Beranda » Artikel » Ilmu Bukan Sekedar Dihafal Tapi Wajib Diamalkan

Ilmu Bukan Sekedar Dihafal Tapi Wajib Diamalkan

Ilmu dicari untuk diamalkan bukan sekedar hafalan yang dibanggakan

Ilmu salah satu sarana atau pedoman penunjang untuk seseorang mengarungi lautan kehidupan. Tanpa ilmu, bagaikan seorang nakhoda yang berlayar dilautan tanpa navigasi.
Ukuran banyak-sedikitnya ilmu bukan dari banyak-sedikitnya hafalan, melainkan dari banyak-sedikitnya kemanfaatan.
Allah mensifati Ulama dengan rasa takutnya kepada-Nya sebagai buah dari ilmu yang dia pelajari. Allah berfirman,

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ غَفُورٌ.

” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
[Surat Fathir: 28]

Ibnu Katsir رحمه الله membawakan riwayat tentang cirinya Ulama adalah yang banyak takutnya kepada Allah, sebagaimana yang disampaikan dalam tafsirnya,

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengatakan bahwa orang yang alim itu bukanlah orang yang banyak hafal hadis, melainkan orang yang banyak takutnya kepada Allah.

Imam Malik رحمه الله mengatakan, “Sesungguhnya berilmu itu bukanlah karena banyak meriwayatkan hadis, melainkan ilmu itu adalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbu.”

Selanjutnya Ahmad ibnu Saleh Al-Masri menjelaskan bahwa takut kepada Allah itu bukan dijumpai melalui banyak meriwayatkan hadis. Dan sesungguhnya ilmu yang diharuskan oleh Allah agar diikuti hanyalah ilmu mengenai Al-Qur’an, sunnah, dan apa yang disampaikan oleh para sahabat dan orang-orang yang sesudah mereka dari kalangan para imam kaum muslim. Hal seperti ini tidak dapat diraih melainkan dengan melalui periwayatan.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan cahaya ialah pemahaman mengenai ilmu tersebut dan pengamalannya dalam realita kehidupan.
(Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Imam Ibnu Katsir)

Oleh karena itu, Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada ummatnya agar ketika shalat Shubuh saat hendak salam membaca do’a ini agar diberikan kemanfaatan atas ilmunya,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah no. 925, dishahihkan Al-Albany)

Buahnya ilmu adalah amalan. Ilmu yang tidak diamalkan, ibarat sebuah pohon yang tidak menghasilkan buahnya.

قال الشافعي رحمه الله:
العلم ما نفع ، ليس العلم ما حفظ.
(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء، لأبي نعيم الأصبهاني : ص. ١٢٢)

درر من اقوال أئمة السلف (kalentayeb.com)

Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله,
Ilmu itu apa bermanfaat (untuk diamalkan), bukan yang hanya dihafalkan.
(Hilyah Al-Auliya’ wa Thabaqathul Asfhiya’, Abu Nu’aim Al-Asbahany: h 122)

Duror min Aqwal Aimmah As-Salaf (kalemtayeb.com)

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *