Beranda » Artikel » Surga Bagi yang Mampu Menahan Dirinya dari Hawa Nafsunya

Surga Bagi yang Mampu Menahan Dirinya dari Hawa Nafsunya

Surga Bagi yang Mampu Menahan Dirinya dari Hawa Nafsunya

 

Meninggalkan dari mengikuti hawa nafsu adalah kuncinya surga.
Allah berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Surat An-Nazi’at : 40-41)

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar,
Faedah-faedah dari ayat:
1. Hatim al-Ashom berkata : “Aku melihat sebagian besar manusia telah menuruti hawa nafsu mereka, dan mereka bergegas mencari apa-apa yang menjadi keinginan nafsu mereka, maka aku mengamati ayat Allah :

{ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ },

Dan yakinlah aku bahwasanya al-Qur’an adalah sebenar-benarnya perkataan, maka aku bersegera menyalahi keinginan diriku, dan aku menyingsingkan lengan baju untuk berusaha melawan keinginan itu, dan aku juga tidak memberikan kepadanya kepuasan terhadap keinginan syahwatnya, sampai akhirnya dia ridho dengan ketaatan kepada Allah.

2. Firman-nya,

{ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ }

Setiap muslim butuh dengan rasa takut kepada Allah, dan menghalangi dirinya dari ketergantungan kepada hawa nafsu, adapun keinginan hawa nafsu dan syahwat tidak dibalas dengan siksaan sampai nafsu syahwat itu dituruti dan dikerjakan, sedangkan jika dirinya berkeinginan kuat dan dia mengalangi dan melarang dirinya untuk melakukan keinginan tersebut, maka larangan itu akan bernilai ibadah disisi Allah, juga bernilai amal shalih, dan { مَقَامَ رَبِّهِ } yakni, berdirinya dia menghadap Allah untuk menerima ganjaran amalannya tersebut.

3. Firmannya,

{ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ }

Jika kamu mendengarkan di salah satu siaran televisi suatu pembahasan tentang agama, dan di kesempatan lain kamu mendengarkan sebuah nyanyian, kemudian kamu meninggalkan nyanyian itu demi bertahan untuk menyerap lebih banyak manfaat dari pembahasan agama itu, maka pada saat itu kamu memiliki keinginan yang kuat, karena kamu telah melewati jalan yang sulit, kamu telah berusaha untuk mendaki tanjakan yang tinggi, dan mendaki tanjakan adalah sulit, sedangkan menruni penurunan itu mudah.
4. Firmannya,

{ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ }

Apakah kamu mengira bahwasanya seorang muslim yang mampu menundukkan hawa nafsunya, dan senantiasa bermujahadah untuk mensucikan dan mengendalilkan dirinya tidak ada gejolak nafsu dalam dirinya, sungguh tidak, dalam dirinya ia merasakan begitu berat dorongan dari dalam sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang buruk selainnya, bahkan ia dapat merasakan hal yang lebih besar, akan tetapi dia melarang dan menghalangi dirinya karena takut dengan keadaan yang akan terjadi saat ia berdiri menghadap tuhannya, maka dia pun melarang dengan mengendalikan dirinya dari kejamnya hawa nafsu.

5. Mahar surga :

{ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ }

Kepada pemilik hati yang keras, sampai kapan kamu akan terus menjadi hamba bagi nafsumu, kamu yang menyembah dinar dan dirham ? jika kamu terus berbuat demikian, lalu kapan tauhid akan masuk kedalam hatimu dengan sempurna ?
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar)

Menahan dari melampiaskan nafsu bukanlah perkara yang mudah dan ringan, harus melalui usaha yang sungguh-sungguh dan keras.
Apalagi meluruskan hawa nafsu untuk selalu berada dalam jalan kebaikan dan kebenaran.
Namun demikian, mereka yang berhasil melakukannya akan diberikan balasan surga yang melimpah kenikmatannya.

قال أبو سليمان الداراني رحمه الله:
في قوله تعالى : ” وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا “، قال: صبروا عن الشهوات.
(كتاب احذر اتباع الهوى، للشبخ عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين:
ص12)

📚 درر من اقوال أئمة السلف (kalemtayeb.com)

Berkata Imam Abu Sulaiman Ad-Darany رحمه الله tentang firman Allah,

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا.

“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.”
Beliau berkata, Yaitu mereka bersabar dari menahan hawa nafsu-hawa nafsunya.
(Kitab Ihdzar Ittiba’il Hawa, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin : h. 12)

Duror min Aqwal Aimmah As-Salaf

Ustadz bu Yusuf Masruhin Sahal, Lc.

———————————————————–

Share, Like, Comment sebagai Ladang Pahala Kebaikan.

Bismillah..

🔰BERSAMA MERAIH SURGA🔰

Ahsanallahu ilaikum, ikhwah fillah dapatkan info TA’AWUN DAKWAH terbaru di sini👇👇👇

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

 Web: https://multaqaduat.com
 Youtube: https://youtube.com/c/MultaqaDuatIndonesia
 Instagram: http://instagram.com/multaqa_duat_indonesia
 Telegram: https://t.me/multaqaduat
 Twitter: https://twitter.com/MultaqaI?s=08
 Facebook: www.facebook.com/multaqa2020/
 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
 Wagroup Ikhwwan MDI : https://chat.whatsapp.com/H3dwyDnVH4i2IQxiufE1qp
 WAgrup Akhwat MDI : https://chat.whatsapp.com/Gj1Wn7sDAGdJ04BBpxMeBS
 Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
 Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program MDI ini menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN
_⁣⁣⁣___
 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqo Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

User Rating: Be the first one !

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *