Beranda » Akhlak » Belajar dari Semut dan Nabi Sulaiman Alaihissalam

Belajar dari Semut dan Nabi Sulaiman Alaihissalam

Belajar dari Semut dan Nabi Sulaiman Alaihissalam

Oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz

 

Allah berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari“;

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Maka dia tersenyum gembira karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih“. (Surat An Naml 18 dan 19)

Semut berhusnudzan seandainya Nabi Sulaiman dan tentaranya menginjak kawanan semut, maka hal itu dilakukan tanpa disengaja.

Pelajaran bagi kita untuk selalu bersangka baik kepada orang-orang baik.

Adapun berhati-hati dan waspada kepada orang yang tidak dikenal atau bahkan orang yang dikenal tidak baik bukanlah bersangka buruk.

Nabi Sulaiman Alaihissalam tersenyum kagum kepada ucapan seekor semut yang peduli dan perhatian kepada keselamatan masyarakat semut.

Nabi Sulaiman Alaihissalam gembira dengan karunia yang Allah berikan kepadanya sehingga ia bisa memahami bahasa semut. Beliau bersyukur dan berdoa kepada Allah memohon agar Allah memberikan taufik kepadanya untuk menjadi orang yang bersyukur kepadaNya, beramal shalih yang diridhaiNya dan memasukkannya dengan rahmatNya ke dalam golongan orang-orang yang shalih.

Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini berkata dalam salah satu ceramahnya bahwa konteks kalimat itu mengikat makna tertentu. Seperti firman Allah “فتبسم ضاحكا” yang artinya maka beliau tersenyum gembira. Karena kalau disebut tersenyum saja masih belum jelas artinya. Tersenyum bisa berarti tersenyum gembira yang berarti kagum, tapi bisa berarti juga tersenyum marah.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pernah tersenyum marah kepada sahabat Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu ketika beliau absen dari perang Tabuk. Setelah Allah menerima taubat Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tersenyum gembira dan ridha kepadanya.

Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menyebutkan seorang raja mungkin saja marah ketika mendengar Anda berbicara yang hak, padahal seharusnya ia tidak boleh marah.

Adapun Nabi Sulaiman Alaihissalam tersenyum dengan senyuman orang yang tertawa (artinya beliau kagum kepada semut tersebut disebabkan ucapannya) bukan senyuman orang yang marah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya bahwa “para Nabi alaihimushshalatu wassalam tertawa mereka adalah senyuman. Kebanyakan tertawa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah senyuman. Karena sesungguhnya tertawa terbahak-bahak menunjukkan kurang akal dan adab yang buruk.”
(Taisir Al Karim Arrahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, halaman 603)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata bahwa para Nabi alaihimushshalatu wassalam memiliki adab yang sempurna dan ketika kagum, kagum pada tempatnya.

“Sesungguhnya tidak tersenyum dan tidak kagum kepada sesuatu yang patut dikagumi menunjukkan kekasaran akhlak dan kesombongan.”
(Taisir Al Karim Arrahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, halaman 603)

Sudahkah kita menunjukkan kekaguman kepada istri kita, anak, adik, keponakan, murid, bawahan kita? Sudahkah kita memuji mereka untuk memotivasi?

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat rendah hati, sayang kepada makhluk yang lemah, empati kepada sesama manusia, puas dan rasa syukur kepadaNya yang telah memberikan nikmat yang tidak terhitung banyaknya, aamiin.

Rabu,
21 Syawal 1442 H /
2 Juni 2021 M

——————-

Share, Like, Comment sebagai Ladang Pahala Kebaikan.

Bismillah..

🔰BERSAMA MERAIH SURGA🔰

Ahsanallahu ilaikum, ikhwah fillah dapatkan info TA’AWUN DAKWAH terbaru di sini👇👇👇

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

 Web: https://multaqaduat.com
 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
 Telegram: https://t.me/multaqaduat
 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
 Facebook: www.facebook.com/multaqa2020/
 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
 Wagroup Ikhwwan MDI : https://chat.whatsapp.com/H3dwyDnVH4i2IQxiufE1qp
 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
 Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
 Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Aamiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN
_⁣⁣⁣___
 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqa Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

User Rating: Be the first one !

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Waspada Dari Menyerupai Model Orang Kafir

Waspada Dari Menyerupai Model Orang Kafir   Kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan keimanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *