Beranda » Artikel » SILSILAH FAWAID ILMIYAH DARI HADITS BULUGHUL MARAM (1)

SILSILAH FAWAID ILMIYAH DARI HADITS BULUGHUL MARAM (1)

SILSILAH FAWAID ILMIYAH DARI HADITS BULUGHUL MARAM (1)

 

KITAB : BERSUCI

BAB : AIR

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- فِي اَلْبَحْرِ: – هُوَ اَلطَّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ –

أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ,وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ, [ورواه مالك والشافعي وأحمد]

Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang (air) laut : “Air laut itu suci dan menyucikan, dan bangkainya pun halal.”

Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafadz miliknya. Dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. [Malik, Syafi’i, dan Ahmad juga meriwayatkannya]

FAWAID PERTAMA

Dari Ustadz Muhammad Zainuddin (27/04/1442 H)

Imam asy Syafi’iy berkata:

هذا الحديث نصف علم الطهارة

Hadits ini adalah setengah ilmu tentang bersuci.“ [Lihat Talkhis al-Habir : 3]

Di antara faedah hadits ini adalah:

1. Hukum air laut adalah suci dan mensucikan di dalam hadits ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menggunakan gaya bahasa hashr [pembatasan] dengan tujuan untuk menguatkan hukum kesucian air laut yang tidak boleh diragukan lagi.

2. Air yang banyak seperti air laut apabila ada najis yang terjatuh di dalamnya maka air tersebut tidaklah menjadi air yang najis kecuali jika berubah bau, rasa atau warnanya berdasarkan kesepakatan para ulama’.

3. Dhahir hadits tersebut menunjukkan bahwasanya semua binatang laut dan bangkainya hukumnya adalah halal karena lafadz ميتته memiliki makna umum [karena berbentuk mudhaf dan mudhaf ilaihi ]. Dan ini adalah pendapat yang rajih [ Lihat Fath Dzil Jalal wal Ikram:1/61, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin]

Akan tetapi sebagian ulama’ ada yang mengecualikan dari keumuman dhahir lafadz hadits ini, yaitu:

A. Ulama’ Hanafiyah yang mana mereka mengharamkan hewan laut yang berbentuk seperti anjing dan babi.

B. Ulama’ Syafi’iyah dan Malikiyah yang mana mereka mengharamkan binatang yang hidupnya di dua alam [ yaitu di air dan di daratan ].

C. Ulama’ Hambaliyah yang mana mereka mengharamkan katak dan ular [Lihat I’lam al Anam:1/43].

4. Semua bangkai binatang laut hukumnya adalah suci karena bangkai binatang laut hukumnya adalah halal dan sesuatu yang halal hukumnya adalah suci. [Lihat kaedah masalah ini dalam majmu’ fatawa syaikh Ibnu Taimiyah:21/16]

5. Dhahir hadits ini menunjukkan bahwasanya bangkai ikan yang telah mengapung di atas air hukumnya adalah halal

6. Ikan yang diambil dan diolah oleh orang majusi dan yang selainnya dari orang yang penyembelihannya tidak halal bagi kaum muslimin hukumnya adalah halal karena bangkai binatang laut hukumnya adalah halal.

7. Semangat para sahabat dalam menuntut ilmu dan mengembalikan permasalahan kepada pakarnya.

8. Penggunaan gaya bahasa hikmah [uslub hakim] dalam menjelaskan ilmu yang dalam hal ini dapat kita lihat dari tambahan jawaban Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika ditanya oleh para sahabat tentang hukum air laut .Maka Jawaban Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bukan hanya sekedar menjelaskan tentang hukum air laut saja akan tetapi juga menjelaskan hukum bangkai binatang laut.

FAWAID KEDUA

Dari Kitab Nailul Authar, karya Imam Syaukany, Jilid 1/47-49. By, Ustadz Hamidin As-Sidawy, (25/04/1442 H)

1. Ibnu Mulaqqin –semoga Allah merahmatinya- mengatakan di dalam : ”Dalam hadits ini dibolehkannya bersuci dengan air laut, dan dengannya semua ulama mengatakan (berpendapat) kecuali Ibnu Umar, Ibnu ‘Amr dan Sa’id bin Al-Musayyib. (Al-Badru Al-Munir, 2/44, Syarh Sunnah, 1/368-369)

2. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salamAl-Hillu Maitatuhu” (bangkainya adalah halal), di dalam hadits tersebut terdapat dalil atas halalnya semua jenis hewan laut, termasuk anjing, babi serta ular laut. ini merupakan pendapat yang kuat di kalangan ulama Syafi’iyah.

3. Diantara faidah hadits ini : “Disyari’atkannya menambah jawaban atas pertanyaan penanya, untuk mendapatkan faidah dan tidak diharuskan untuk meringkas”. Imam Bukhari telah menjdikan hadits ini dalam suatu BAB, yaitu Bab orang yang menambah penanya melebihi dari apa yang ditanyakan. Dan hadits Ibnu Umar menyebutkan bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu’alaihi wasallam tentang apa yang harus dipakai oleh seseorang yang sedang ihram? Maka Beliau menjawab: ”Dia tidak boleh memakai kemeja, sorban, celana dan pakaian yang ada penutup kepalanya dan bukan pakaian yang berasal dari tumbuhan dan juga bukan dari Za’faran jika tidak mendapatkan sepasang sandal, maka pakailah khuf (sejenis sepatu), dan potonglah keduanya sehingga keduanya menjadi di bawah mata kaki.” Seolah-olah dia bertanya dalam bentuk pilihan, maka beliau menjawabnya, dan beliau menambahkan dalam kondisi darurat dan bukan suatu yang asing dari pertanyaan, karena kondisi safar menuntut seperti itu.

4. Al-Khathaby –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: ”Dan dalam bab hadits ini menunjukkan bahwasanya seorang pemberi fatwa apabila ditanya tentang sesuatu, dan dia mengetahui bahwa penanya membutuhkan untuk disebutkan apa yang berkaitan denagn permasalahannya,- maka dia disunnahkan untuk mengajarkan kepadanya-, dan hal tersebut bukan termasuk takalluf dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, karena dia menyebutkan makanan padahal mereka menanyakan tentang air, karena dia tahu bahwa bisa jadi mereka akan kehabisan bekal dilaut”. (Ma’alim Sunan, 1/43).

5. Imam Syafi’i –semoga Allah merahmatinya- mengatakan: ”Hadits ini adalah setengah dari ilmu thaharah (bersuci).” (al-Hawy, 1/37, Syarh al-Muhaddzab, 1/84).

Semoga bermanfaat untuk semuanya. Shalawat dan salam muda-mudahan tercurahkan atas Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Bersambung insyaAllah

✒ FAWAID ILMIYAH DARI GROUP MULTAQA DUAT INDONESIA (MDI)

(28/04/1442 H)

__⁣⁣_⁣________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: www.fb.com/multaqaduat⁣⁣⁣⁣⁣
📱 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

__⁣⁣_⁣_____

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqo Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

User Rating: 4.7 ( 1 votes)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA   Disampaikan oleh Al-Ustadz Maududi Abdullah –hafidzahullah-, tadi malam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *