjuJ9nJR0Z4uGV53mAn
📲 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
📧 Email : team.media.mdi@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6281320205670

Share yuk!!! Ikhwah!! Semoga kita dan saudara² mendapatkan faidah ilmu dari yang antum bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi antum yang telah menunjukkan kebaikan.

Semoga istiqomah dan mudah-mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiin…

Jazakumullah khair ala TA’AWUN

Multaqa Du’at Indonesia
Forum Kerjasama Da’i Indonesia

User Rating: 5 ( 1 votes)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA   Disampaikan oleh Al-Ustadz Maududi Abdullah –hafidzahullah-, tadi malam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *