Beranda » Artikel » TENTANG TAUBAT & ISTIGHFAR

TENTANG TAUBAT & ISTIGHFAR

Taubat dan istighfar dari dosa yang dilakukan oleh seorang mu’min di saat ia sedang berusaha menuju kepada Allah ta’alah adalah suatu keniscayaan. Karena hal itu diperintahkah oleh Al Quran, dianjurkan oleh sunnah, serta disepakati kewajibannnya oleh seluruh ulama kaum muslimin.

Nah, untuk menghayati urgensi taubat dan istighfar maka kami akan ketengahkan cerminan salaf berikut ini dengan harapan bisa menjadi motivasi kita semua untuk mewujudkan dengan sesungguhnya selama hidup kita :

1. Dari Sahl bin Abdullah –semoga Allah meridhainya- berkata: “Barangsiapa yang berkata bahwa taubat adalah tidak wajib maka ia telah kafir, dan barangsiapa yang menyetujui perkataan seperti itu maka ia juga kafir”. Dan ia berkata: “Tidak ada yang lebih wajib bagi makhluk dari melakukan taubat, dan tidak ada hukuman yang lebih berat atas manusia selain ketidaktahuannya akan ilmu taubat, dan tidak menguasai ilmu taubat itu.” (Disebutkan oleh Abu Thalib Al Makki dalam kitabnya Quut Al Qulub, juz 1 hal. 179).

2. Dari Yunus bin Khabab –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Telah berkata kepadaku Mujahid dan ia adalah saudaraku: “maukah kamu aku kabarkan tentang orang yang sering bertaubat lagi terjaga? Aku menjawabnya: iya mau. Ia berkata: yaitu seorang laki-laki yang mengingat-ingat dosanya, apabila ia sendirian, ia memohon ampunan untuk dosanya”. (Az Zuhud 452).

3. Dari Fudhail bin Iyadh –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Setiap kesedihan akan sirna kecuali kesedihan seorang yang bertaubat”. ( Hilyatul auliya 8/101).

4. Dari Ja’far –semoga Allah merahamtinya- ia berkata: Sa’id bin Jubair pernah ditanya: siapa manusia yang paling beribadah? Ia berjawab: “Seorang yang merasa terluka karena dosa-dosa, maka setiap kali ia ingat dosa-dosanya, ia merasa kecil perbuatannya (amalnya)”. (Sifat As Shafwah, 2/665).

5. Dari Abi Malih –semoga Allah merahamtinya- ia berkata: aku mendengar Maimun bin Mahran berkata: “Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali bagi dua orang, yaitu orang yang bertaubat dan orang yang beramal demi mencapai derajat. (Hilyatul Auliya’, 4/83).

6. Dari ‘Aun bin Abdillah –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Bermajelislah dengan orang-orang yang suka bertaubat, karena mereka sebaik-baik manusia yang paling lembut hatinya”. (Hilyatul Auliya 4/249).

7. Dari Aun bin Abdillah bin Utbah –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Perhatian seorang hamba terhadap dosanya akan mendorongnya untuk meninggalkannya. Dan seorang hamba akan senantiasa memperhatikan dosa yang menimpanya sehingga hal itu akan lebih bermanfaat baginya daripada sebagian kebaikannya. (Hilyatul Auliya, 4/251).

8. Dari Al Hasan –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sesungguhnya seseorang hamba yang berbuat dosa dan ia tidak bisa melupakannya serta ia akan selalu merasa ketakutan darinya sehingga ia masuk surga. (Az Zuhud : 338).

9. Dari Yunus bin Ubaid bin Bakr bin Abdullah –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sungguh kalian selalu memperbanyak dosa, maka perbanyaklah istigfar, dan seseorang apabila berbuat dosa kemudian ia melihat pahala istighfar maka ia akan merasa senang dengan kedudukannya. ( Az-zuhud : 129).

10. Dari Malik bin Mughal –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Aku mendengar Abu yahya berkata : “Aku mengeluh kepada Mujahid akan dosa-dosaku, maka ia berkata: di manakah kamu dari penghapusnya? Maksudnya adalah istighfar”. (Az-Zuhud : 455).

11. Dari Abu Minhal –semoga Allah merahtinya- ia berkata: “Tidaklah seorang hamba berdiam dengan baik di kuburanya melainkan dengan istighfar yang banyak” ( Az-Zuhud : 396).Dari Abdullah bin Syaqiq –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Orang itu ada tiga macam, pertama yaitu orang yang beramal kebaikan dan ia mengharap pahala dari kebaikannya tersebut, kedua yaitu orang yang beramal keburukan kemudian ia bertaubat sambil mengharap ampunan dari Allah, ketiga yaitu orang yang pendusta dan ia terus menerus melakukan dosa seraya mengatakan aku mengharap ampunan. Dan barangsiapa yang mengetahui keburukan pada dirinya hendaklah ia memiliki rasa takut yang lebih dari pada harapannya. (Syu’ab Al Iman Lil Baihaqi, 2/1016).

12. Dari Miskin bin ‘Ubaid –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Aku mendengar Mukrim Al-Azdiy, dia adalah diantara ahli ibadah di Jazirah ia berkata: “Cukuplah taubat dari menginginkan melakukan dosa sebagai perpisahan dan taubat bagimu”. Dan aku mendengarnya juga berkata : “Salah satu tanda taubat adalah hati yang selalu merasa takut dari dosa-dosa yang telah lalu”. (At-taubah, karya Abi Dunya : 69).

13. Dari Abu Rafi’ –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Bahwa seorang hamba yang melakukan dosa akan terpatri di hatinya dan dicatat sebagai orang yang lalai. Dan diantara rasa aman terhadap tipu daya Allah adalah seorang hamba yang melakukan dosa dan hanya berandai -andai kepada Alla h akan ampunan-Nya. (At-taubat, karya abi dunya : 91).

14. Dari Ishaq bin Ibrahim –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Aku mendengar Fudhai bin Iyadh berkata: “Kamu meminta surga kepada Allah sedangkan kamu mendatangi-Nya dengan sesuatu yang Dia benci, tidaklah aku melihat seseorang yang lebih rendah pandangannya dari pada dirimu”. Ibnu Abi Dunya berkata: sebagian ahli hikmah pernah ditanya: Apa manfaatnya rasa malu? Ia berkata: ”Kamu meminta kepada Allah apa yang kamu suka dan kamu mendatangi-Nya dengan sesuatu yang Dia benci”. (At-taubah, karya Ibnu abi dunya : 173).

15. Dari Hamam dari Ka’b –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa kecil dan ia meremehkannya serta tidak menyesalinya dan tidak pula beristighfar darinya, maka jadilah dosa tersebut besar di sisi Allah sehingga menyerupai sebuah gunung. dan seorang hamba yang melakukan dosa besar dan ia menyesalinya serta memohon ampunan, maka jadilah dosa tersebut kecil di sisi Allah sehingga Dia mengampuninya. (At-taubah, karya ibnu Abi dunya : 345).

16. Dari Abdullah bin Sahl Ar Razi –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Aku mendengar Yahya Bin Mu’adz Ar Razi berkata: “Berapa banyak orang yang beristighfar dimurkai dan orang yang diam dirahmati. Ini beristigfar kepada Allah sedangkan hatinya durhaka. Dan orang yang diam akan tetapi hatinya berdzikir”. (Bustan Al-Arifin, karya samarqandi : 10).

17. Dari Fudhail Bin Iyadh –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Barangsiapa yang memperbaiki apa yang tersisa maka diampuni apa yang telah lalu dan tersisa. Dan barangsiapa yang berbuat buruk terhadap apa yang tersisa, maka akan disiksa apa yang telah lalu dan tersisa”. Kemudian Fudhail menangis dan berkata: “Aku memohon kepada Allah agar menjadikan kita dan kalian termasuk orang yang memperbaiki apa yang tersisa”. (At-thuyuriyat, karya Abi Thahir As-Silfi : 4/20).

18. Dari Sufyan Ats-tsauri –semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Ar-rabi’ Bin Khaitsam pernah ditanya: Apakah penyakit badan? Ia menjawab : Dosa. Kemudian ditanya lagi, apa obatnya? Ia menjawab: Istighfar. Kemudian ditanya lagi, bagaimana menyembuhkannya? Ia menjawab: kamu benar-benar tidak akan mengulanginya lagi. (Al-Mujalasah wa Jawahir Al Ilmiyah, karya Dinury : 634).

19. Al- Auza’I –semoga Allah merahmatinya- berkata: Bilal Bin sa’ad berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa-dosa akan tetapi tidak menghapusnya dari Lembaran sehingga ia berdiri di atasnya di hari kiamat walaupun ia sudah bertaubat. (Sifat As-Shafwah: 4/217).

Sebenarnya masih banyak ucapan ulama kita seputar masalah ini, akan tetapi cukuplah yang ada bisa kita jadikan sebagai pegangan dan figur yang baik, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta diamalkan oleh shalafuna shalih.

Ya Allah, lapangkanlah dada kami untuk selalu istighfar, sebagaimana kami memohon kepada-Mu untuk bisa selalu bertaubat dari degala dosa dan kesalahan selama hidup kami. Amiiin…
Mudah-mudahan yang sedikit ini membawah barakah dan manfaat didunia dan akhirat insyaAllah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah atas Nabi Muhammad, keluarganya dann para sahabatnya.

 (Terjemah ini disarikan dari kitab “Mawa’idz Ash-shahabah”, karya Umar bin Abdullah Al muqbil, kitab “Min akhbar As-salaf As-shalih”, karya Abu yahya zakariya gulam qodir, kitab “Hayat As-salaf Baina Al-qauli Wa al-amal”, karya Ahmad bin Nashir At-thayar, kitab “Mausu’ah Al akhlaq”, karya team ilmiyah Ad-duror As-saniyah, kitab “Adab Ad-din wa dunya”, karya Ali bin Muhammad Al-mawardy, dengan tambahan muqoddimah dan penutup).

Al-faqiir ila ‘afwi Robbih
Hamidin As-sidawy, Abu harits
Islamic Center, Makkah al-mukarramah
(25/07/1442 H)

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *