Beranda » Artikel » Watak seseorang yang asli nampak saat emosi 

Watak seseorang yang asli nampak saat emosi 

💧 Watak seseorang yang asli nampak saat emosi 

Mutiara nasehat para sahabat Nabi.

Banyak sekali ayat maupun hadits yang menunjukkan keutamaan menahan marah atau emosi. Karena disaat seseorang marah, jika dia tidak mampu mengendalikannya akan terjadi efek kerusakan yang sangat bahaya.

Dan terlihatlah kepribadian seseorang ketika dia marah. Marah bisa menjadi indikator watak dan kepribadian asli seseorang, karena itulah perhatikan yang terhambur dalam lisannya.

Karena marahpun memiliki adab, seseorang dengan ilmunya mampu memperlihatkan kondisi ini, sebab menahan kemarahan yang akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya.

قال عمر بن الخطاب رضى اللّه عنه:
لا تعتمد على خلق رجل حتى تجربه عند الغضب.

📚 درر من اقوال أئمة السلف (kalemtayeb.com)

Berkata Amirul Mukminin Umar bin Khattab رضي الله عنه

Janganlah kalian menyandarkan penilaian pada akhlak seseorang sehingga kamu berpengalaman dengannya saat dia sedang marah.”

📚Duror min Aqwal Aimmah As-Salaf (kalemtayeb.com)

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc ✏📚✒...

___________

💫 Mengikuti ucapan yang paling baik 

✍️ Sungguh, kita sekarang berada dizaman yang begitu dahsyatnya syubhat ucapan dan pemikiran yang berseliweran disekitar kita. Kecanggihan teknologi didunia medsos menjadikan bertambah ruwetnya arus informasi. Yang menjadikan kita teejadang bingung untuk memilih yang benar dari ucapan maupun pemikiran yang ada.

Namun Alhamdulillah, Allah sudah memberikan arahan untuk menghadapi masa kehidupan seperti zaman sekarang ini dalam firman-nya,

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ.
ٱلَّذِینَ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَیَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ.

Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” [Surat Az-Zumar 18]

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah meriwayatkan dari ayahnya sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya. (Az-Zumar: 17)
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, Abu Zar, dan Salman Al-Farisi رضي الله عنهم Tetapi yang benar ayat ini mencakup mereka dan orang-orang selain mereka dari kalangan orang-orang yang menjauhi penyembahan berhala dan selalu taat menyembah Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka merekalah orang-orang yang mendapat berita gembira dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.
Selanjutnya Allah berfirman:

{فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ}

sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. (Az-Zumar: 17-18) Yakni mereka memahaminya dan mengamalkan apa yang dipesankan olehnya, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya kepada Musa عليه السلام ketika diberikan kitab Taurat kepadanya:

{فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا}

Berpegang teguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya. (Al-A’raf: 145). Adapun firman Allah :

{أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ}

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk. (Az-Zumar: 18)
Maksudnya, orang-orang yang mempunyai sifat ini adalah mereka yang mendapat petunjuk dari Allah di dunia dan di akhirat.

وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Az-Zumar: 18), Yakni mempunyai akal yang sehat dan fitrah yang lurus. (Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, Ibnu Katsir)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, maka Dia menyebutkan keadaan orang-orang yang kembali kepada Allah dan balasan bagi mereka.

Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala.
Dengan beribadah kepada-Nya dan berbuat ikhlas di dalamnya. Dengan demikian, mereka beralih dari syirk menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dan dari bid’ah menuju Sunnah.
Yang tidak dapat diukur dan diketahui sifatnya karena demikian besar.

Berita gembira ini mencakup berita gembira di dunia seperti pujian yang baik, mimpi yang baik, perhatian dari Allah yang mereka lihat di sela-sela hidup mereka, bahwa
Dia bermaksud memuliakan mereka di dunia dan akhirat. Mereka juga memperleh berita gembira di akhirat, yaitu ketika mati, ketika di kubur, ketika pada hari Kiamat dan diakhiri dengan berita gembira oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu selalu mendapatkan keridhaan-Nya, kebaikan-Nya, ihsan-Nya dan memperoleh keamanan dari-Nya di surga.

(Ya Allah, berikanlah yang demikian itu kepada kami, sesungguhnya kami membutuhkannya.) Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa bagi mereka berita gembira, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan berita gembira itu dan menyebutkan sifat orang yang mendapat berita gembira itu.

Dalam ayat ini terdapat anjuran memberikan berita gembira kepada orang-orang mukmin.
Maksudnya ialah mereka yang mendengarkan ajaran-ajaran Al Quran dan ajaran-ajaran yang lain, tetapi yang diikutinya ialah ajaran-ajaran Al Quran karena ia adalah ajaran yang paling baik sebagaimana yang diterangkan dalam ayat 23 surah ini.

Inilah orang-orang yang berakal sehat, yaitu orang-orang yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang mesti didahulukan dan mana yang tidak.
(An-Nafahat Al-Makkiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi)

📌Faedah ayat,
Dan orang-orang yang menjauhi penyembahan berhala-berhala dan segala yang disembah selain Allah, serta mereka kembali kepada Allah dengan bertobat, maka bagi mereka berita gembira Surga saat kematian, di alam kubur dan pada hari Kiamat.

Allah menyuruh Rasul-nya untuk mengkhabarkan berita gembira ini kepada hamba-hamba-Nya.

Dan Orang-orang yang mendengar perkataan dan memilah-milah antara yang baik dan yang buruk, lalu mereka mengikuti yang terbaik karena ia yang bermanfaat.

Mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah orang-orang yang Allah bimbing kepada hidayah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akal yang lurus.

Dan sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah صلى الله عليه وسلم setiap memulai khutbah beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim, 867)

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc ✏️📚✒️.📒..
User Rating: 4.55 ( 1 votes)

Tentang admin

Periksa Juga

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT   Sedih terasa hati ini, jika kita menyaksikan keadaan kaum muslimin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *