Beranda » Artikel » Akhlak Yang Jelek Bisa Meruntuhkan Agama, Kedudukan Dan Kehormatan Diri

Akhlak Yang Jelek Bisa Meruntuhkan Agama, Kedudukan Dan Kehormatan Diri

Mutiara nasehat para Ulama Salaf.

Tidak akan bisa lepas kaitan antara akhlak seorang mukmin dengan agamanya.
Sehingga tepat sekali ungkapan para Salaf yang menyatakan, Tidak beragama orang yang tidak memiliki akal dan tidaklah berakal orang yang tidak beretika.(Ihya’Ulumuddin, Imam Al-Ghozaly)

Islam, agama yang mulia ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang memiliki akal sehat. Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam Al-Quran, ketika menjelaskan perkara hukum diakhiri dengan kata seperti:
Apakah kamu tidak berpikir?
Apakah kalian tidak berakal?
Apakah mereka tidak memiliki akal yang sehat? Kalimat ini menunjukkan Dinnul Islam ditujukan bagi orang yang berakal.
Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.” [Al Hujurat : 4].

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi,

Ayat-ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan segolongan orang dari kalangan baduwi yang sifatnya disebutkan Allah sebagai berwatak keras, mereka layak untuk tidak mengetahui batasan-batasan yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Suatu ketika mereka mendatangi Rasulullah, mereka mendapatkan nabi sedang di dalam kamarnya bersama istri-istrinya, mereka tidak bersabar dan tidak sopan hingga Rasulullah keluar menemui, bahkan mereka memanggil dengan suara keras, “Hai Muhammad, hai Muhammad!” Maksudnya, keluarlah dan temui kami. Allah mencela mereka sebagai orang-orang yang tidak berakal yang tidak mengerti etika sopan santun terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tidak menghormatinya, karena di antara tanda orang berakal adalah menggunakan etika bersopan santun, etika sopan santun seseorang adalah tanda bahwa orang itu berakal dan Allah menghendaki kebaikan padanya.
(An-Nafahat Al-Makkiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi)

Allah mensifati tentang orang-orang yang tidak berakhlak kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan tidak berakal. Bila mereka menggunakan akalnya, mereka tentu mampu memahami, karena Islam mengajarkan etika mulia.

Betapa erat hubungan antara akhlak dan agama, Nabi صلى الله عليه وسلم menegaskan hal dalam sabdanya,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق.
“Sesungguhnya aku ini diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”(HR Al-Bukhory dalam Al-Adabul Mufrod, 273 dishahihkan Al-Albany dalam silsilah Ash-Shohihah, 45)

Tanpa akhlak mulia, manusia tak ada bedanya dengan binatang ternak. Dengan akhlak, manusia akan memperoleh derajat keagungan di sisi Allah.

Sehingga jeleknya akhlak seseorang akan menjatuhkan pula agamanya, kedudukannya, dan kehormatannya.

قال الفضيل بن عياض رحمه الله: من ساء خلقه شان دينه وحسبه ومروءته.
(تاريخ الإسلام، للذهبي: ج. ١٢، ص. ٣٣٩)

درر من اقوال أئمة السلف (kalemtayeb.com)

Berkata Imam Fudhoil bin Iyadh رحمه الله,
Barangsiapa yang jelek akhlaknya maka akan rusak pula agamanya, kedudukannya, dan kehormatannya.
(Tarikh Al-Islam, Adz-Dzahaby: j. 12, h. 339)

Tentang Abdul Aziz

Periksa Juga

Bersiap Menyambut Tamu yang Agung

Bersiap Menyambut Tamu yang Agung Mutiara Nasehat Para Ulama Salaf     Ramadhan bulan istimewa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *