Home » Artikel » Sebatas Nasab Tidak Akan Bisa Menyelamatkan dari Adzab

Sebatas Nasab Tidak Akan Bisa Menyelamatkan dari Adzab

Sebatas Nasab Tidak Akan Bisa Menyelamatkan dari Adzab

 

Memiliki hubungan nasab dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam memang merupakan suatu kemuliaan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

كل سبب ونسب ينقطع يوم القيامة إلا سببي ونسبي

Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari Kiamat kecuali sebabku dan nasabku”. [HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Para salaf pun sangat memahami arti kemuliaan nasab keturunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut. Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah masuk menemui Umar bin Abdul Aziz dalam suatu keperluan, lantas Umar bin Abdul Aziz berkata: “Apabila engkau mempunyai kebutuhan kepadaku, maka kirimlah utusan atau tulislah surat, karena aku malu kepada Allah apabila Dia melihatmu di depan pintu rumahku” [Asy-Syifa 2/608, Lihat Dam’ah Ala Hubb Nabi, hal. 51](1)

Akan tetapi apakah kemuliaan tersebut didapatkan secara mutlak oleh orang yang hanya memiliki hubungan nasab dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tanpa dikaitkan dengan hal lainnya? Tentu tidak. Terdapat banyak dalil-dalil dari Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang membatasi hal tersebut. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar orang yang memiliki hubungan nasab keturunan dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Syarat-syarat agar nasab kepada Nabi bermanfaat.

1. Beriman Kepada Allah

Ketika Allah memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk memulai dakwah dari karib kerabatnya,

وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.(QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Setelah itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri memanggil para karib kerabatnya.

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai sekalian orang-orang Quraisy, belilah diri kalian sendiri, sungguh aku tidak bisa menyelamatkan kalian dari (adzab) Allah sedikit pun.

Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak bisa menyelamatkan kalian dari (adzab) Allah sedikit pun, wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari (adzab) Allah sedikit pun.

Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari (adzab) Allah sedikit pun.
Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah apapun yang engkau inginkan dari hartaku, akan tetapi aku tidak bisa menyelamatkanmu dari (adzab) Allah sedikit pun juga.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Maka jangankan dengan orang yang jauh nasabnya untuk bisa sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dekat dengan beliau saja seperti putri beliau Fathimah radhiyallahu anha hubungan darah tersebut tidak akan bisa menyelamatkan dari adzab, jika tidak dibarengi dengan keimanan kepada Allah azza wa jalla.

Abu Lahab sangat dekat nasab Nabi alaihish shalatu was salam, namun apakah hal itu bermanfaat bagi beliau yang kafir kepada Allah dan menentang dakwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam?.

Karena itu, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahullah menerangkan, apabila seorang itu termasuk dari Ahli Bait Nabi (yang memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau) shallallahu alaihi wa sallam dari kalangan sahabat Nabi radhiyallahu anhum maka ia dicintai karena keimanannya, ketakwaannya, persahabatan dan kekerabatannya dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dan apabila ia bukan dari kalangan sahabat Nabi radhiyallahu anhum maka ia dicintai karena keimanan dan ketakwaannya serta hubungan kekerabatannya dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena Ahlu Sunnah memandang bahwa kemuliaan Nasab itu mengikuti kemuliaan iman. Dan barang siapa yang Allah kumpulkan padanya antara dua kemulian tersebut, maka sungguh Allah telah mengumpulkan dua kebaikan baginya. Dan barang siapa yang tidak diberikan hidayah taufiq untuk beriman kepada Allah, maka kemuliaan nasab tidak akan berfaedah sama sekali.(2)

2. Beramal shaleh

Karena amal shaleh merupakan bagian dari keimanan yang tidak dipisahkan. Tanpa amal shaleh, iman tidak akan membuat pemiliknya menjadi aman dari adzab Allah yang menghinakan. Apatah lagi yang hanya mengandalkan nasab.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya keluarga Abi Fulan bukanlah wali-waliku. Waliku adalah Allah serta orang-orang shalih dari kaum mukminin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan : “Ini mengisyaratkan bahwa perwalian Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah diperoleh dengan nasab meskipun sangat dekat. Akan tetapi diperoleh dengan iman dan amal shaleh.(3)

Dan dalam prakteknya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun memuliakan orang-orang yang tidak memiliki hubungan nasab dengan beliau bahkan orang-orang yang status sosialnya rendah dalam pandangan manusia. Ketika penaklukan kota Mekah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Bilal yang berasal dari Habasyah (Ethopia) manan budak yang telah dimerdekan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Bahkan pada hari yang penuh kemuliaan tersebut ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah tidak ada yang menemani beliau kecuali Usamah Bin Zaid – mantan budak beliau anak dari mantan budak beliau -, Bilal Bin Rabah, dan Utsman Bin Thalhah, pemegang kunci Ka’bah.(4)

Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda,

من أبطأ به عمله لم يشرع به نسبه

“Barangsiapa yang lambat amalannya, maka nasabnya tidak dapat mempercepat” [HR. Muslim]

Dan amal shaleh tidak akan diterima oleh Allah azza wa jalla kecuai ikhlas dan sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tidak perlu diragukan wasiat untuk berbuat baik kepada ahli bait dan pengagungan kepada mereka, karena mereka dari keturunan yang suci, terlahir dari rumah yang paling mulia di muka bumi ini secara kebanggaan dan nasab. Lebih-lebih apabila mereka mengikuti sunnah nabawiyyah yang shahih, yang jelas, sebagaimana yang tercermin pada pendahulu mereka seperti Al-Abbas dan keturunannya, Ali dan keluarga serta keturunannya, semoga Allah meridhoi mereka semua”.(5)

3. Memahami agama sesuai dengan pemahaman as-Salafush Shalih

Kewajiban mengikuti para Salafush Shalih dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dalam memahami dan menjalani agama pun berlaku atas orang-orang yang memiliki hubungan keturunan dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kelaziman tersebut telah disebutkan dalam Alquran dan ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Allah ta’ala befirman :

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَ ۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisa’: 115)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي

Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan yang selamat itu”? Nabi menjawab, “ma ana ‘alaihi wa ashhabi,” “golongan yang berjalan di atas petunjukku dan para sahabatku.(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dll)

Peringatan! Hati-hati berdusta dalam masalah nasab kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah mengatakan,

فمَن كان من أهل هذا البيت وهو مؤمنٌ، فقد جمَع الله له بين شرف الإيمان وشرف النَّسب، ومَن ادَّعى هذا النَّسبَ الشريف وهو ليس من أهله فقد ارتكب أمراً محرَّماً، وهو متشبِّعٌ بِما لَم يُعط،

Barangsiapa yang memang termasuk ahli bait dan dia mukmin, maka sungguh Allah telah mengumpulkan baginya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab. Namun, barangsiapa yang mengklaim nasab yang mulia ini sedangkan dirinya bukanlah bagian darinya, maka sungguh dia telah melakukan tindakan yang haram dan termasuk orang yang berperilaku dusta terhadap sesuatu yang tidak dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور

“Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan)” [HR. Muslim nomor 2129 dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha].
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار

“Tidak seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang itu bukan ayahnya), melainkan telah kufur kepada Allah. Barangsiapa yang mengaku-ngaku keturunan sebuah kaum, padahal dia tidak bernasab kepada mereka, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka” [HR. Bukhari nomor 3508 dan Muslim nomor 112. Lafadz hadits tersebut milik Bukhari].(6)

 

**
Ridwan Abu Raihana, Ponpes BAIM, Rabu Malam, 11 Rabi’uts Tsani 1442 / 25 Nov 2020
(1) https://almanhaj.or.id/2293-adab-kepada-ahli-bait-dan-haramnya-mengaku-ahli-bait-tanpa-hak.html
(2) Fadhlu Ahlil Baiti wa Uluwwi Makanatihi inda Ahlis Sunnah wal-Jama’ah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr, hlm.13-14
(3) Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, hlm.504
(4) Qawaid Nabawiyah, Prof. Umar Bin Abdillah Al-Muqbil, hlm.90
(5) Tafsir Ibnu Katsir 4/113
(6) Fadhlu Ahlil Baiti wa Uluwwi Makanatihi inda Ahlis Sunnah wal-Jama’ah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr, hlm. 82-83

__⁣⁣_⁣________________________

Multaqa Duat Indonesia – MDI

( Forum Kerja Sama Dakwah Para Da’i Salafy, Ahlu Sunnah wal Jama’ah Se-Indonesia )

🌏 Web: https://multaqaduat.com
📹 Youtube: http://bit.ly/multaqaduat
📺 Instagram: http://bit.ly/igmultaqaduat
📠 Telegram: https://t.me/multaqaduat
🎙️ Twitter: http://bit.ly/twittermultaqaduat
📱 Facebook: www.fb.com/multaqaduat⁣⁣⁣⁣⁣
📱 Facebook: www.facebook.com/groups/384944829178650/?ref=share
✉️ Email : TeamMediaMDI2020@gmail.com
☎️ Admin MDI: wa.me/6282297975253⁣⁣

Semoga istiqomah dan mudah mudahan program ini  menjadi pintu Hasanat, Barokah dan Jariyah untuk kita semua. Amiiin

Jazakallah khair ala TA’AWUN

__⁣⁣_⁣_____

📦 Infaq Donasi Program Kaderisasi, Da’i Pedalaman, Kemanusiaan, Dakwah, Media:

🔹 Bank Mandiri Syariah, No Rek 711-615-0578 (Kode Bank: 451), Atas Nama: Multaqo Du’at

Konfirmasi Transfer melalui Whatsapp/SMS dengat format:

Nama_Alamat_Nominal_Kaderisasi Da’i

Contoh:

Ahmad_Medan_Rp. 2.000.000_Kaderisasi Da’i

Kirim ke nomor:

📱 082297975253

Ust. Amrullah Akadhinta (Bendahara MDI)

About Abu Syifa

Check Also

TAUHIDNYA PARA PENAKUT

TAUHIDNYA PARA PENAKUT   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah bercerita tentang gurunya Syaikh Bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *