Beranda » Artikel » Jangan Dekati Tempat Yang Menimbulkan Prasangka

Jangan Dekati Tempat Yang Menimbulkan Prasangka

Hukum asal su’udzan (prangka yang jelek) itu terlarang, sebagaimana firman Allah,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱجۡتَنِبُوا۟ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمࣱۖ.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” [Surat Al-Hujurat: 12]

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di,
Di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala melarang banyak dari prasangka terhadap kaum mukmin, karena sebagian dari prasangka adalah dosa, seperti sangkaan yang kosong dari hakikat dan qarinah, bersangka buruk yang diiringi dengan ucapan dan perbuatan yang diharamkan, karena bersangka buruk di hati tidak sebatas sampai di situ, bahkan terus menjalar sehingga ia mengatakan kata-kata yang tidak patut dan melakukan perbuatan yang tidak layak dilakukan, disamping sebagai sikap su’uzzhan terhadap seorang muslim, membencinya dan memusuhinya, padahal yang diperintahkan adalah kebalikannya.

Seperti suu’uzzhan (bersangka buruk) kepada orang-orang yang baik dari kalangan kaum mukmin, berbeda dengan orang fasik, maka tidak mengapa pada apa yang mereka tampakkan.
(Taisir Karim Ar-Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Ibnu Katsir menjelaskan, melalui ayat ini, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berprasangka buruk. Yakni mencurigai orang lain dengan tuduhan buruk yang tidak berdasar. Karena sebagian dugaan itu adalah murni dosa, maka harus dijauhi.
(Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim Ibnu Katsir)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث، ولا تجسسوا ولا تنافسوا ولا تحاسدوا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخواناً.

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Al-Bukhory, 6064; Muslim, 2563)

Imam Al-Qurtuby membawakan riwayat tentang larangan buruk sangka,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda

من أساء بأخيه الظن فقد أساء بربه إن الله يقول { اجتنبوا كثيراً من الظن  “.

“Barangsiapa yang yang berburuk sangka kepada kepada saudaranya, sungguh dia telah berburuk sangka juga kepada Rabb-nya, karena Allah berfirman,
{ اجتنبوا كثيراً من الظن }
jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan).” (HR. Ibnu Marduwaih)

Sabdanya,

إن الظن يخطىء ويصيب.
“Sesungguhnya prasangka itu adakalanya salah adakalanya benar.” (HR. Ibnu Marduwaih)

(Al-Jami ‘li Ahkam al-Qur’an, Al-Hujurat: 12)

Namun demikian, para Ulama mengingatkan agar manusia berhati-hati berada ditempat yang tertuduh sebagai sarang kemaksiatan yang bisa mengundang munculnya su’udzan dihati orang lain, dan bisa menimbulkan ghibah di lisan-lisan mereka. Karena tatkala mereka bermaksiat kepada Allah dengan penyebutannya, sehingga dia menjadi penyebab munculnya su’udzan itu, lalu diapun berserikat dalam dosa karena keberadaannya ditempat yang tertuduh itu.
Sebagaimana firman Allah,
فيه كان شريكًا، قال الله تعالى: وَلاَ تَسُبُّواْ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ فَيَسُبُّواْ اللّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ  [الأنعام: 108]،

Binatang Ternak (Al-‘An`ām):108 – Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”[Sl-An’am: 108] (Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghozaly, 2/201)

Amirul Mukminin Umar bin Khattab رضي الله عنه juga memperingatkan dari hal itu.

قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه:
من عرّض نفسه للتهمة، فلا يلومنّ من أساء الظن به.
(تفسير الدر المنثور في التفسير بالمأثور/ السيوطي).

من اقوال الصحابة.
Berkata Amirul Mukminin Umar bin Khattab رضي الله عنه,
Barangsiapa yang menampakkan dirinya ditempat yang tertuduh (sebagai tempat bermaksiat), maka janganlah dia mencela terhadap orang yang berprasangka jelek kepadanya.
(Tafsir Ad-Dur Al-Mantsur fit Tafsir Bil Ma’tsur, As-Suyuthi)

Min Aqwalis Shahabah
Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *