Beranda » Artikel » CERMINAN SALAF TENTANG “BERHATI-HATI DALAM BERFATWA”

CERMINAN SALAF TENTANG “BERHATI-HATI DALAM BERFATWA”

CERMINAN SALAF TENTANG “BERHATI-HATI DALAM BERFATWA”

 

Sesungguhnya keutamaan dan kedudukan fatwa dalam syariat yang mulai ini sangatlah agung bagi ahlinya, yaitu orang-orang yang terpenuhi padanya syarat-syarat yang telah disepakati oleh para ulama islam untuk menjadi seorang mufti (pemberi fatwa), sebagaimana dampak dari fatwa sangat berbahaya sekali bagi umat bagi orang tidak mumpuni, sebab seorang mufti adalah pemberi legalisasi apa yang datang dari Allah, pewaris para Nabi dan pengemban kewajiban fatwa (fardhu kifayah).

Maka hendaklah berhati-hati orang yang memikul amanat ini serta berfikir seribu kali sebelum ia mengeluarkan hukum atau berfatwa.

karena beratnya amanat fatwa banyak dari kalangan ulama terdahulu, mereka lebih memilih “TAWAQQUF” (diam) ketika ditanya dan tidak memberikan jawaban apapun, karena takut dari akibat keburukan yang akan menimpanya, baik dunia maupun akhirat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memberikan jawaban “LAA ADRI” (Aku tidak tahu) dalam semua hukum atau yang tidak mereka miliki ilmunya.

Jika kita cermati sikap mereka di atas, sebenarnya bukan menunjukan kekurangan, justru ini semua menunjukan kedalaman ilmu serta kebaikan iman dan taqwa mereka. Dimana mereka berhenti dan tidak mendahului semua apa yang di luar kemampuan mereka dengan mengembalikan ilmunya kepada Allah, Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Akan tetapi sangat disayangkan, jika kita lihat zaman sekarang, semua orang memasang dirinya sebagai mufti, menganggap bahwa ini adalah pekerjaan kecil, tidak membutuhkan syarat-syarat dan keahlian, sehingga pertanyaan apapun pasti dia jawab dengan mudah, walaupun tanpa ilmu dan dalil yang jelas. Mereka bahkan tidak segan-segan membawa dalil dari hadits yang palsu atau lemah atau riwayat-riwayat yang tidak ada asalnya.

Inilah yang menyebabkan problematika umat, yaitu munculnya “RUWAIBIDHAH” yang mana mereka adalah orang-orang yang jahil akan tetapi berbicara mengenai umat atau maslahat umum.
Padahal tujuan hakikatnya dari adanya fatwa dalam syariat yang mulia ini adalah untuk kebaikan dan kemudahan yang berupa tersebarnya ilmu dan amal yang benar di tengah-tengah kamu muslimin, bukan membuat perselisihan dan menyebarkan perpecahan dan perbedaan di tengah-tengah umat.

Untuk itu, kita perlu meneladani dari cerminan para ulama salaf, bagaimana contoh dari mereka dalam masalah ini. Marilah kita simak, berikut ini sebagian contoh dari ulama salaf:

• Dari Abi Minhal –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata, aku bertanya kepada Zaid bin Arqam dan Al Barra’ bin ‘Azib tentang sharaf, maka setiap aku bertanya kepada salah satu dari keduanya ia menjawab: ”tanyakanlah kepada yang lain, karena sesungguhnya ia lebih baik dan lebih mengetahui dari aku.” (Jami bayan Al ‘ilmi wa Ahlihi : 2/432).

• Dari Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhai keduanya- , ia berkata : “ilmu itu ada tiga macam: (pertama) kitabullah yang berbicara, (kedua) sunnah yang telah lalu dan (ketiga) ucapan tidak tahu.” (Jami Bayan Al ‘Ilmi wa Ahlihi: 2/423).

• Dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhainya- ia berkata : “Sesungguhnya orang yang memberi fatwa dalam segala sesuatu adalah orang yang gila.” (Jami Bayan Al’Ilmi : 2/836).

• Dari Uqbah bin Muslim –semoga Allah meridhainya- ia berkata : Aku mendampingi Ibnu Umar selama tiga puluh empat bulan, kebanyakan ketika ditanya ia menjawab: “Aku tidak tahu”, kemudian ia menoleh kepadaku sambil berkata: tahukah kamu apa yang mereka inginkan? mereka hendak menjadikan punggung-punggung kita sebagai jembatan mereka kepada neraka jahannam”. (Jami Bayan Al’Ilmi : 2/841).

• Dari Muhammad bin Munkadir –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sesungguhnya seorang ‘alim itu berada diantara Allah dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia melihat bagaimana ia masuk diantara keduanya.” (Badai’ul Fawaid: 3/792-794).

• Abdurrahman bin Abi Laila –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Aku menjumpai 120 sahabat dari anshar, salah seorang dari mereka ditanya sebuah masalah, maka ia mengembalikan kepada yang lain dan yang lain kepada yang lain pula sampai akhirnya kembali kepada orang yang pertama. Tidak ada seorangpun dari mereka melainkan ia ingin saudaranya mencukupkannya dari fatwa.” (Badai’ul Fawaid: 3/792-794).

• Husain al-Asady –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata: “Sesungguhnya seseorang dari kalian berfatwa dalam masalah, andaikata disampaikan kepada sahabat Umar bin khaththab niscaya ia akan mengundang ahli badar (sahabat yang diperang badar) untuk menjawabnya.” (Badai’ul Fawaid: 3/792-794).

• Imam Syafi’i ditanya tentang sebuah masalah, lalu ia diam, maka dikatakan kepadanya : tidakkah engkau menjawab –semoga Allah merahmatimu-? maka ia mengatakan : “sampai aku tahu yang lebih baik, apakah dalam diamku atau dalam jawabanku.” (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

• Said bin Musayib –Semoga Allah merahmatinya hampir-hampir ia tidak pernah berfatwa atau mengatakan sesuatu melainkan ia berdoa : “Ya Allah selamatkanlah aku dan selamatkanlah orang lain dariku”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

• Dari Adurrahman bin Mahdi Semoga Allah merahmtainya- ia berkata : “Seseorang datang kepada Imam Malik dan bertanya kepadanya, berhari-hari ia tidak menjawab, maka ia (penanya) berkata: wahai abu Abdurrahman, sesungguhnya aku ingin kembali dan telah lama aku menunggu (jawaban darimu). Maka imam malik diam sesaat lalu mengangkat kepalanya dan berkata: Masyallah, wahai saudaraku, sesungguhnya aku hanya berkata apabila di dalamnya terdapat kebaikan, sedangkan aku tidak menguasai pertanyaamu ini”. (Badaiul Fawaid: 3/792-794).

• Dari Zaid bin Khabbab -Semoga Allah merahmatinya- ia bertanya: “Aku melihat sufyan ats-saury apabila ditanya tentang masalah, ia menjawab: aku tidak tahu, sehingga orang yang tidak mengenalnya akan mengira bahwa sufyan tidak mengetahui ilmu sedikitpun.” (Musnad bin Zaid, hal: 277).

• Dari Abu Mus’ab –Semoga Allah merahmatinya- ia berkata, aku mendengar malik Malik bin anas berkata :”Tidaklah aku berfatwa sehingga ada tujuh puluh orang yang mengakui bahwa aku adalah ahli (mengusai dalam hal tersebut)”. (Hilyatul Auliya: 6/316).

• Qasim bin Muhammad berkata: “Seseorang yang hidup dalam kejahilan lebih daripada berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Inilah abu bakar yang Allah khususkan dengan keutamaan dari-Nya, ia mengatakan :”aku tidak tau.” (Jami Bayan Al-Ilmi: 2/839).

• Abu Umar menyebutkan tentang Qasim bin Muhammad, bahwa ia didatangi oleh seseorang yang bertanya kepadanya, maka Qosim menjawab: aku tidak menguasainya, maka sang penanya berkata: Sesungguhnya aku mengajukan kepadamu, karena aku tidak tahu selain kamu. Maka Qasim menjawab: “Janganlah kamu melihat janggutku yang panjang dan banyaknya orang ada di sekitarku, demi Allah aku tidak mengusainya (pertanyaan kamu)”. (Badaiaul Fawaid: 3/792-794).

• Dari Ali bin Abi Thalib –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Alangkah dinginnya bagi hati, maka ia ditanya, apakah maksudnya itu: maka ia menjawab: “yaitu engkau mengatakan untuk sesuatu yang engkau tidak tahu “Allah yang mengetahui”. (Jami Bayan Al’ilmi : 2/836).

Semoga kita bisa ambil pelajaran dari mereka, para ulama salaf untuk lebih berhati-hati dalam meminta fatwa atau berfatwa atau mengamalkan fatwa serta menyebarkan fatwa dan hal-hal yang berkaitan dengan fatwa.

📚 [ Terjemah ini disarikan dari kitab “Mawa’idz Ash-Shahabah”, karya Umar bin Abdullah Al Muqbil, kitab “Min Akhbar As-Salaf As-Shalih”, karya Abu Yahya Zakariya Gulam Qadir, kitab “Hayat As-Salaf Baina Al-Qauli Wa al-Amal”, karya Ahmad bin Nashir At-Thayar, kitab “Mausu’ah Al Akhlaq”, karya team ilmiyah Ad-Duror As-Saniyah, kitab “Adab Ad-Din wa Dunya”, karya Ali bin Muhammad Al-Mawardy, dengan tambahan muqaddimah dan penutup ]

Alih bahasa
Ustadz Abu Harits, Hamidin As-Sidawy, Lc.
Islamic Center, Mekkah al-mukarramah
(24/05/1442 H)

__⁣⁣_⁣_______________________________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: www.fb.com/multaqaduat⁣⁣⁣⁣⁣
📱 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqamah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqa Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT   Sedih terasa hati ini, jika kita menyaksikan keadaan kaum muslimin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *