Beranda » Artikel » TERTOLAKNYA BID’AH dan Agama itu Nasihat

TERTOLAKNYA BID’AH dan Agama itu Nasihat

 

TERTOLAKNYA BID’AH

Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Siapa saja yang mengada-adakan dalam perkara Kami (baca : Agama) ini yang bukan bagian darinya maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini secara manthuq (tersurat) menunjukkan, bahwa setiap bid’ah (perkara yang diada-adakan) dalam agama yang tidak memiliki asal (dalil) dalam Al-Quran dan Sunnah maka dia tertolak. Dan pelakunya tercela sesuai dengan tingkatan bid’ahnya. Semakin jauh bid’ah tersebut dari agama maka semakin tercela pelakunya, bahkan dapat mengeluarkannya dari Islam.

Adapun mafhum (yang tersirat) dari hadits ini, menunjukkan bahwa orang yang beramal diatas perintah Allah dan Rasul-Nya. Yaitu beribadah kepada Allah dengan aqidah shahihah dan amal shalih berupa yang wajib dan yang sunnah maka amalannya diterima.

Hadits diatas juga dapat dijadikan sebagai dalil atas beberapa hal, diantaranya :

1. Hadits ini mencakup perkara ibadah dan muamalah.

2. Maka setiap ibadah yang dilakukan dengan cara yang terlarang maka ibadah tersebut rusak; Karena tidak diatas perkara agama dan larangan itu mengharuskan rusaknya perkara yang dilarang.

Begitu juga dengan muamalah. Setiap muamalah yang dilarang oleh Syariat maka dia sia-sia, tidak dianggap.

3. Perkara-perkara dunia tidaklah masuk dalam definisi bid’ah, bahkan ia termasuk perkara yang dibolehkan secara asalnya.

Dampak-dampak negatif dari Bid’ah.

1. Bid’ah merupakan bentuk pengoreksian terhadap pemilik syariat; Karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

كل بدعة ضلالة

Setiap bid’ah adalah sesat.

2. Apabila pintu bid’ah dibuka untuk setiap orang yang menganggap baik suatu ibadah, maka apa yang disampaikan oleh Nabi ‘alaihish shalatu was salam tidak ada nilainya. Karena setiap orang bisa beribadah dengan apa yang dia anggap baik dan dengan caranya sendiri.

3. Tidaklah suatu bid’ah tersebar luas melainkan ia akan menjadi sebab tenggelamnya Sunnah.

Hassan Bin Athiyyah rahimahullah : “Tidaklah suatu kaum mengadakan bid’ah dalam agama melainkan Allah akan mencabut dari sunnah mereka yang semisalnya. Kemudian Allah tidak mengembalikan kepada mereka sampai hari kiamat“.

 الدين النصيحة

Agama Itu Nasehat“.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengulangi sabdanya tersebut sampai tiga kali.

Kemudian para Sahabat bertanya : “Untuk siapa?”.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab :

لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin-pemimpin kaum muslimin, dan umumnya kaum muslimin“. (HR. Muslim)

Makna

•> Nasehat untuk Allah adalah mengakui keesaan Allah, mengesakan-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan secara tidak ada yang menyamainya dari sisi manapun, beribadah hanya kepada-Nya secara lahir dan batin, menyerahkan diri kepada-Nya setiap waktu dengan penghambaan, meminta kepada-Nya dengan rasa harap dan cemas, senantiasa beristighfar; karena seorang hamba pasti tidak akan mencapai kesempurnaan dalam menjalankan kewajibannya dan pasti terjatuh ke dalam sebagian perkara yang diharamkan Allah. Maka dengan senantiasa bertaubat dan beristighfar, kekurangannya akan tertutupi, perbuatan dan perkataannya akan menjadi sempurna.

•> Nasehat utk Kitabullah adalah dengan menghafalnya, mentadabburinya, mempelajari lafazh-lafazh dan makna-maknanya, dan bersungguh-sungguh untuk mengamalkannya.

•> Nasehat untuk Rasul-Nya adalah dengan mengimaninya, mencintainya, mendahulukannya daripada diri sendiri, harta dan anak, mengikutinya dalam prinip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, mendahulukan perkataannya diatas perkataan siapapun, bersungguh-sungguh dalam mengikuti petunjuknya dan membela agamanya.

•> Nasehat untuk pemimpin-pemimpin kaum muslimin adalah dengan meyakini wilayah kekuasaan dan kepemimpinan mereka, mendengar dan taat kepada mereka, mengerahkan kemampuan utk memberikan arahan dan mengingatkan mereka kepada setiap perkara yang bermanfaat untuk mereka dan bermanfaat untuk manusia dan agar mereka menjalankan kewajiban mereka.

•> Nasehat untuk umumnya kaum muslimin adalah dengan mencintai untuk mereka apa yg ia cintai untuk dirinya, tidak menyukai untuk mereka apa yang tidak ia sukai untuk dirinya.

Oleh : Ustadz Ridwan Abu Raihana, Ahad Pagi, 22 Rabi'ul Awwal 1442 / 8 Nov 2020.
Sumber: Bahjatun Qulubil Abrar, Syaik Andurrahman As-Sa'di, hlm. 19.

328

328

Like
User Rating: 5 ( 1 votes)

Tentang admin

Periksa Juga

Berfikirlah Sebelum Berkata

Berfikirlah Sebelum Berkata   Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan ucapan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *