Beranda » Akhlak » Fenomena Meminta-Minta Yang Perlu Diwaspadai

Fenomena Meminta-Minta Yang Perlu Diwaspadai

Fenomena Meminta-Minta Yang Perlu Diwaspadai

 

Faedah dari hadits Nabi صلى الله عليه وسلم.

Tasawwul yaitu mengemis atau meminta-minta.
Tasawwala – تسول (bentuk fi’il madhy dari tasawwul) artinya meminta-minta atau meminta pemberian. (Al- Mu’jam Al-Wasith)

Sebagian ulama mendefinisikan tasawwul (mengemis) ialah upaya meminta harta orang lain bukan untuk kemaslahatan agama melainkan untuk kepentingan pribadi. (Al-Mu’jam Al-Wasith)

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله berkata mengutip perkataan Imam Bukhori: “Bab Menjaga Diri dari Meminta-minta maksudnya adalah meminta-minta sesuatu selain untuk kemaslahatan agama.”(Fathul bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Adapun meminta untuk membantu kesulitan orang lain atau untuk kepentingan umum dan agama adalah boleh.

Seperti kisah Abu Talhah yang menjamu tamu Rasulullah.
Bahwa pada suatu hari ada seorang menemui Nabi صلى الله عليه وسلم di masjid meminta makan, tapi beliau kebetulan tidak punya apa-apa malam itu. Lalu Nabi menawarkan kepada para sahabat untuk menjamunya, maka Abu Tolhahpun berdiri untuk menjamunya.

Ternyata hanya ada satu mangkok saja makanan kata istri Abu Tolhah. Sehingga Abu Tolhah meminta istrinya untuk menyiapkan dua mangkok dan lampupun dimatikan sehingga tamu itu pun makan dan kenyang, sementara Abu Tolhah dan keluarganya menahan lapar semalaman.
Pada keesokan harinya Rasulullah صلى الله عليه وسلم memuji tindakan sahabatnya ini walaupun sahabatnya tidak bercerita,
“Tadi malam, Allah tertawa dan merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua. Lalu Allah menurunkan ayat dalam Surah Al-Hasyr: 9, “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat membutuhkan (atas apa yang mereka berikan). Dan siapa yang dipelihara dari sifat kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang beruntung.” (HR. Al-Bukhari, 3798)

Demikian pula kisah perang Tabuk yang sangat fenomenal melawan pasukan Romawi yang besar, dan terkumpul pasukan kaum muslimin yang besar sebanyak 40 ribu orang, sehingga Nabi صلى الله عليه وسلم meneminta bantuan kepada para sahabat untuk ber-infaq menyiapkan perbekalan yang yang sangat besar untuk membiayai perang itu. (Siroh Nabawiyah Shohihah, DR. Akrom Dhiya Al-Umary)

Meminta-minta sumbangan atau mengemis pada dasarnya tidak disyari’atkan dalam agama Islam.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun melarang umanya untuk meminta-minta. Seorang muslim hanya boleh meggantungkan pengharapan dan pertolongannya kepada Allah semata. Dan menjadikan-Nya sebagai satu-satunya pelabuhan harapan.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ تَكَفَّلَ لِي أَن لا يسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا، وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بالجَنَّة.

“Siapa yang memberikan jaminan kepada-Ku bahwa dia tidak akan meminta sesuatu kepada orang lain. Maka, Aku juga menjamin untuknya surga.” (HR. Abu Daud, 535 dishahihkan Al-Albany)

Adapun orang-orang yang diperbolehkan untuk meminta-minta dalam urusan dirinya sendiri bukan urusan kepentingan umum atau kepentingan agama disebutkan secara jelas dalam hadits Qobishoh.
Diriwayatkan dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq al-Hilali رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

“Wahai Qabiishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”.[HR Muslim (no. 1044), Abu Dawud (no. 1640), Ahmad (III/477, V/60), an-Nasâ`i (V/89-90), ad-Dârimi (I/396), Ibnu Khuzaimah (no. 2359, 2360, 2361, 2375), Ibnu Hibbân (no. 3280, 3386, 3387 –at-Ta’lîqtul-Hisân]

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

——————-

Share, Like, Comment sebagai Ladang Pahala Kebaikan.

Bismillah..

🔰BERSAMA MERAIH SURGA🔰

Ahsanallahu ilaikum, ikhwah fillah dapatkan info TA’AWUN DAKWAH terbaru di sini👇👇👇

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

 Web: https://multaqaduat.com
 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
 Telegram: https://t.me/multaqaduat
 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
 Facebook: www.facebook.com/multaqa2020/
 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
 Wagroup Ikhwwan MDI : https://chat.whatsapp.com/H3dwyDnVH4i2IQxiufE1qp
 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
 Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
 Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN
_⁣⁣⁣___
 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqa Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Waspada Dari Menyerupai Model Orang Kafir

Waspada Dari Menyerupai Model Orang Kafir   Kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan keimanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *