Beranda » Artikel » Takut Tidak Diterima Amalnya Lebih Berat Dari Melakukan Amalan

Takut Tidak Diterima Amalnya Lebih Berat Dari Melakukan Amalan

Orang-orang Sholih dari jaman dulu maupun jaman sekarang sangat berkeinginan untuk bisa diterimanya satu amalannya daripada sekedar melakukan suatu amalan, karena amalan merupakan usaha dan upayanya yang mereka mampu melakukannya, sedangkan diterimanya amalan diluar kuasanya dan bukanlah menjadi ukuran kemampuannya lagi. Itu merupakan hak mutlak bagi Allah Rabb semesta alam.

Sehingga ada diantara para sahabat yang berangan-angan untuk mengetahui diterimanya amalannya walau itu sedikit saja. Yang demikian itu karena besarnya nilai keagungan sebuah amal yang diterima oleh Allah. Dan mereka yakin, diterimanya amalan merupakan pertanda keselamatan dari azab.

Para Salafus Sholih terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” [Al-Mu’minun: 60]

‘Aisyah رضي الله عنه دا bertanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) أَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِى يَزْنِى وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ قَالَ « لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.” (HR At-Tirmidzy, 3175 dishahihkan Al-Albany)

Dan barangsiapa yang memperhatikan ayat Al-Qur’an dia akan mendapati bahwa batasan diterimanya amalan adalah ketakwaan kepada Allah.

{إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ} [المائدة: 27].

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”.[Al-Maidah: 7]

Sebagian Salaf mengingatkan tentang beratnya menjaga amalan setelah melakukankannya agar supaya diterima oleh Allah.

قال مالك بن دينار رحمه الله: الخوف على العمل أن لا يتقبل، أشد من العمل.
(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء، لابن أبي نعيم الأصبهاني : ص. ٣٧٦)

 درر من اقوال أئمة السلف (kalemtayeb.com)

Berkata Imam Malik bin Dinar رحمه الله,
Merasa khawatir atas amalannya tidak diterima lebih berat daripada melakukan amalan itu sendiri.
(Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqathul Asfhiya’ Abu Nu’aim Al-Asbahany: h 376)

Duror min Aqwal Aimmah As-Salaf (kalemtayeb.com)

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *