Home » Artikel » CERMINAN SALAF TENTANG MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN UCAPAN MEREKA YANG MENYELISIHINYA (1)

CERMINAN SALAF TENTANG MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN UCAPAN MEREKA YANG MENYELISIHINYA (1)

CERMINAN SALAF TENTANG MENGIKUTI SUNNAH DAN MENINGGALKAN UCAPAN MEREKA YANG MENYELISIHINYA (1)

 

Banyak orang mengira –khususnya yang awam- bahwa perbedaan madzhab menunjukan perbedaan ibadah, bahkan aqidah para Imam dan pengikutnya. Ini merupakan keyakinan yang salah total dan tidak ada yang mendasarinya melainkan hawa nafsu dan fanatisme. Sehingga tidak heran jika perbedaan furu’ (cabang) menyebabkan perselisihan, perbedaan kemudian perpecahan diantara kaum muslimin, Kendatipun semua mengaku kembali dan berpijak hanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Padahal andaikata mereka mau mengetahui pendapat dan fatwa para imam mereka –setelah merujuk kepada al-qur’an dan As-sunnah-, niscaya kita akan dapatkan bahwa mereka telah sepakat dalam semua hukum, yaitu mendahulukan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih dalam semua perkara agama, baik besar maupun kecil, lahir dan dan batin. Lantas atas dasar apa kita berselisih?…

Untuk meyakinkan akan hal di atas, yaitu persatuan para imam di atas kebenaran, kami akan paparkan sebagian ungkapan para imam dari empat madzhab, yang bisa kita jadikan bukti bahwa ushul dan aqidah mereka adalah sama, dasar mereka adalah satu, yaitu kebenaran sesuai dengan dalil-dalinya, yaitu al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Semua itu demi tujuan mereka yang serupa pula, yaitu mengharap ridha dan wajah Allah.

Sebenarnya masih banyak paparan dari ulama yang lain, akan tetapi di sini tujuan kami hanya memberikan contoh supaya kita bisa mengambil faidah serta menjadikan sebagai pelajaran dalam mengamalkan syariat yang MULIA ini.

Terakhir, marilah kita camkan, kita pahami dan kita amalkan pesan serta nasihat dari para imam kita yang mulia ini, sehingga kita benar-benar menjadi pengikut yang setia, yang sesuai dengan apa yang mereka bawa, bukan hanya klaim atau pengakuan:

Seorang syair mengatakan:
“semua orang mengaku cinta pada LAILA”
“Akan tetapi LAILA tidak mengakui akan cintanya”

📗 IMAM ABU HANIFAH, NUKMAN BIN TSABIT – RAHIMAHULLAHU – BERKATA:

1. Apabila sebuah hadits telah shahih, maka itulah madzabku (pendapatku).

2. Tidak halal bagi siapapun untuk mengikuti pendapatku, sebelum ia tahu dari mana kami mengambilnya. Dalam riwayat yang lain : haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan ucapanku. Ia menambah dalam sebuah riwayat : sesungguhnya kami adalah manusia, hari ini mengatakan sesuatu dan besok kami menarik ucapan itu kembali. Dalam riwayat yang lain : Celaka kamu wahai Ya’qub (dia adalah Abu Yusuf) janganlah kamu tulis semua apa yang kamu dengar dari saya, maka sesungguhnya bisa jadi hari ini aku berpendapat sesuatu kemudian besok aku meninggalkannya, atau besok aku berpendapat kemudian lusa aku meninggalkannya.

3. Apabila aku mengatakan suatu ucapan yang menyelisihi al-Quran dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah ucapanku.

📕 IMAM ANAS BIN MALIK – SEMOGA ALLAH MERAHMATINYA- – BERKATA :

1. Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang dapat benar dan salah. Maka perhatikanlah ucapanku. Jika sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ambillah dan jika menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah maka tinggalkanlah.

2. Tidaklah ada seorangpun sesudah Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, melainkan ucapannya bisa diambil atau ditinggalkan kecuali beliau Shallallaahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil semua ucapannya).

3. Ibnu Wahb berkata: Aku mendengar imam malik ditanya tentang (hukum) menyela-nyela air ke jari-jari kaki saat berwudlu, maka imam menjawab : “Itu tidak harus dilakukan.” ibnu wahb berkata: Maka aku biarkan sampai manusia menjadi sedikit lalu aku bertanya kepadanya. Kami punya dalil dalam itu, ia pun bertanya: apa dalilnya? Telah menceritakan kepadaku Laits Ibnu Saad dan Ibnu Lahia dan Amr Ibnu Harits dari Yazid Ibnu Amr al-Muafiry dari Abi Abdirrahman al-Habli dari mustaurid Ibnu Syadad al-Qurosy, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam menyela-nyelai jari-jari ke dua kakinya dengan jari kelingkingnya.” Maka imam Malik berkata: “sesungguhnya hadits ini adalah hasan sedangkan aku belum pernah mendengar hadits ini
sebelumnya”. Kemudian aku (Ibnu Wahb) setelah mendengar itu, imam Malik memerintahkan untuk menyela-nyelai kaki (dengan air saat berwudlu).

4. Setiap hadits dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, maka itu adalah ucapanku sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.

5. Semua apa yang aku katakan, sedangkan telah datang kebenaran dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam sesuatu yang menyelisihi ucapanku, maka hadits Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam lebih utama (diikuti) dan jangan kalian taqlid kepadaku.

6. Apabila kalian melihatku mengatakan suatu ucapan, sementara telah datang dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam kebalikannya dari ucapanku, maka ketahuilah sesungguhnya akalku telah lenyap.

7. Setiap masalah yang datang padanya hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam menurut ahlinya dan berbeda dengan yang aku katakan, maka aku telah kembali dari ucapanku di masa hidupku dan setelah matiku.

8. Engkau (imam Ahmad) lebih mengetahui tentang hadits dan perawinya dari padaku. jika ada hadits yang shahih, maka kabarkan kepadaku dari manapun ia, baik dari kufah, bashrah, syam, sehingga aku dapat mengambilnya jika hadits itu shahih.

📗 IMAM SYAFI’I, MUHAMMAD BIN IDRIS – RAHIMAHULLAHU – BERKATA :

1. Telah sepakat kaum muslimin bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut karena (mengikuti) ucapan orang lain.

2. Apabila kalian menjumpai dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam, maka kerjakanlah sunnah Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam dan tinggalkan apa yang aku ucapkan. Dalam riwayat yang lain : Maka ikutlah sunnahnya dan janganlah kalian menoleh kepada ucapan siapapun.

3. Apabila sebuah hadits telah shahih, maka itulah madzhabku.

📘 IMAM AHMAD BIN HAMBAL – RAHIMAHULLAH – BERKATA :

1. Janganlah kamu taklid kepadaku, kepada Malik, kepada Syafi’i, kepada ‘Auzai, kepada Tsauri akan tetapi ambillah dari mana mereka mengambil. Dalam riwayat yang lain: janganlah kamu taklid dalam agama kepada mereka. Kemudian tabi’in dan setelahnya adalah mukhyar (boleh memilih). Dalam riwayat yang lain : ittiba’ adalah seseorang yang mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian yang datang setelah tabi’in adalah mukhyar (boleh dipilih).

2. Pendapat Auzai, Malik, Abu Hanifah, semuanya hanya pendapat dan menurutku adalah sama. Dan sesungguhnya dalil hanyalah atsar.

3. Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, maka ia berada di atas jurang kehancuran.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan faidah dari untaian kata mutiara para IMAM kita, sehingga kita bisa menerima kebaikan dan kebenaran dengan dalilnya dari manapun, siapapun dan kapanpun datangnya keduanya demi mencapai ridha Allah Azza Wa Jalla dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin…

📚 [ Diterjemahkan dari kitab sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syeikh Muhammad bin Nasiruddin Al-Albany, Cet. Maktabah ma’arif, Hal : 41 – 48 ]

✒ Al-faqiir ila afwi Robbih
Ustadz Hamidin as-Sidawy Abu Harits
Makkah al-Mukarramah
( 21/04/1442 H )

__⁣⁣_⁣________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: www.fb.com/multaqaduat⁣⁣⁣⁣⁣
📱 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

__⁣⁣_⁣_____

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqo Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

User Rating: Be the first one !

About Abu Syifa

Check Also

TAUHIDNYA PARA PENAKUT

TAUHIDNYA PARA PENAKUT   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah bercerita tentang gurunya Syaikh Bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *