Beranda » Artikel » KIRAIN BATAL PUASANYA (bag-2)

KIRAIN BATAL PUASANYA (bag-2)

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie

[2] Bersiwak.

Siwak artinya bisa untuk menunjukan kata perbuatan menggosok mulut, untuk membersihkan gigi, lisan dan gusi, dan bisa untuk arti alatnya yaitu siwak atau akar kayu araak.

Menggosok gigi dengan siwak dan selainnya seperti sikat gigi , namun yang paling utama menggunakan siwak adalah sangat dianjurkan dalam semua keadaan baik ketika sedang berpuasa ataupun tidak puasa, terutama ketika berwudlu dan hendak shalat. (Tanbih al Afham, hal. 66)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali shalat” (HR Bukhari no. 847, Muslim no. 252).

Dalam lafadz lain :

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu”. (HR Ahmad : 7504, 7406, shahihul Jaami’ : 5318).

Dari Aisyah bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda :

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak itu membersihkan mulut dan diridhai oleh Allah” (HR An Nasai no. 5, shahih sunan An Nasai, no. 5)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma juga mengabarkan hal yang senada dari Nabi shalallahu alaihi wasallam :

عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ ، فَإِنَّهُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ.

“Seharusnya bagi kalian untuk ber-siwak. Karena dengan bersiwak akan membaikkan (membersihkan) mulut, diridhai oleh Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala.” (HR. Ahmad 2/109, lihat Ash-Shahihah no. 2517)

Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim hafidzahullah berkata :

السِّوَاكُ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ شَرْعًا كَمَا تَقَدَّمَ وَلَمْ يَرِدْ نَصٌّ بِمَنْعِهِ لِلصَّائِمِ بَلْ قَدْ وَرَدَتْ أَحَادِيْثُ بَعْضُهَا يُثْبِتُ مَشْرُوْعِيَّةَ الْاِسْتِيَاكِ لِلْصَائِمِ وَأُخْرَى تَحُضُّ عَلَيْهِ فِيْ الصِّيَامِ لَكِنَّهَا ضَعِيْفَةٌ لَا تَثْبُتُ فَالْأَصْلُ إِبَاحَةُ السِّوَاكِ وَلَوْ كَانَ مُفَطِّرًا لَبَيَنَّهُ النَّبِيُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَنَقَلَهُ أَصْحَابُهُ مَعَ عُمُوْمِ الْبَلْوَى.

Bersiwak dianjurkan oleh Syari’at sebagaimana sudah berlalu pembahasannya, dan tidak ada dalil khusus yang melarang bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa. Bahkan telah datang hadits hadits yang sebagiannya menetapakan pensyariatan bersiwak bagi yang berpuasa, dan hadits yang lainnya mendorong atasnya dalam berpuasa, namun haditsnya dha’if tidak shahih. Maka hukum asal boleh bersiwak seandainya dengan bersiwak ini membatalkan puasa, niscaya Nabi shalallahu akan menjelaskannya dan para shabat akan menukilkan riwayatnya karena banyaknya manusia melakukannya.

وَقَدِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى جَوَازِ السِّوَاكِ لِلصَّائِمِ إِلَّا أَنَّ الشَّافِعِيَّةَ وَالْحَنَابِلَةُ اسْتُحِبُّوْا تَرَكَ السِّوَاكَ لِلصَّائِمِ بَعْدَ الزَّوَالِ لِلْإِبْقَاءِ عَلَى رَائِحَةِ الْخُلُوْفِ الَّتِيْ هِيَ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ.

Sepakat para ulama atas bolehnya bersiwak bagi yang berpuasa hanya saja Madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah menganjurkan agar meninggalkan bersiwak setelah tergelincir matahri supaya tetapnya bau mulut yang hal itu merupakan aroma yang lebih wangi daripada minyak kasturi disisi Allah, dan pendapat yang kuat adalah boleh bersiwak disetiap waktu (Shahih Fikih Sunnah, 2/117)

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata :

التَّسَوُّكُ سُنَّةٌ لِلصَّائِمِ كَغَيْرِهِ فِيْ أَوَّلِ النَّهَارِ وَآخِرِهِ.

“Bersiwak bagi yang berpuasa itu sunnah sebagaimana bagi yang lainnya baik di awal siang ataupun di akhirnya” (Majmu’ al Fatawa 19/228)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bersiwak untuk orang yang puasa ataupun yang lainnya, hal ini sebagai dalil bahwa bersiwak itu diperuntukkan bagi orang yang puasa dan selainnya ketika wudlu dan shalat. (Lihat Fathul Bari 4/158, Shahih Ibnu Khuzaimah 3/247, Syarhus Sunnah, Al Baghowi 6/298)

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata : “Para Ulama kita telah mengatakan tidak sah satu hadits pun tentang hukum bersiwak bagi orang yang berpuasa. Tidak ada yang menetapkan dan tidak ada yang meniadakan. Hanya saja Nabi shalallahu alaihi wasallam menganjurkan bersiwak setiap kali berwudlu’ dan setiap akan shalat secara umum, tanpa membedakan antara orang yang berpuasa ataupun tidak.” (shahih Ibnu Khuzaimah 3/247, syarhus Sunnah 6/298)

Faedah :

Apakah boleh menggosok gigi pakai pasta gigi saat sedang berpuasa ?

Maka jawabannya boleh selama aman dari menelan sesuatu dari pasta gigi tersebut, walaupun afdhalnya untuk meninggalkannya diwaktu siang dan menggunanakannya di waktu malam. (Shahih Fikih Sunnah, 2/117)

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وَقَالَ بن سِيرِينَ لَا بَأْسَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ قِيلَ لَهُ طَعْمٌ قَالَ وَالْمَاءُ لَهُ طَعْمٌ وَأَنْتَ تُمَضْمِضُ بِهِ

Ibnu Sirin berkata, “Tidak mengapa bersiwak dengan siwak yang segar”. Lalu dikatakan kepadanya, ‘”Ia ada rasanya”, Beliau menjawab, “Air pun ada rasanya sementara engkau berkumur dengannya” (Fathul Bari 4/154)

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya tentang masalah ini maka beliau pun menjawab :

لاَحَرَجَ فِيْ ذَلِكَ مَعَ التَّحَفُظِ عَنِ ابْتِلاَعِ شَيْءٍ مْنْهُ كَمَا يُشْرَعُ اسْتِعْمَالُ السِّوَاكُ لِلصَّائِمِ .

“Tidak mengapa hal itu (menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi) selama menjaga tertelannya sesuatu darinya sebagaimana disyari’atkannya bersiwak bagi orang yang sedang berpuasa” (Fatwa Ibnu Baaz 4/247).

Bersambung……

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *