Beranda » Artikel » Dokternya hati

Dokternya hati

Allah berfirman,

هُوَ ٱلَّذِی بَعَثَ فِی ٱلۡأُمِّیِّـۧنَ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ.

“Dialah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
[Surat Al-Jumu’ah: 2]

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi,

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul,” yang dimaksud kaum buta huruf adalah kaum yang tidak memiliki kitab suci dan tidak ada jejak kerasulan, baik dari kalangan ahli kitab. Allah memberikan ujian besar pada mereka yang melebihi karunia kalangan lainnya, karena mereka tidak memiliki ilmu dan kebaikan. Mereka sebelumnya berada dalam “kesesatan yang nyata.”

Dengan menyembah patung, pohon, dan batu, dan beretika seperti binatang buas pemangsa, di mana yang kuat di antara mereka memakan yang lemah. Mereka berada di puncak kebodohan terhadap ilmu para nabi. Kemudian Allah menguutus seorang rasul dari kalangan mereka. Mereka menetahui nasab, sifat-sifatnya yang baik serta kejujurannya, dan Allah menurunkan kitab suciNya, “yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka,” yang pasti dan mengharuskan beriman dan meyakini, “dan menyucikan mereka,” dengan menjelaskan dan mendorong mereka pada sifat-sifat utama serta mencegah mereka dari akhlak-akhlak tercela, “dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.” Maksudnya, ilmu al-Quran dan -Sunnah yang mencakup seluruh ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Setelah pembelajaran dan penyucian itu, mereka menjadi manusia paling baik petunjuk dan jalannya. Mereka menjadikan diri mereka sebagai petunjuk dan memberi petunjuk pada orang lain sehingga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa. Merupakan nikmat yang paling sempurna dan karunia terbesar, karena Allah mengutus di tengah-tengah mereka rasul tersebut.
(An-Nafahat Al-Makkiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi)

Hati manusia sebagaimana jasadnya, bisa sehat dan bisa sakit.

Tatkala seseorang tertimpa sakit pada badannya maka dengan segera dia akan mendatangi seorang dokter yang bisa mengobati penyakit badannya dengan obat dan terapinya yang sesuai dengan penyakitnya. Jika dia orang yang memiliki kelonggaran harta, kalau perlu dia akan berusaha memilih dokter yang paling ahli di bidangnya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan dari terapinya.
Namun sayang, tatkala hatinya yang sakit mereka tidak bergegas mengobati penyakit hatinya seperti bergegasnya dia dalam mengobati sakit badannya.

Padahal sakit yang menimpa hati lebih mematikan dan lebih berbahaya daripada penyakit badannya.
Manusia yang paling ahli dan paling tahu tentang seluk beluk penyakit hati adalah para Rasul yang diutus oleh Allah. Mereka telah mendapatkan rekomendasi khusus dalam pengobatan hati dari Allah, Dzat yang Maha Mengetahui seluk-beluknya hati.
Dan ilmunya para Rasul telah diturunkan kepada para Ulama sebagai pewaris sah dan mumpuni dalam hal ini.
Allah berfirman,

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ.

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” [Fathir: 32].

Imam Asy-Syaukani رحمه الله mengatakan bahwa maksud “Kami (Allah) telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami (Allah) pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an)”, adalah dengan cara mewariskan Al-Quran ini kepada para ulama dari umat Muhammad. Dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah telah memuliakan mereka atas seluruh manusia dan menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat Nabi yang terbaik dan penghulu anak keturunan Adam.”(Fathul Qadir, Asy-Sayaukiny)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم menegaskan, bahwa yang mewarisi ilmunya para Rasul adalah para Ulama.

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi, 296; Abu Dawud, 49; Ibnu Majah, 181 dishahihkan Al-Albany).

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa manusia yang paling ahli dan mumpuni dalam mengobati hati adalah para Rasul.

فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم.

مدارج السالكين 2-300. (saaid.net)

Para Rasul adalah dokternya hati, maka tidak ada jalan untuk membersihkan hati dan memperbaikinya melainkan dari jalan mereka dan melalui bimbingan mereka.

Madarijus Salikin, 2/300. (saaid.net)

Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5)

RENUNGAN PERPISAHAN (bag-5) Oleh : Ustadz Abu Ghozie As Sundawie   Diantara amalan spesial dipenghujung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *