Beranda » Artikel » KIRAIN BATAL PUASANYA (bag-1)

KIRAIN BATAL PUASANYA (bag-1)

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie

Orang yang memahami agamnya dengan baik pasti tidak akan ragu bahwa agama yang mulia ini memberikan kemudahan kepada para hamba Allah dan tidak menghendaki kesulitan. Islam telah membolehkan beberapa perkara bagi orang yang berpuasa. Apabila beberapa perkara ini di kerjakan maka ia tidaklah membatalkan puasanya,diantara perkara perkara tersebut :

[1] Memasuki Waktu Subuh Dalam Keadaan Junub.

Apabila seseorang junub dimalam hari baik karena jima’ dengan isterinya atau karena mimpi basah, lalu dipagi harinya akan berpuasa maka puasanya sah, walaupun mandinya setelah terbit fajar.

Hal ini berdasarkan haditsnya ‘Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anhuma.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ، وَيَصُومُ

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian beliu mandi dan berpuasa” (Hadits Riwayat Bukhari : 1925, 1926, 1930, 1931 dan 1932, Muslim : 1109).

Dalam riwayat lain disebutkan secara spesifik terjadi di bulan romadhan :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُدْرِكُهُ الفَجْرُ فِي رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ حُلْمٍ، فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

“Nabi shalallahu alaihi wasalalm mendapati waktu subuh dalam keadaan junub pada bulan Ramadhan bukan karena mimpi basah, lalu beliau mandi dan berpuasa” (HR Bukhari : 1930)

Dari Aisyah radhiyallahu anha ia menuturkan :

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِيهِ، وَهِيَ تَسْمَعُ مِنْ وَرَاءِ الْبَابِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ، أَفَأَصُومُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَأَنَا تُدْرِكُنِي الصَّلَاةُ وَأَنَا جُنُبٌ فَأَصُومُ» فَقَالَ: لَسْتَ مِثْلَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، فَقَالَ: «وَاللهِ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي»

“Bahwasanya Ada seorang lelaki yang datang kepada nabi shalallahu alaihi wasallam meminta fatwa , sementara Aisyah mendengar dari balik pintu. lelaki itu berkata, Wahai Rasulullah aku mendapati shalat (waktu subuh) dalam keadaan junub, apakah aku boleh berpuasa? maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku pun pernah mendapati shalat (waktu subuh) dalam keadaan junub maka akupun berpuasa. lelaki itu berkata, engkau berbeda dengan kami wahai Rasulullah , Allah mengampuni dari dosa mu apa yang telah berlalu dan yang akan datang. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda “Demi Allah, sesungguhnya aku berharap yang paling takut diantara kalian dan yang paling tahu diantara kalian dengan apa yang aku takuti itu” (HR Muslim : 1110)

Al Imam Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani berkata :

هَذِهِ الْأَحَادِيثُ اسْتَدَلَّ بِهَا مَنْ قَالَ : إنَّ مَنْ أَصْبَحَ جُنُبًا فَصَوْمُهُ صَحِيحٌ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ أَنْ تَكُونَ الْجَنَابَةُ عَنْ جِمَاعٍ أَوْ غَيْرِهِ ، وَإِلَيْهِ ذَهَبَ الْجُمْهُورُ ، وَجَزَمَ النَّوَوِيُّ بِأَنَّهُ اسْتَقَرَّ الْإِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ .

Hadits hadits tersebut dijadikan dalil oleh orang yang berpendirian bahwa orang yang pagi pagi dalam keadaan junub itu puasanya tetap sah dan tidak wajib mengqadha, tanpa membedakan apakah junubnya itu karena jima’ ataupun lainnya, yang berpendapat demikain adalah mayoritas para ulama dan Imam An Nawawi memastikan bahwa yang demikain itu adalah sudah menjadi ijma’ para ulama. (Nailul Authar 4/252)

Demikian pula masuk dalam masalah ini wanita yang haidh dan nifas apabila darah mereka sudah berhenti diwaktu malam lalu masuk waktu subuh maka hendaklah mereka berpuasa walaupun mandinya setelah masuk waktu subuh. (Ahaditsu shiyam ahkam wa adab, syaikh Abdullah Al Fauzan, hal. 107).

Syaikh Sa’id bin Wahaf al Qahthani rahimahullah berkata :

اَلْحَائِضُ وَالنُّفَسَاءُ إِذَا رَأَتْ الطُّهْرَ وَانْقَطَعَ حَيْضُهَا أَوْ نِفَاسُهَا مِنَ الْلَّيْلِ، وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَنْقَطِعَ قَبْلَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ، وَلَكِنْ لَيْسَ لَهَا تَأْخِيْرُ الْغُسْلِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ، بَلْ يَجِبُ عَلَيْهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَتُصَلِّيَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ

(Boleh juga berpuasa) bagi Wanita haidh atau nifas apabila suci dan terputus darah haidh atau nifasnya sejak malam dengan syarat harus benar benar berhenti darahnya sebelum terbit fajar, namun tidak boleh mengakhirkan mandinya sampai terbit matahari bahkan hendaklah ia mandi lalu shalat sebelum terbit matahari (Al Mughni, Ibnu Quadamah 4/393, Majmu’ Fatwa Bin Baaz 15/277, dinukil dari As Shiyam fil Islam, hal. 282)

Bersambung …….

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *