Beranda » Artikel » Cerminan Salaf Tentang Keutamaan Ilmu, Amal & Ulama (8)

Cerminan Salaf Tentang Keutamaan Ilmu, Amal & Ulama (8)

Cerminan Salaf Tentang Keutamaan Ilmu, Amal & Ulama (8)

Jika kita membahas keutamaan ilmu, mengamalkannya serta mendakwahkannya, maka ibarat mendulang mutiara dari lautan yang tiada habisnya, seperti sungai mengalir yang tidak pernah terputus dan seolah-olah ibarat seperti nafas yang dibutuhkan oleh semua makhluk, di mana Ilmu adalah sumber peradaban dan kejayaan setiap umat dengan generasinya.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang merasa cukup dari ilmu, karena ilmu juga merupakan sumber kesuksesan, kebahagian serta keselamatan seseorang di dunia dan di akhirat.

Adapun amal, maka ia merupakan buah dari ilmu. Kita sering menyapa pepatah yang berbunyi, ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah.

Demi Allah, tidaklah mengingkari akan hal ini melainkan orang yang sombong atau gila. Karena ia telah menolak sesuatu yang sudah jelas bagaikan matahari di siang bolong, baik secara akal maupun syariat.

Oleh sebab itu orang yang berilmu akan tetapi tanpa ia ikuti dengan amal, Allah telah serupakan mereka dengan orang yahudi. Sebagaimana orang yang beramal akan tetapi tanpa mereka dasari dengan ilmu, Allah telah serupakan mereka dengan orang nasrani.

Demikian pula para ulama, keajaiban mereka sangat langka dan luar biasa. Jika Allah dan Rasul-Nya telah memuji meraka dalam banyak ayat-ayat yang suci serta hadits-hadits yang mulia, maka cukuplah itu sebagai keutamaan mereka sekaligus penggerak bagi kita untuk meniru dan meniti jalan mereka, menghormati dan memuliakan mereka dengan cara yang sesuai dengan syariat tanpa melukai atau meremehkan mereka dengan lisan atau perbuatan.

Kesimpulannya adalah bahwa semua kebaikan dan keselamatan di dunia dan akhirat -jika kita mau merenungkan dan memikirkan-, maka sumbernya adalah AL-ILMU (ilmu agama), tentunya jika dibarengi dengan amal shalih dan ikhlas hanya mengharap ridha serta wajah Allah semata, sebagaimana semua sumber kejelekan dan siksa adalah AL-JAHIL (bodoh) dengan ilmu agama.

Oleh karena itu, di sini akan kami paparkan cerminan ulama salaf tentang keutamaan ilmu, amal, ulama, dengan harapan supaya hal ini bisa kita pratekkan pada diri kita sendiri, anak keturunan kita dan juga orang lain, sehingga kita bisa mewujudkan tatanan pribadi, keluarga dan masyarakat serta bangsa yang diridhai oleh Allah. karena berdasarkan ilmu yang benar, amal yang ikhlas serta menghormati para ulama kaum muslimin :

1. Muhammad bin Sirin –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari mana kamu mengambilnya.” (Hilyatul Auliya: 2/278).

2. Az-Zuhry –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu.” (Hilyatul Auliya: 3/365).

3. Imam Syafi’i –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Membaca satu hadits lebih baik dari pada shalat sunnah.” (Siyar ‘Alam An-Nubala’: 10/23).

4. Mu’tamir bin Sulaiman dari bapaknya –Semoga Allah merahmati keduanya- , ia berkata: “Seorang berkata kepada abi majlis, sedangkan mereka lagi mempelajari fiqh dan sunnah: andaikata kamu membaca satu surat, niscaya lebih utama, maka ia berkata: “aku tidak mengira bahwa membaca satu surat itu lebih utama dari apa yang sedang kita kerjakan.” (Hilyatul Auliya: 3/112).

5. Ditanyakan kepada Atha bin Abi Rabah –Semoga Allah merahmatinya- : “Apa yang paling utama diberikan kepada seorang hamba? Maka ia menjawab : “mengilmui tentang Allah, yaitu dengan mempelajari agama.” (Hilyatul Auliya: 3/315).

6. Umar bin Abdil Aziz –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, maka apa yang ia rusak akan lebih banyak dari pada apa yang perbaiki.” (Jami’ Bayan Al-Ilmy: 1/131).

7. Hasan Al-Bashry –Semoga Allah merahmatinya- berkata: ”Satu pintu (bab) dari ilmu yang aku mempelajarinya adalah lebih aku sukai dari pada dunia dan se-isinya.” (Hilyatul Auliya 6/271).

8. Az-Zuhry –Semoga Allah merahmatinya- berkata : ”Mempelajari sunnah adalah lebih utama daripada beribadah selama seratus tahun.” (Al-Amal karya Asy-Syajari, 1/66).

9. Al-Hakam bin Utaibah –Semoga Allah merahmatinya- berkata : ”Sesungguhnya orang yang menuntut satu pintu dari ilmu kemudian ia mengamalkannya, maka baginya kebaikan dari dunia. Seandainya dunia miliknya, maka ia akan palingkan ia untuk akhirat.” (Al-Amali 1/63).

10. Abdurrahman bin Al-Mahdi –Semoga Allah merahmtainya- berkata : ”Seseorang itu lebih butuh kepada ilmu dibanding butuhnya ia terhadap makan dan minum.” (Hilyatul Auliya 4/9).

11. Yahya bin Abi Katsir –Semoga Allah merahmatinya- berkata : ”Mempelajari fiqih dan Al Qur’an adalah merupakan shalat.” (Hilyatul Auliya 3/67).

12. Imam Syafi’i –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Mempejalari ilmu di sebagian malam lebih aku cintai daripada menghidupkannya.” (Jami’ Bayan Al-Ilmy: 1/117).

13. Beliau juga berkata: “Aku tidak mengetahui ibadah sedikitpun yang lebih utama daripada manusia yang mengajarkan ilmu.” (Jami’ Bayan Al-Ilmy: 1/124).

14. Dari Ibnu Mas’ud –Semoga Allah meridhainya-, ia berkata: “Belajarlah kalian dan jika kalian telah mengetahui maka amalkanlah.” (Jami’ Bayan Al-Ilmy)

15. Dari Salim Al-Murry –Semoga Allah marahmatinya- berkata: ”Aku mendengar hudzaifah berkata: “Sesuai dengan kadar ilmu ,seseorang akan merasa takut kepada Allah.” (Al-Mushannaf: 7/139).

16. Dari Abi Darda –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Kamu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga kamu menjadi orang yang berilmu dan kamu tidak akan menjadi orang yang baik sehingga kamu beramal dengan ilmu.” (Jami Bayan Al-Ilmi : 1/698).

17. Dari Ibnu Mas’ud –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Sesungguhnya semua manusia pandai bicara, barangsiapa yang ucapannya sesuai dengan perbuatannya, maka itu adalah bagian yang ia dapatkan. Dan barangsiapa yang ucapannya menyelisihi perbuatannya, maka sesuangguhnya ia telah menjelekkan dirinya sendiri.” (Jami’ Bayan Al-Ilmi : 1/696).

18. Dari Sufyan Al-Tsaury –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Tidaklah sampai kepadaku sebuah hadits pun dari Rasulullah melainkan aku telah mengamalkannya walaupun sekali.” (Siyar ‘Alam An-Nubala : 7/242).

19. Ibnu Munkadir –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Ilmu akan bersambung dengan amal, jika ia mau mengamalkan, jika tidak maka ilmu akan pergi.” (Iqtidha Al-Ilmi Al-Amal, hal : 35).

20. Malik bin Dinar –Semoga Allah merahmatinya- berkata: “Barangsiapa yang diberi ilmu yang tidak ia amalkan, maka tidaklah ia diberi ilmu yang bermanfaat.” (Adab Dunya wa Din, hal : 70).

21. Tidaklah aku menulis sebuah haditspun melainkan aku telah mengamalkannya, sampai lewat kepadaku sebuah hadits bahwasannya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berbekam dan memberi Abu Thaibah satu dinar, maka aku berbekam dan aku beri tukang bekam satu dinar.” (Siyar ‘Alam An-Nubala’ : 11/296).

22. Dari ‘Amr bin Qais Al-Mulai –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Apabila kamu mendengar sesuatu dari kebaikan maka kerjakanlah walaupun hanya sekali niscaya kamu akan menjadi pelakunya.” (Az-Zuhdu li Ahmad : 326).

23. Dari Malik bin Dinar –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Apabila seseorang mencari ilmu untuk ia amalkan, maka ilmunya akan menghiburnya dan apabila seseorang mencari ilmu untuk selain amal, maka ilmu akan menambahkan kepadanya kesombongan”. (Raudhatul ‘Uqala, hal : 35).

24. Dari Malik bin Dinar –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sesungguhnya seorang ‘alim apabila ia tidak mengamalkan ilmunya maka nasehatnya akan luput dari hati, seperti luputnya air hujan dari batu yang licin”. (Hilyatul Auliya : 6/288).

25. Dari Habib bin Ubaid –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “carilah ilmu dan pahamilah serta ambillah manfaat darinya dan janganlah kamu mencari ilmu untuk memperindah diri dengannya, karena sesungguhnya dikhawatirkan apabila kamu dipanjangkan umur akan mengetahui sebagian orang yang memperindah diri dengan ilmu sebagaimana seseorang memperindah diri dengan pakaiannya (tanpa diamalkan). (Hilyatul Auliya’ : 6/102).

26. Dari Sufyan bin Uyainah –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Bukanlah yang dimaksud dengan orang alim adalah orang yang hanya mengetahui yang baik dan yang buruk, akan tetapi yang dimaksud dengan orang alim adalah orang yang mengetahui kebenaran kemudian ia ikuti dan mengetahui kejelekan kemudian ia jauhi”. (Hilyatul Auliya’ : 7/274).

27. Dari Abi ‘Asim –Semoga Allah merahmatinya -ia berkata: “Barang siapa yang mencari hadits maka sungguh ia telah mencari suatu perkara yang paling tinggi, maka ia wajib menjadi orang yang paling baik”. (Siyar ‘Alam an-Nubala: 9/483).

28. Dari Sufyan aal-Tsaury –Semoga Allah merahmatinya-, ia berkata: “Hiasilah ilmu (dengan amal) dan janganlah kalian berhias dengan ilmu”. (Jami’ Bayan Al-Ilmi : 1/665).

29. Dari Hasan Al-Bashry, –Semoga Allah merahmatinya – ia berkata: “Yang melebihi manusia dengan sepantasnya untuk melebihi mereka dalam amal”. (Jami’ Bayan Al-Ilmi : 1/706).

30. Dari Imam Malik –Semoga Allah merahmatinya – ia berkata: “Wajib bagi setiap orang yang mencari ilmu untuk mempunyai sikap rendah hati, ketenangan dan rasa takut (kepada Allah)”. (Jami’ Bayan Al-Ilmi : 1/710).

31. Dari Ibrahim bin Ismail –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Kami memohon kemudahan (kepada Allah) untuk menghafal hadits dengan mengamalkannya”. (Aqtidha Al-Ilmi al-Amal, hal : 149).

32. Dari Auza’i –Semoga Allah merahmatinya – ia berkata: “Apabila Allah menghendaki kejelekan bagi suatu kaum, maka Allah akan membukaan pintu perdebatan atas mereka dan menolak mereka dari amal”. (Iqtidha’ Al-Ilmi Al-Amal, hal: 122).

33. Dari Wahab Al-Makky –Semoga Allah merahmatinya- berkata: Bahwasannya seorang pemuda telah memperbanyak pertanyaan kepada ummu darda, maka ummu darda bertanya: apakah kamu telah amalkan semua apa yang kamu tanyakan? pemuda menjawab: tidak, maka ummu darda berkata: jangan kamu tambah hujjah Allah atas diri kamu!.” (Az-Zuhdu karya Imam Ahmad, hal : 219).

34. Dari Abi Tsaur –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: Aku mendengar Imam Syafi’i mengatakan: “Sepantasnya bagi seorang faqih untuk meletakan tanah di atas kepalanya sebagai bukti kerendahan bukti dan syukur kepada Allah.” (Siyar ‘Alam An-Nubala : 10/53).

35. Abu Qilabah –Semoga Allah merahmatinya – berkata: “Ulama itu seperti bintang, mereka adalah imam yang dijadikan petunjuk dengannya. Apabila mereka hilang manusia akan binasa dan apabila mereka tinggalkan manusia akan tersesat.” (Hilyatul Auliya’ : 2/283).

36. Hilal bin Khabab –Semoga Allah merahmatinya- berkata, aku bertanya kepada said bin jubair: “Apakah tanda binasanya manusia? Maka ia menjawab: yaitu apabila pergi atau binasa ulamanya”. (Hilyatul Auliya’ : 4/276).

37. Hasan Al-Bashry –Semoga Allah merahmatinya – berkata: ”Kematian seorang ‘alim adalah merupakan keretakan dalam agama islam, tidak ada yang menghalanginya sesuatu pun selama ada pergantian malam dan siang”. (Az- Zuhud 262).

38. Abu Qilabah –Semoga Allah merahmatinya – berkata: “Perumpamaan ulama di bumi adalah adalah seperti bintang-bintang di langit, barang siapa yang meninggalkannya akan tersesat dan barang siapa yang menghilang darinya maka ia akan kebingungan”. (Al-Qaul Al-Farid : 6/19).

39. Hasan Al-Bashry –Semoga Allah merahmatinya – berkata: “Andaikata bukan karena ulama niscaya manusia akan seperti binatang”. (Mukhtashar Minhajul Qasidin, hal: 24).

40. Hasan Al-Bashry –Semoga Allah merahmatinya – berkata: “Sesungguhnya fitnah ini apabila telah datang akan diketahui oleh setiap ulama dan apabila telah pergi akan diketahui oleh setiap orang yang jahil”. (Athabaqat karya Ibnu Saed : 7/166).

41. Malik bin Anas –Semoga Allah merahmatinya -berkata, bahwa ibnu mengatakan: “Dahulu orang-orang belajar adab atau etika seperti mereka mempelajari ilmu. Ia juga berkata: “Suatu ketika Ibnu sirin mengutus seorang untuk memperhatikan perilaku dan keadaan Qasim bin Muhammad”. (Jami al-Khatib : 1/79).

42. Dari Abdurrahman bin Habib ia berkata: Aku mendengar nafi’ bin jubair berkata kepada Ali bin Husain: “Semoga Allah mengampunimu, engkau adalah manusia yang paling utama dan pemimpin mereka, mengapa pergi dan duduk di majlis seorang budak ini, yaitu zaid bin aslam? Maka ia menjawab: “sepantasnya bagi ilmu untuk diikuti kemana aja ia berada”. (Hilyatul Auliya’ : 3/137).

43. Dari Abi Salamah dari Ibnu Abbas –Semoga Allah merahmatinya-, berkata: Sesungguhnya (suatu ketika) ia memegang kekang tali unta zaid bin tsabit, maka Zaid bin Tsabit berkata kepadanya:

“Menyingkirlah wahai anak paman Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallahm, maka Ibnu Abbas berkata: “Demikianlah kami diperintahkan untuk memperlakukan para tokoh dan ulama kami”. (Al-Mustadrak : 3/478).

Terakhir, alangkah baiknya jika kita renungkan kata mutiara dibawah ini.

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di dunia, maka harus dengan ilmu.”

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di akhirat, maka harus dengan ilmu.”

“Barangsiapa yang ingin bahagia dan selamat di dunia dan akhirat, maka harus dengan ilmu.”

“Ya Allah, jadilkanlah kami, keluarga kami serta keturunan kami orang-orang yang mencintai ilmu, mengamalkan ilmu serta memuliakan para ulama
yang berada di atas syariat-Mu.”

📚 [ Terjemah ini disarikan dari kitab “Mawa’izh Ash-Shahabah”, karya Umar bin Abdullah Al-Muqbil, kitab “Min Akhbar As-Salaf As-shalih”, karya Abu Yahya Zakariya Gulam Qadir, kitab “Hayat As-Salaf Baina Al-Qauli Wa al-Amal”, karya Ahmad bin Nashir At-Thayar, kitab “Mausu’ah Al-Akhlaq”, karya team ilmiyah Ad-Duror As-Saniyah, kitab “Adab Ad-Din wa Dunya”, karya Ali bin Muhammad Al-Mawardy, dengan tambahan muqaoddimah dan penutup ]

Alih Bahasa :
Ustadz Hamidin As-Sidawy, Abu Harits, Lc.
Islamic Center, Makkah al-mukarramah
( 28/05/1442 H )

__⁣⁣_⁣_______________________________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: https://web.facebook.com/multaqa2020
📱 Facebook: https://web.facebook.com/groups/384944829178650
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqamah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqa Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

1592

User Rating: 4.56 ( 1 votes)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

Hilangnya Ukhuwah di Jalan Allah

Hilangnya Ukhuwah di Jalan Allah Mutiara Nasehat Para Ulama Salaf   Ukhuwah di jalan Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *