Beranda » Artikel » Mencukupkan Diri dengan Ridho Allah 

Mencukupkan Diri dengan Ridho Allah 

🔥 Mencukupkan diri dengan ridho Allah 

✍ Tujuan hidup setiap manusia adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb sekalian alam.

Manusia yang menghambakan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya.

Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci.
Dengan hal itu akan tumbuhlah bibit keimanan yang kokoh dan menghunjam dalam hati.

Ketika iman, kokoh dan mengakar dalam relung hati seseorang yang melakukan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan maka tergetarlah jiwanya saat berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya. Allah berfirman,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 2)

Oleh karena itu, setiap Mukmin harus menjadikan yang paling besar pengharapannya adalah mendapatkan keridhoan Allah. Karena keridhoan Allah puncak harapan dari segala-galanya.

Sebab apabila Allah ridho kepadanya, maka Allah pasti berikan kepadanya berbagai macam inayah, taufik, rahmat dan kasih sayangNya.

Sebaliknya apabila Allah murka kepadanya, maka tidak ada lagi gunanya kehidupan di dunia dan akhiratnya. Sebab kalau Allah murka Allah pasti halangi dirinya dari rahmat dan hidayahNya.

Jalan untuk mencapai keridhoan Allah adalah bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam beramal. Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(Al-Bayyinah: 5)

Diantara amalan untuk mendapatkan ridho Allah yaitu mengikrarkan keridhoannya kepada Allah, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah صلى الله عليه. Beliau bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seorang Muslim atau manusia atau seorang hamba berkata ketika menjelang sore dan pagi hari; “Radhiitu billahi rabba wabil islaami diina wabimuhammadi nabiyya (aku ridho kepada Allah sebagai Robbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Nabi), kecuali Allah menetapkan untuk meridhoinya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah, 3868 dishahihkan Al-Albany).

Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya dengan keridhoan Allah maka Allah yang akan mencukupi dan menjaganya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

من اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka. (HR. At-Tirmidzi, 2414 dishahihkan Al-Albany)

Berkata Syaikh Al-Abady,
Maksud hadits, “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya“. (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 82)

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata,

إنك لن تستطيع ان ترضي الناس كلهم فأصلح ما بينك وبين الله ثم لا تبالي بالناس.

“Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang. Karena itu, cukup bagimu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia.”
(Tawali At-Tanis, Ibnu Hajar : h. 168)

Wallahu a’lam

🍃 Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc 📚✒.🌹

User Rating: Be the first one !

Tentang admin

Periksa Juga

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT

CERMINAN SALAF TENTANG SHALAT   Sedih terasa hati ini, jika kita menyaksikan keadaan kaum muslimin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *