Home » Akidah » 2. KEBATILAN MAZHAB TAKWIL

2. KEBATILAN MAZHAB TAKWIL

Diantara perkara yang menjelaskan kebatilan mazhab takwil adalah bahwa konsep takwil tersebut dibangun diatas dua prinsip yang keliru dan rancu:

Pertama:
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat sifat Allah dikategorikan kedalam teks yang zhohir yang mutli tafsir sehingga bisa ditakwil sebagaimana yang dimaklumi dalam ilmu “ushul fikih”, bukan digolongkan kedalam teks yang bersifat nash yang hanya mencakup satu makna saja, yaitu makna lafaz itu sendiri yang tidak bisa ditakwil karena tidak mencakup selain maknanya.
Kenyataannya -sebagaimana akidah ahlusunnah wal jama’ah- bahwa semua teks-teks al quran dan hadits tentang sifat-sifat Allah merupakan teks secara nash yang menunjukkan secara langsung kepada makna lafaz nas itu sendiri sebagaimana zhohirnya atau lafaznya yang disertai oleh qaraain (indikator-indikator) yang menjelaskan maksudnya.

Kedua:
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah dikategorikan kepada nas-nas mutasyabihat, karena mengandung tasybih, karenanya harus ditakwil (diselewengkan). Inilah sesungguhnya landasan utama kesesatan mereka yang menyebabkan mereka terjerumus kedalam berburuk sangka kepada Allah.

Jelas hal ini merupakan kebatilan yang nyata, karena hanya sekadar dakwaan/pernyataan belaka yang tidak dibangun diatas dalil, bahkan bertentangan dengan dali al quran dan sunah dari banyak sisi. Karena tidak mungkin kitab Al qur’an yang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk (هدى للناس) , cahaya yang menerangkan seluruh kabaikan (نورا مبينا) dan karunia yang terbesar serta kabar gembira bagi kaum mukminin (وبشرى للمؤمنين), yang merupakan kebenaran yang absolut, perkataan yang terbaik (أحسن الحديث), bersamaan dengan hal itu semua bahwa manyoritas ayat-ayat tetang berkara yang paling utama dan agung yaitu mengenal Allah dengan sifat-sifatNya adalah perkara yang mutasyaabih, tidak diketahui maknanya secara nyata dan dimaklumi kebenaran yang terkandung didalamnya, masih samar-samar yang mengandung makna tasybih (menyerupai sifat makhluk), sedang tasybih sebagaimana yang dimaklumi adalah perkara yang batil bahkan merupakan kekufuran.
Yang demikian tentu tidak akan mungkin dikatakan dan diyakini oleh orang-orang yang mengangungkan Allah dengan pengagungan yang sesungguhnya.
Oleh karenanya tidak sorangpun dari para shahabat radhiyallah ‘anhum yang mengatakan dan memahami bahwa nas-nas sifat merupakan ayat-ayat mutasyabihat yang mengandung tasybih dan tidak diketahui maknanya.
Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan:
“ولم يعرف عن أحد من الصحابة قط أن المتشابهات آيات الصفات، بل المنقول عنهم يدل على خلاف ذلك، فكيف تكون آيات الصفات متشابهة عندهم وهم لا يتنازعون في شيء منها، وآيات الأحكام هي المحكمة وقد وقع بينهم النزاع في بعضها؟”. (الصواعق المرسلة في الرد على الجهمية والمعطلة، دار العاصمة، 2/212-213).
“Tidak diketahui dari seorang shahabatpun yang mengatakan bahwa mutasyabihat adalah ayat-ayat sifat, bahkan yang dinukilkan dari mereka menunjukan hal yang menyelisihi hal itu, bagaimana mungkin ayat-ayat sifat termasuk kepada mutasyabihat menurut mereka sedang mereka tidak berbeda pendapat tentang hal itu sedikitpun, kemudian ayat-ayat hukum merupakan nas-nas yang muhkamat sementara telah terjadi perbedaan dikalangan mereka dalam sebagian ayat (hukum) !?”. (Ash-Shawaa’iq Al-Mursalah fii ar-raddi ‘ala Al Jammiyyah wal Mu’aththilah, cet. Dar al-asihmah, 2/213-214).

Oleh karena itu tiada lain persepsi tasybih yang batil atau kufur tersebut kecuali muncul dari logika ahlul kalam yang telah dirusak oleh teori-teori kaum filsafat dan muncul hati mereka yang telah dinodai oleh syubuhat-syubuhat sekte Jahmiyah Mu’aththilah.

Jadi persepsi tasybih tidak mungkin muncul dari kalamullah , bagaimana mungkin muncul makna tasybih dari nash-nash sifat tersebut sedang Allah Ta’ala yang mengetahui tentang diriNya sendiri yang langsung menisbatkan sifat-sifat tersebut kepada diriNya, sebagaimana Allah sifati dzatNya dengan istiwa diatas arasy, memiliki dua tangan dan wajah, Allah mensifati diriNya dengan kecintaan (mahabbah) dan kemarahan (gadhaf) dan sifat-sifat yang lain yang terdapat dalam al quran dan hadits. Terlebih lagi bila nas-nas tersebut dibaca dengan seksama dan dicermati dengan baik akan dipahami bahwa semuanya menunjukan kepada kaagungaan, kebesaran dan kemulian Allah Ta’ala yang tidak satupun dari makhluk yang menyerupainya, yang tidak akan mungkin terbesit dalam hati orang-orang yang beriman yang mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sesungguhnya bahwa nas-nas tersebut mengandung/ menunjukan kepada tasybih.
Allah berfirman:
( ليس كمثله شيء وهو السميع البصير) الشورى 11
“Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat”.
Allah berfirman:
(ولم يكن له كفوا أحد) الإخلاص 4
“Dan tiada satupun tandingan (yang menyerupai)Nya”.

Bagaimana mungkin dipahami dari sifat istiwa Allah diatas arasy makna tasybih, sedang arasy tersebut tegak dan dipikul oleh delapan para malaikat dengan izin Allah Ta’ala.
Bangaimana mungkin dipahami dari sifat tangan Allah makna tasybih, sedang Allah telah menyebutkan sifat tangan tersebut bahwa bumi semuanya berada dalam genggaman satu tangan Allah dan semua langit digulung oleh tangan kanan Allah pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah:
(وما قدروا الله حق قدره والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسموات مطويات بيمينه سبحانه وتعالى عما يشركون) الزمر: 67
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”.

Dimanakah letaknya tasybih bersama keagungan dan kebesaran Allah yang maha dahsyat ini? Silahkan dijawab oleh kaum Jahmiyyah dari sekte Mu’tazilah dan Asya’irah!.

Contoh yang lain, bagaimana mungkin dipahami dari sifat wajah Allah makna tasybih, sedang cahaya wajah tersebut jika disingkap oleh Allah Ta’ala sungguh akan membakar semua yang ada dari makhlukNya, sebagaiamana dalam hadis yang shohih:
” إن الله عز وجل لا ينام، ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه، يرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار، وعمل النهار قبل عمل الليل، حجابه النور -وفي رواية: النار- لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه” رواه مسلم: 179.
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak tidur dan tidak pantas bagiNya untuk tidur, Dia menurunkan neraca timbangan (amalan dan rejeki) dan mengangkatnya, diangkat kepadaNya amalan siang hari sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam, tabirnya adalah cahaya -dalam riwayat lain: api-, jika disinggkap oleh Allah sungguh cahaya wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang diliputi oleh pandanganNya”. H.R Muslim no. 179.

Dimanakah letaknya tasybih bersama kebesaran dan keagungan sifat wajah Allah yang mulia ini?

Oleh karenanya, tatkala Ahlussunnah wal jama’ah yang mengikuti akidah salafus sholeh menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan zhohir nas-nas al quran dan hadits, mereka menetapkannya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah, tidak terlintas dalam benak pikiran mareka dan tidak terbesit dalam hati mereka sedikitpun persepsi negatif dan makna tasybih, karena mereka meyakini bahwa mentasybih sifat Allah dengan sifat makhluk adalah bentuk kekufuran yang nyata.

Imam Nu’aim Bin Hammad -guru Imam Bukhari- (wafat: 228 H) rahimahullah:
«من شبه الله بشيء من خلقه فقد كفر، ومن أنكر ما وصف الله به نفسه فقد كفر، فليس ما وصف الله به نفسه ورسوله تشبيه»
“Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan sesuatu dari makhlukNya sungguh ia telah kafir, dan barangsiapa yang mengingkari sifat Allah sungguh ia telah kafir, tidak ada sifat yang Allah tetapkan bagi-Nya dan ditetapkan rasul bagi diri Allah tasybih (penyerupaan)”.
(Diriwayatkan oleh imam Al-Laalaka’i dalam kitab: “Syarh ushuul i’tiqaad ahlissunnah wal jama’ah” (3/587) no. 936 dan Imam Dzahabi dalam kitab: “Al-Uluw lil ‘aliyyi Al-Gaffar” no. 464. Syaikh Al-bani mengatakan: “هذا
إسناد صحيح، رجاله ثقات معروفون”.)

Imam Ishaq Bin Ibrahim Ibnu Rahawaih (wafat: 238 H) mengatakan:
«من وصف الله فشبه صفاته بصفات أحد من خلق الله فهو كافر بالله العظيم، لأنه وصف بصفاته، إنما هو استسلام لأمر الله ولما سنَّ الرسول»
“Barangsiapa yang menyifati Allah, lalu menyerupakan sifatNya dengan sifat salah seorang dari makhlukNya maka ia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung, karena Allah telah menyebutkan sifat-sifatNya, tiada lain kecuali hanya berserah diri kepada perintah Allah dan tuntunan rasul”. (Lihat: Imam Al-Laalaka’i, “Syarh ushuul i’tiqaad ahlissunnah wal jama’ah” (3/588) no. 937 ).

Dengan demikian jelaslah kebatilan dan kekejian tuduah tajsim (mujassimah) kepada ahlussunnah wal jama’ah yang mengikuti akidah salafus sholeh.
Wallahu A’alam.

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan
Jember: 11 Dzulhijjah 1441 H
01 Agustus 2020 M

About admin

Check Also

TAUHIDNYA PARA PENAKUT

TAUHIDNYA PARA PENAKUT   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah bercerita tentang gurunya Syaikh Bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *