Home » Artikel » STUDI HADITS YANG DINILAI PALSU (3)

STUDI HADITS YANG DINILAI PALSU (3)

🔰 STUDI HADITS YANG DINILAI PALSU (3)

OLEH IMAM MUHAMMAD NASIRUDDIN AL ALBANI DALAM SUNAN AL-ARBA’AH

📘 At-Tirmidzi –semoga Allah merahmatinya- berkata :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Ya’qub Bin Al Walid Al Madany, dari Abdullah in Umar dari nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu’alaihi wasallam bersabda:

“Waktu awal sholat adalah keridhoan Allah, sedangkan waktu akhir sholat adalah pengampunan dari Allah”.

💠 Syeikh Al-albany –semoga Allah merahmatinya- berkata dalam kitabnya Al-irwa (1/287-290, nomor :259) : “hadits ini adalah palsu“.

Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (1/321), Daruqutny (hal : 92), al-baihaqy (1/435), Abu Muhammad al khalal dalam majlisaini min al-amaly (Q 134/1), Ali bin Husain bin ismail al-abdi dalam hadits (Q 156/1), al dhiya al-maqdisy dalam al-muntaqa min masmu’ty bi muru (Q/ 134/1) dari jalan Ya’qub bin walid al-madany dari Abdillah amr bin Nafi’ dari ibnu ‘Umar.

Tirmidzi melemahkan hadits ini dengan ucapannya :”ini adalah hadits gharib. Dan Ibnu Abbas telah meriwayatkan yang semisal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al baihaqy –semoga Allah merahmatinya- berkata :”Hadits ini dikenal dari Ya’qub bin al walid al madany. Sedangkan ia adalah perawi yang mungkar haditsnya. Dia dilemahkan oleh Yahya bin ma’in, didustakan oleh Imam Ahmad dan semua ahli hadits. Mereka menisbatkan dia kepada pemalsuan hadits. Kami berlindung dari kehinaan. Ya’qub bin walid al madany juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang lain, semuanya lemah. Ibnu ady berkata :”Hadits ini dengan sanad yang ini adalah hadits yang batil.”

Telah datang dalam kitab “Nasbu Ar-rayah” (1/243) : Ibnu qotthan mengingkari dalam kitabnya terhadap Muhammad Abdul haq karena ia melemahkan hadits ini dari sisi Al-umary dan dia diam terhadap Ya’qub bin walid. Ia berkata (Ibnu qotthan) : Ya’qub bin walid adalah sebab cacat (dalam hadits ini). Imam Ahmad berkata tentang dia (Ya’qub bin walid) :”Dia adalah pendusta kelas kakap, karena dia telah memalsukan hadits.

Abu hatim berkata :”Dia telah berdusta (atas nama Rosulullah) dan hadits yang ia riwayatkan adalah palsu. Ibnu Ady melemahkan hadits ini karena Ya’qub bin walid dan karena sebab itu ia menyebutkan dalam bab. Hadits semisal dikeluarkan oleh al hakim (1/189) akan tetapi dengan lafadz :”Sebaik-baik amal adalah shalat tepat pada waktunya”. Dan al hakim berkata :”Ya’qub bin walid tidak masuk dalam syarat (kriteria) kitab (saya) ini.” Ad-dzahabi dalam “TALKHIS” berkata :”Ya’qub bin al-walid adalah pendusta.”

Ya’qub bin walid juga meriwayatkan dari perowi yang lain dari sahabat dengan sanad yang lemah. Yaitu, Jarir bin abdillah, Abu Mahdzurah, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Ibnu Umar.

Adapun hadits Jarir, maka ia dari jalan ‘Ubaid bin Qosim dari Ismail bin Abi khalid dari Qois bin Abi Hazim.
Ad-daruquthny mengeluarkannya (No: 93), Ahmad bin ‘Isa al-maqdisy dalam “fadhail Jarir” (2/138/1), demikian pula Ibnu jauzy dalam “At-tahqiq” (1/67/2) dari jalan Husain bin Humaid ar-rabii’, Farj bin Abdul mahlaby telah menceritakan kepada kami, ‘Ubaid bin Al qosim telah menceritakan kepada kami hadits tersebut.
Ibnu Jauzi melemahkan dengan sebab Husain seraya mengatakan : Muthayyan, ia adalah pendusta anak pendusta. Az-zaila’I juga melemahkan karena sebab ini (1/243) :”hal itu adalah kekeliruan dari mereka, karena di atas terdapat orang yang semisal dalam kelemahan, yaitu ‘Ubaid bin al-qosim. Al hafidz berkata dalam “Taqrib” dia adalah orang ditinggalkan haditsnya, didustakan oleh Ibnu ma’in dan dituduh oleh Abu Dawud sebagai pemalsu hadits.

Al hafidz (Ibnu hajar) telah lupa dari dua ‘illah (cacat) ini dengan mengatakan dalam “At-thalkhis” (ha: 67) :”Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal.”

Adapun hadits Abu Mahdzurah, maka diriwayatkan oleh Ibrahim al abdasy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul malik bin Abi Mahdzurah : Telah menceritakan kepadaku bapak-ku dari kakek-ku secara mar’fu dengan tambahan “Waktu pertengahan shalat adalah
rahmat Allah.”

Hadits ini dikeluarkan oleh ad-daruquthny, al baihaqy, ibnu jauzi, dan ia mengatakan: Ibrahim bin Zakariya, dikatakan oleh Abu hatim bahwa ia adalah perowi yang majhul. Imam al baihaqy juga melemahkan hadits ini dengan cacat tersebut seraya mengatakan : ia adalah al ijly adharir (orang yang buta), mempunyai kunyah abu ishaq, meriwayatkan hadits hadits batil dari para perowi yang terpercaya.

Sebagaimana dikatakan oleh al-hafidz, Abu said al maliny dari Abi Ahmad bin Adi.
Adapun hadits Anas, maka diriwayatkan oleh Baqiyah dari Abdillah budak ustman bin afra : Abdul aziz telah mengabarkan kepada kami, Muhammad sirin telah mengabarkan kepada kami secara marfu.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Adi dalam “Al kamil” (Q 1/440) dengan mengatakan :”Tidak ada yang meriwayatkan melainkan Baqiyah. Ini termasuk hadits yang diceritakan oleh Baqiyah dari para perawi yang majhul, karena Abdullah budak ustman bin Afra’ dan Abdul aziz yang ada dalam sanand ini tidaklah dikenal.

Adapun hadits Ibnu Abbas, maka itu dari jalan Nafi’ As-sulamy dari atha dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhainya.

Hadits ini dikeluarkan oleh al hafidz ibnu Mudzaffar dalam “Al muntaqa min hadits hisyam bin Ammar.” (2/159), Al khatib dalam “Al-muwaddih” (2/72), Al baihaqy dalam “Al khilafiyat“, sebagaimana datang dalam “At-talkhis” karya Al hafidz Ibnu hajar dimana ia mengatakan (hal : 67) :” Didalamnya terdapat Nafi’ bin Hurmus dan ia adalah matruk (perowi yang ditinggalkan).

Adapun hadits Ibnu Umar, maka diriwayatkan oleh laits bin khalat al balkhi : Ibrahim bin rustum telah menceritakan kepada kami dari ‘Ali al Ghawas dari Nafi secara marfu’ dengan lafadz :”Keutamaan shalat di awal waktu dibanding akhirnya adalah seperti keutamaan akhirat dibanding dunia.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam “Akhbar as bahan” (2/20), yang dicatat oleh Al mundziri dalam “At-targhib” (1/148), ad-dailamy dalam “musnad al firdaus” dengan mengisyaratkan akan kelemahannya.

Syeikh Al Albany mengatakan : Dan laits ini tidak aku temukan orang yang menyebutkannya, demikian pula ‘Ali al ghawwas. Adapun Ibrahim bin Rustum, maka Ibnu Adi mengatakan : ia adalah perowi yang mungkar (rusak). Ad-daruquthni berkata : Tidak termasuk perowi yang kuat.

Hadits ini datang dalam kitab “dhaif al jami’, (no : 6177)

📚 (Terjemah dari kitab Ahadits As-Sunan al-arba'ah al maudzu'ah, Hal : 13 – 16,
Penyusun, Syeikh Muhammad Syuman Ar-ramly) ✒ Alih Bahasa : Ustadz Abu Harits Hamidin As Sidawy Lc.

475

475

User Rating: 5 ( 1 votes)

About admin

Check Also

TAUHIDNYA PARA PENAKUT

TAUHIDNYA PARA PENAKUT   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah bercerita tentang gurunya Syaikh Bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *