Beranda » Akidah » Jangan Abaikan Hak-hak Tetangga, Agar Tidak Terhalang Masuk Sorga

Jangan Abaikan Hak-hak Tetangga, Agar Tidak Terhalang Masuk Sorga

Oleh:
Ust. Hasan Ubaydillah
==========

Islam menempatkan Akhlak pada posisi yg teramat tinggi, dan menjadikannya sebagai penentu nasib baik buruk seseorang dalam kehidupan mendatang di akhirat.

Mulai dari akhlak yg bersifat pertikal, antara manusia dengan Sang Penciptanya hingga akhlak yg bersifat horizontal, antara sesama manusia.

Keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi dan berkaitan. Sekalipun seseorang itu bagus dalam melaksanakan akhlak pergaulan dengan Sang Penciptanya maka belum tentu dia akan mendapatkan kebaikan dan terhindar dari bahaya yg mengancam jika tidak mengamalkan akhlak pergaulan dengan sesamanya.

Diantara perkara terkait akhlak pergaulan yg sangat besar pengaruhnya terhadap nasib seseorang ialah akhlak bergaul dengan tetangga.
Inilah yg banyak manusia melalaikannya dan menyepelekannya.

Allah ﷻ berfirman ;

“وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ
وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا
وَبِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ
وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ
وَٱلۡمَسَـٰكِینِ
وَٱلۡجَارِ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ
وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ
وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ
وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ
وَمَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۗ
إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالࣰا فَخُورًا”

Artinya:
” Beribadahlah kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dgn sesuatu apapun,
Berbuat baiklah kepada ;
Kedua orang tua,
Karib kerabat,
Anak-anak yatim,
Orang-orang miskin,
Tetangga yg ada hubungan kekerabatan maupun yg tidak ada hubungan kekerabatan,
Pengembara/perantau,
Dan budak-budak yg kalian miliki.

Sesunggunya Allah tidak menyukai orang yg menyombongkan diri dari beribdah kepada(Nya) lagi tinggi hati merendahkan (orang lain)”.
(QS An-Nisaa 36)

Rasulullah ﷺ bersabda:

ما زالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارِ، حتّى ظَنَنْتُ أنَّه سَيُوَرِّثُهُ

” Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang (hak-hak) tetangga, hingga aku mengira Dia akan menjadikannya termasuk ahli warisnya”.
(HR Bukhori, no. 6015)

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, dia berkata:

سمعتُ رسولَ الله ﷺ وهو على ناقتِه الجدعاء في حجة الوداع، يقول: أُوصيكم بالجارِ، حتى أكثرَ،
فقلتُ: إنه يُوَرِّثُه.

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sembari duduk diatas kendaraan beliau yg bernama Jad’aa pada saat Haji Wadaa’ :

” Aku wasiatkan kepada kalian ( akan hak-hak) tetangga”, berkali-kali (beliau uacapkan). Hingga aku mengira dia akan menjadikan tetangga itu termasuk dari ahli waris.
(Hadits Shohih, Shohih Targhib 2573)

Begitu seringnya Malaikat Jibril berwasiat kepada Rasulullah ﷺ tentang hak-hak tetangga menunjukan begitu penting dan besarnya permasalahan terkait hak-hak tetangga.

Begitu juga, ketika Rasulullah ﷺ berkali-kali mengulangi wasiat beliau kepada kaum muslimin pada momentum yg sangat sakral yaitu pada saat Haji Wadaa’. Dimana pada saat itu disampaikan pesan-pesan terakhir Beliau ﷺ kepada segenap kaum muslimin. Yg menunjukan betapa pentingnya permasalahan terkait hak-hak tetangga dan tidak boleh disepelakan.

Menunaikan hak-hak tetangga ada keterkaitan yg sangat kuat dengan keimanan kepada Allah ﷻ dan Hari Akhir.

Rasulullah ﷺ bersanda :

مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إلى جارِهِ،

” Barang siapa beriman kepada Allah ﷻ dan Hari Akhir hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya”.
(HR Bukhori, no. 6016 dan Muslim no. 48)

Terkait berbuat baik kepada tetangga Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada Abu Dzar. Beliau ﷺ bersabda :

“يا أبا ذَرٍّ إذا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فأكْثِرْ ماءَها، وتَعاهَدْ جِيرانَكَ”.

“Wahai Abu Dzar, bila kamu masak gulai, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetangga-tetanggamu yg membuthkan”.
(HR Muslim no. 2625 )

Berbagi makanan termasuk bentuk kepedulian berbuat baik kepada tetangga. Namun tidak sebatas itu. Tidak hanya sebatas masak gulai barulah saat itu berbuat baik kepada tetangga. Tidak begitu.
Ada poin yg lebih mendasar yg bisa dicungkil dari pesan Rasullah ﷺ kepada Abu Dzar dari sekedar berbagi gulai. Apakah itu ?
Yaitu, berbagi kebahagiaan kepada tetangga. Disaat bahagia hendaklah seseorang berbagi kebahagian kepada tetangganya.
Sebab, gulai termasuk makanan yg istimewa dan lezat. Ketika orang sedang memasak dan memakan makanan yg istimewa dan lezat berarti dia sedang berbahagia.
Oleh karena itu, berbagilah kebahagian kepada tetangga.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ menegaskan pula dengan sabdanya :

“ما آمن بي من بات شبعانَ وجارُه جائعٌ بجنبِه وهو يعلمُ به”.

“Tidak beriman kepadaku orang yg bermalam dalam kondisi perut kenyang sementara dia tahu tetangganya kelaparan”.
(HR Thabrani 1/259. Lihat : Silsilah Shohihah 1/279)

” ليس المُؤْمِنُ الَّذي يَشْبَعُ وجارُهُ جائِعٌ”.

” Bukan orang beriman orang yg selalu kenyang (perutnya) sementara tetangganya kelaparan”.
( Hadits Shohih. Lihat Shohih Targhib 2562)

Berrbuat kebaikan kepada tetangga melalui berbagai aksi kepedulian sosial belumlah cukup dlam rangka menunaikan hak-hak tetangga, namun harus dibarengi dengan komitmen tidak berbuat buruk atau tidak berbuat jahat atau tidak menyakiti tetangga.
Sebab, adakalanya seseorang itu berbuat baik kepada tetangganya, dengan bertutur sapa, beramah tamah, berbagi makanan dan sebagainya, namun dibelakng itu semua dia menyakiti tetangganya dengan menggunjingnya, menjelek-jelekannya, menfitnahnya, mengambil barang miliknya, atau menipunya dan sebagainya.

Oleh karena itu harus sejalan antara berbuat baik dengan tidak berbuat jahat atau menyakiti tetangga. Dan tidak cukup hanya berbuat baik saja dalam rangka menunailan hak-hak tetangga.

Maka dari itu, dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda :

“مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فلا يُؤْذِي جارَهُ”

“Barang siapa beriman kepada Allah ﷻ dan Hari Akhir janganlah dia mengganggu, berbuat jahat dan menyakiti tetangganya”.
(HR Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa seseorang mengaduh kepada Rasulullah ﷺ dengan mengatakan :

إن لي جارًا يُؤذيني،

“Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya aku punya tetangga yg selalu berbuat jahat kepadaku”.

Kemudian Rasulullah ﷺ menyuruhnya melakakukan sesuatu melalui sabda beliau ﷺ :

“أخرِج متاعَكَ فضعهُ على الطَّريقِ”.

” Keluarkan barang perabot rumahmu kemudian taruhlah di jalanan”.

Orang itu lantas mengambil barang perabot rumahnya dan melatakannya dijalanan.

Hal itu membuat setiap orang yg melintas bertanya :
“Kena apa kamu ini ?”

Orang itu menjawab :
” Tetanggaku selalu berbuat jahat kepadaku “.

Kemudian orang yg melintas itu mengucapkan doa :

اللَّهمَّ العَنهُ، اللَّهمَّ أخزِهِ !

” Ya Allah, laknat dan hinakanlah tetangganya itu!”.

Akhirnya datanglah tetangganya dan berkata :
” Kembalilah ke rumahmu, dan aku tak akan berbuat jahat lagi kepadamu selamanya”.
(HR Bukhori di Kitab Al-Adabul Mufrod 1/56, Hakim di Kitab Al-Mustadrak 4/173. Sanadnya Shohih )

Orang yg buruk dan jahat prilakunya terhadap tetangga, bukanlah orang beriman yg sejati, bahkan bisa disebut sebagai orang yg kurang imannya.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“ليس المؤمِنُ الذي لا يأمَنُ جارُهُ بوائِقَهُ”

” Orang beriman itu bukanlah orang yg suka membuat tetangganya merasa tidak nyaman oleh kejahatannya”.
(Hadits Shohih. Lihat Shohih Jaami’ 5380)

“واللهِ لا يُؤمنُ، و اللهِ لا يُؤمنُ، و اللهِ لا يُؤمنُ، الذي لا يأمنُ جارُه بوائِقُه”.

“Demi Allah, tidaklah beriman,
Demi Allah tidaklah beriman,
Demi Allah, tidaklah beriman,
Yakni, orang yg tetangganya tidak merasa aman oleh kejahatannya”.
(Hadits Shohih. Lihat Shohih Jaami’ 7102)

Tidak sekedar vonis iman yg kurang, orang yg tidak menunaikan hak-hak tetangganya diancam tidak akan masuk sorga bahkan masuk neraka sekalipun banyak amal ibadah dan kebaikannya.

Rasulullah ﷺ :

” لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَن لا يَأْمَنُ جارُهُ بَوائِقَهُ”.

” Tidak masuk sorga orang yg membuat tetangganya merasa tidak aman oleh kejahatannya”.
(HR Muslim no. 46)

قيل للنبيِّ ﷺ:
يا رسولَ اللهِ إنَّ فلانةً تقومُ الليلَ وتصومُ النهارَ وتفعلُ وتصدَّقُ وتُؤذي جيرانَها بلسانِها ؟

فقال رسولُ اللهِ ﷺ:
“لا خيرَ فيها هي من أهلِ النَّارِ”.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya:
Wahai Rasulullah ﷺ, Sungguh ada seorang wanita yg rajin sholat malam, rajin puasa, suka berbuat kebaikan dengan bersedekah,
Sementara itu dia suka menyakiti tetangganya dgn lisan (mulut)nya ?

Rasulullah ﷺ menjawab :
” Tidak ada kebaikan pada wanita (seperti) itu, dia termasuk penghuni neraka”.
(HR Ahmad no. 9675. Lihat Silsilah Shohihah no. 1/369)

Oleh karena sangat berbahayanya perilaku buruk terhadap tetangga, kita dianjurkan untuk memohon perlindungan diri kepada Allah dari tetangga yg berperilaku buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“تعوَّذوا باللهِ مِن جارِ السُّوءِ في دارِ المقامِ، فإنَّ جارَ الباديةِ يتحوَّلُ عنكَ”.

” Mohonlah perlindungan kepada Allah ﷻ dari tetangga yg berperilaku buruk dan jahat diantara warga asli tempatan. Sebab warga pendatang yg tinggal sementara kejahatannya (bilapun ada) akan pergi seiring dgn kepergiannya”.
(HR Nasai no. 5512. Lihat Shohih Nasai 5517)

Sudah sepatutnya, setiap muslim, apapun status sosialnya, baik kaya ataupun miskin, pejabat berpangkat ataupun orang melarat, tokoh agama atau orang biasa, harus memperhatikan hak-hak tetangganya dengan berbuat kebaikan, tidak berbuat jahat, menghormati dan menghargai, baik tetangganya itu orang muslim ataupun kafir, orang kaya atau orang miskin, pejabat berpangkat ataupun rakyat jelata, semua harus diperlakukan dengan baik selama mereka masih sebagai tetangga.

Jauhkan sifat angkuh dan tinggi hati, egois dan tak mau peduli.

Allah ﷻ berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالࣰا فَخُورً

” Sesunggunya Allah ﷻ tidak menyukai orang yg menyombongkan diri dari beribdah kepada(Nya) lagi tinggi hati merendahkan (orang lain)”.
(QS An-Nisaa 36)

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *