Beranda » Artikel » CERMINAN SALAF TENTANG MENJAUHI BID’AH DAN PELAKUNYA (4)

CERMINAN SALAF TENTANG MENJAUHI BID’AH DAN PELAKUNYA (4)

CERMINAN SALAF TENTANG MENJAUHI BID’AH DAN PELAKUNYA (4)

 

Mau beramal kok dilarang? yang penting kan niatnya? Kenapa mempersusah dalam agama? ini semua adalah keyakinan orang yang tidak mengerti akan bahaya bid’ah dalam agama dan menganggap perkara bid’ah adalah perkara kecil dalam syari’at islam. Para sahabat adalah generasi yang paling baik, paling dekat dengan wahyu, paling dalam ilmu dan amalnya serta paling semangat dalam semua kebaikan. Oleh karena itu, tidak heran jika mereka menjadi orang-orang yang paling anti dari kebid’ahan.

Sebagian yang lain mengatakan, kalo begitu jam tangan, mobil bid’ah, pesawat juga bid’ah? ini juga merupakan slogan orang yang tidak memahami hukum syari’at. karena telah maklum bahwa semua istilah agama itu ada dua macam, yaitu pengertian secara lughawy (menurut bahasa) dan pengertian secara syar’i (menurut syari’at). Kedua istilah tersebut saling berkaitan walaupun terkadang juga terdapat perbedaan dalam kedua istilah tersebut diantara para ulama.

Oleh karena itu tidak boleh kita samakan antara dua pengertian di atas. Karena suatu yang bid’ah menurut bahasa tidak bisa dihukumi bid’ah menurut syari’at. Akan tetapi jika bid’ah menurut syari’at maka sudah pasti secara bahasa juga demikian. Sisi lain, perkara agama berbeda hukumnya dengan urusan dunia. Karena agama hukum asalnya adalah terlarang atau haram sedangkan dunia hukum asalnya adalah diperbolehkan dan mubah.

Singkatnya, bahwa semua bid’ah (yaitu semua perkara baru dalam agama, yang dibuat untuk menandingi dan menyerupai syari’at islam yang mulia) dengan macam dan bentuknya merupakan amalan tercela dan perbuatan yang sesat dan menyesatkan, apapun dalih dan niat yang melakukannya sebagaimana tidak ada yang namanya bid’ah hasanah dalam syari’at islam.

Mengingat pentingnya masalah ini, para ulama sangat berhati-hati, baik dalam menyikapi perbuatan atau pelakunya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengarang dalam masalah khusus, baik yang berkaitan dengan bid’ah-bid’ah dalam ibadah, maupun aqidah. Semua dalam rangka untuk memperingatkan dan menasehati umat agar mereka berhati-hati dan terhindar serta selamat dari virus yang sangat berbahaya dan sangat ganas ini (bid’ah).

Saudaraku se-iman, agar lebih jelas dan gamblang bagi kita akan bahaya bid’ah, kejelekan bid’ah, maka kami akan paparkan komentar ulama salaf dan sikap mereka terhadap amalan bid’ah dan para pelakunya sebagai renungan dan pelajaran dalam beragama, diantaranya :

• Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya, ia berkata: “Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada sungguh-sungguh dalam bid’ah”. (Al-Zuhd li Ahmad : 198).

• Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya, ia berkata: “Ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah karena kalian telah dicukupi dan setiap bid’ah itu adalah sesat”. (Al-Bida’ libni wadh-dhah).

• Abu Idris Al-Khaulani berkata: ”Sungguh aku melihat api berkobar di masjid lebih baik bagiku dari pada aku melihat di dalamnya bid’ah yang tidak berubah-rubah”. (Asy-Syarh wal Ibanah : 254).

• Abdurrahman bin Mahdi menyebutkan tentang suatu kaum dari kalangan ahli bid’ah dan kesungguhan mereka di dalam beribadah dengan mengatakan: “Allah tidak akan menerima (suatu amalan) kecuali di atas perintah dan sunnah, kemudian beliau membacakan ayat : ”Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)” QS. Al-Hadid : 27. Maka Allah tidak akan menerima sesuatu pun dari mereka dan menjelek-jelekkan mereka. (Hilyatul Auliya’ 9/8).

• Ja’far bin Ahmad bin Sinan berkata, aku mendengar ayahku mengatakan: “Tidaklah di dunia ini seorang ahli bid’ah melainkan dia sangat membenci ahli hadits, jika seseorang melakukan suatu bid’ah, maka dia akan dicabut manisnya hadits dari hatinya”. (Siyar ‘Alaam an-Nubala’).

• Sufyan ats-Tsauri berkata: ”Bid’ah itu lebih disenangi oleh iblis dari pada maksiat, karena maksiat seseorang dapat bertaubat darinya sedangkan bid’ah seseorang tidak mau bertaubat darinya (karena ia menganggap bid’ah sebagai ibadah). (Syarh Sunnah Al-Lalakai 2/132).

• Abu Zur’ah ditanya tentang kitab-kitab al-Harist al-Mahasiby maka ia menjawab: jauhilah kitab-kitab ini, karena ini semua adalah kitab-kitab kebid’ahan dan kesesatan, peganglah dengan atsar niscaya engkau akan menjumpai di dalamnya apa yang bisa mencukupkan dari kitab-kitab ini. Maka ia ditanya: bukankah di dalam kitab-kitab ini terdapat ibrah, maka ia menjawab: Barangsiapa yang tidak dapat mengambil ibrah dari al-Qur’an maka ia tidak akan mendapatkan ibrah dari kitab-kitab ini. (Tarikh Baghdad : 8/218).

• Dari Fudhail bin Iyadz ia berkata: “Diantara tanda-tanda bencana adalah ketika seseorang menjadi ahli bid’ah”. (Hilyatul Auliya : 8/108).

• Dari Yahya bin Abi Katsir, sesungguhnya ia berkata: “Apabila engkau menjumpai ahli bid’ah di jalan, maka ambilah jalan yang lain.” (Hilyatul Auliya : 3/69).

• Dari Al-Auza’i ia berkata: “Janganlah kalian persilahkan ahlu bid’ah untuk berjidal, sehingga ia mewariskan di hati kalian fitnah dan keraguan”. (Al-Bid’ah Libni wad-dhah : 151).

• Dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata: “Sesungguhnya pelaku bid’ah itu pada mukanya terdapat kegelapan walaupun ia memakai minyak setiap hari tiga puluh kali”. (Al-Lalakai : 2/141).

• Dahulu Ayub As-Sahtiyani menamai semua ahlu bid’ah sebagai khawarij seraya berkata: “Sesungguhnya khawarij mereka berbeda dalam penamaan akan tetapi bertemu di atas pedang”. (Syarhus-Sunnah, Al-Lalakai : 2/143).

• Dari Fudhail bin Iyad, ia berkata: “Barangsiapa yang didatangi oleh seseorang kemudian ia mengajaknya musyawarah, lalu ia menunjukinya kepada ahlu bid’ah, maka sungguh ia telah menipu agama islam”. (Syarhus-Sunnah, Al-Lalakai : 2/137).

• Ia juga berkata : “Barangsiapa yang duduk dengan ahli bid’ah, maka ia tidak akan mendapat atau diberi Al-hikmah”. ( Syu’ab Al iman, lil baihaqi: 7/9482).

• Dari Hasan Al-bashry ia berkata: “janganlah kamu bermajlis dengan ahli bid’ah, karena sesungguhnya ia dapat membuat hati kamu menjadi sakit atau rusak”. (Al-I’tisham : 62 ).

• Dari Sa’id bin Zubair, ia berkata: “Andai kata anakku berteman dengan orang fasik yang sesuai dengan sunnah adalah lebih aku cintai dari pada berteman dengan ahli ibadah tapi bid’ah”. (Syarh Al-Ibanah : 149).

• Hasan Al-Bashry berkata: “Tidak ada ghibah bagi ahli bid’ah”, dalam riwayat yang lain ia berkata: “tiga kelompok yang tidak ada keharaman ghibah bagi mereka, kemudian ia menyebutkan diantaranya adalah : pelaku bid’ah yang menampakan kebid’ahannya”. (Syu’ab Al-Iman lil Baihaqi : 7/9675).

• ‘Ashim bin Ahwal berkata: ”Aku bermajelis kepada Qatadah, beliau menyebutkan tentang ‘amr bin ‘ubaid kemudian larut dalam perkataan dan menggunjingnya. Maka aku berkata: ”Wahai Abal Khaththab, aku tidak sependapat jika ulama menggunjing sebagian ulama lainnya”, maka beliau menjawab: ”Wahai Ayub, Tidakkah kau tahu, jika sesseorang berbuat bid’ah, maka kau harus menyebutkannya sehingga kau dapat menghindar darinya”. (Hilyatul Auliya’ : 2/335).

Sebaik-baik nasehat dan petunjuk adalah mengikuti orang salaf (ulama terdahulu) dan sejelek-jelek kebid’ahan adalah mengikuti orang-orang khalaf (ulama modern tidak di atas petunjuk). Sedangkan kita hanya diperintah untuk mencari ridha dari-Nya dalam semua ibadah, bukan ridha manusia.

Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk mengetahui yang benar adalah kebenaran serta diberi kekuatan untuk mengikutinya dan semoga kita juga diberi kemudahan oleh Allah untuk mengetahui yang batil adalah kebatilan serta diberi kekuatan untuk menjauhinya.

Ya Allah jauhkanlah kami dan anak keturunan kami dari segala macam amalan bid’ah yang Engkau murkai, dekatkanlah kami selalu kepada hidayah dan petunjuk-Mu. Jadikanlah kami orang-orang yang selalu mencintai sunnah Nabi-Mu, hingga akhir hayat. Aamiin.

[ Terjemah ini disarikan dari kitab “Mawa’idz Ash-Shahabah”, karya Umar bin Abdullah Al-Muqbil, kitab “Min Akhbar as-Salaf as-Shalih”, karya Abu Yahya Zakariya Gulam Qadir, kitab “Hatat as-Salaf Baina al-Qauli wa al-Amal”, karya Ahmad bin Nashir At-Thayar, kitab “Mausu’ah Al-Akhlaq”, karya team ilmiyah di Ad-Duror As-Saniyah, kitab “Adab Ad-din wa Dunya”, karya Ali bin Muhammad Al-Mawardy, dengan tambahan muqaddimah dan penutup ]

✒ Alih Bahasa
Al faqir ila ‘afwi Robbih
Ustadz Hamidin as-Sidawy Abu Harits
Islamic Center, Makkah Al-Mukarramah
(30/04/1442 H)

__⁣⁣_⁣________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: www.fb.com/multaqaduat⁣⁣⁣⁣⁣
📱 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

__⁣⁣_⁣_____

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqo Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

User Rating: 5 ( 1 votes)

Tentang Abu Syifa

Periksa Juga

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA

NASEHAT DI KARAVEA, TANJUNG KARANG DONGGALA   Disampaikan oleh Al-Ustadz Maududi Abdullah –hafidzahullah-, tadi malam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *