Beranda » Artikel » RAMADHAN BULAN MEMPERBANYAK DO’A

RAMADHAN BULAN MEMPERBANYAK DO’A

Do’a adalah ibadah bahkan termasuk diantara ibadah yang paling agung.

Allah Ta’ala memerintahkan para hamba Nya untuk banyak banyak berdoa kepadanya :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah : 186).

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina “. (QS Ghofir : 60)

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ia berkata, Rasulullah ahalallahu alaihi wasallam bersabda :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah” (HR Abu Dawud : 1479, Tirmidzi : 3247).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia disisi Allah daripada doa” (HR Tirmidzi : 3375, Ibnu Hibban : 870, Al Hakim 1/490)

Doa yang mulia ini sangat dianjurkan pada musim ibadah yang mubarokah yaitu bulan romadhan.

Keterkaitan bulan romadhan dengan diijabahnya do’a adalah bahwasanya ayat do’a diapit oleh dua ayat puasa romadhan.

Ayat tersebut adalah firman Allah Ta’ala :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah : 186).

Ayat yang mulia tentang do’a diatas, diapit oleh ayat sebelumnya yaitu firman Allah tentang Bulan Ramadhan bulan diturunkannya Al Qur’an dan perintah puasa didalamnya.

Allah Ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al Baqarah : 185)

Adapun ayat setelah nya juga masih tentang puasa dimana Allah membolehkan makan minum serta bersetubuh dengan istri diwaktu malam malam puasa sampai terbitnya fajar.

Allah Ta’ala berfirman :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (maghrib)” (QS Al Baqarah : 187)

Dari ayat diatas menunjukan bahwa Ramadhan adalah bulan untuk banyak banyak berdo’a, hal ini dikuatkan dengan hadits hadits yang shahih bahwa orang yang berpuasa diijabhnya do’anya baik yang berpuasa sunnah secara umum lebih lebih yang sedang berpuasa romadhan kerena keberkahan dan kemuliaan bulan ramdhan yang tidak dimiliki oleh bulan bulan lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ للهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba hamba yang di bebaskan dari neraka di setiap hari dan malam (ramadhan), dan masing masing hamba diantara mereka doanya diijabah” (HR Ahmad, musnad : 7443, disahihkan oleh Al Albani di dalam Shahihul Jaami’ : 2169).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda :

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga golongan manusia yang doanya tidak di tolak, Orang yang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang teraniaya” (HR Tirmidzi : 3598).

Dalam lafadz lain beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda ;

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ : دَعْوَةُ الصَّائِمِ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga golongan manusia yang doanya diijabah, doa orang yang sedang berpuasa, doa orang yang teraniaya, dan doanya orang yang sedang safar” (HR Thabrani, dalam Ad Du’a : 1215)

Dalam lafadz yang lain lagi beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda :

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga golongan manusia doanya tidak di tolak, doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, serta doa nya orang yang sedang safar” (HR Al Baihaqi, Al Kubro 3/345 : 6185)

Hadits hadits diatas menunjukan orang yang sedang berpuasa doanya diijabah tanpa melihat kepada waktu waktu tertentu, selama berpuasa dari mulai terbit fajar sampai maghrib doa mereka diijabah bahkan doa mereka akan senantiasa diijabah selama bulan romadhan, karena bulan ramdhan adalah bulan untuk dianjurkan banyak banyak berdo’a.

Adapun hadits yang berbunyi :

لِكُلِّ صَائِمٍ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ

“Bagi tiap yang berpuasa ketika berbukanya doanya diijabah” adalah hadits yang lemah sebagaimana di katakana oleh syaikh Al Albani didalah silsilah Ad Dha’ifah 9/327 : 4325).

Hal ini menunjukan bahwa doa orang yang sedang puasa itu mustajab secara mutlak tidak dikhususkan saat berbuka puasa saja akan tetapi sepanjang hari ia berpuasa dari sejak terbit fajar shadiq sampai terbenamnya matahari doa doa mereka diijabah oleh Allah Ta’ala , maka marilah gunakan kesempatan berharga ini, untuk memperbanyak berdoa memohon kepada Allah, apalagi pada masa masa yang sulit seperti sekarang ini, Wallahu waliyyut Taufiq.

Abu Ghozie As Sundawie

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *