Home » Akidah » 1. KEBATILAN MAZHAB TAKWIL

1. KEBATILAN MAZHAB TAKWIL

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه إلى يوم القيامة، أما بعد:

Akhir akhir ini kembali ahlul bid’ah memunculkan akidah sekte Jahmiyyah tentang sifat-sifat Allah Ta’ala, dengan nyata mereka mengingkari sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan didalam al qur’an dan hadits yang shohih, seperti ketinggian dzat Allah dan istiwa (tinggai) Allah diatas arasy.

Yang demikian itu bukan sesuatu yang baru dalam akidah ahlul kalam dari sekte Mu’tazilah dan Asya’irah, akan tetapi hanya sekadar daur ulang sampa pemikiran sekte Jahmiyyah Mu’aththilah dengan kemasan kontemporer seolah-olah ilmiyah dan logis, sesungguhnya hal itu tiada lain kecuali hanya rekayasan dan kejahilan belaka, ia merupakan efek negatif dari sikap penentangan terhadap al qur’an dan sunah serta persepsi yang keliru tentang Allah.

Mereka mengklaim bahwa sifat -sifat tersebut bila ditetapkan sebagaimana dhohirnya maka akan melazimkan tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan sifat makhluk), sedang tasybih adalah kebatilan dan kekufuran, maka agar selamat dari tasybih, nas-nas sifat tersebutkan harus ditakwil, yaitu diselewengkan makna teksnya dari zhohirnya, itulah maksud takwil menurut ahlul kalam, seperti firman Allah :

(الرحمن على العرش استوى) طه: 5

Menurut persepsi mereka, bila ayat tersebut ditetapkan sebagaimana zhohirnya, maka melazimkan menyerupakan Allah dengan makhlukNya, karena mereka memahami istawa sebagaimana seorang raja istawa (bersemayam/duduk) diatas singgasananya, dengan demikian berarti arasy lebih besar dari Allah, jika arasy jatuh tentu jatuh yang istiwa diatasnya dan persepsi-persepsi negatif lainnya yang mereka banyangkan tentang istiwa Allah. jelas ini adalah makna yang batil, maka agar selamat dari kebatilan tersebut, istiwa’ harus ditakwil dengan istaula yang berarti: menguasai, begitu logika mereka yang nyeleneh.

Perlu diketahui, bahwa pentakwilan nas-nas sifat pada hakikatnya bertujuan untuk menolak nas-nas tersebut dan makna/sifat yang terkandung didalamnya, akan tetapi mereka tidak mau berterus terang menyatakan hal itu, karena kekhawatiran terhadap kritikan ahlussunah yang akan memvonis mereka keluar dari islam bila dengan terang-terang menolak ayat al-quran dan hadits yang shohih, maka dengan cara yang sangat licik dan terselubung mereka menolaknya dengan istilah takwil yang hakikatnya adalah penyelewengan dan penyimpangan, begitu yang didoktrinkan oleh salah seorang tokoh utama Jahmiyyah yaitu Bisyr Al-Marriisy:
Imam Abu Sa’id Ad-Daarimi (wafat: 280 H) menyingkap kekejian makar dan niat busuk mereka tersebut:

“وبلغنا أن بعض أصحاب المريسي قال له: كيف نصنع بهذه الأسانيد الجياد التي يحتجون بها علينا في رد مذاهبنا، مما لا يمكن التكذيب بها؟ مثل: سفيان4 عن منصور عن الزهري، والزهري عن سالم، وأيوب وابن عون3 عن ابن سيرين4، وعمرو بن دينار5 عن جابر، عن النبي صلى الله عليه وسلم وما أشبهها؟ فقال المريسي: لا تردوه فتفتضحوا، ولكن غالطوهم بالتأويل فتكونوا قد رددتموها بلطف؛ إذ لم يمكنكم ردها بعنف”. [نقض الإمام أبي سعيد عثمان بن سعيد على المريسي الجهمي العنيد فيما افترى على الله عز وجل من التوحيد، مكتبة الرشد – الرياض، 2/867-868).]

“Telah sampai kepada kami bahwa sebagian murid-murid Al-Marrisy bertanya kepadanya: apa yang harus kami lakukan terhadap (hadis-hadis) yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bagus yang mereka (ahlussunnah) jadikan sebagai hujjah terhadap kami dalam membantah mazhab-mazhab (pemikiran-pemikiran) kami, yang tidak akan mungkin bisa didustakan? Seperti yang dirwayatkan Sufyan (Tsauari) dari Manshur (Bin Mu’tamir) dari Zuhri. Dan (Riwayat) Zuhri dari Salim (Bin Abdillah Bin Umar) dan Ayyub (Bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaani) dan Ibnu ‘Aun dari Ibnu Sirin, dan Amru Bin Dinar dari Jabir dari Nabi Shalallahu’alahi wasallam dan yang semisalnya? :

Maka Al-Marrisi menjawab: jangan kalian tolak (secara langsung) niscaya akan tersingkap (niat dan makar) kalian, akan tetapi kecohkan mereka dengan takwil, dengan demikan kalian telah menolaknya dengan halus, karena tidak akan mungkin kalian menolaknya dengan vulgar”.
Demikian doktrin keji Bisyr Marrisy kepada murid-muridnya dan niat busuk mereka untuk merusak agama islam, yang menjelaskan akan kebencian mereka besar kepada ayat-ayat yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allah, itulah pemikiran yang diwarisi oleh kaum Jahmiyyah dizaman sekarang ini yang berkedok Ahlusunnah wal jama’ah, sungguh ini adalah bentuk pembajakan istilah sunnah untuk menutupi bid’ah dan kesesatan mereka, Allah Musta’aan.

Dan hakikat takwil adalah ta’thil (pengingkaran terhadap sifat), jadi konsep pemikiran mereka dalam hal ini dibangun diatas tiga tahapan:

(1) persepsi yang negatif (Tasybih) kemudian

(2) sikap yang menyimpang yaituTakwil , kemudian

(3) hasil yang batil yaitu Ta’thiil.

Pentakwilan nas-nas sifat merupakan akidah yang sangat batil, diantara hal yang menjelaskan kebatilannya tiga pertanyaan pemungkas yang menyingkap kesesatanya:

Pertama: Tanyakan kepada sekte Asya’irah yang menamakan diri mereka sebagai ahlussunah wal jama’ah (!): apakah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengetauhi bahwa makna yang benar tentang nas-nas sifat tersebut adalah apa yang kalian pahami/katakan, atau tidak ?

Jawabanya satu dari dua: iya atau tidak, jika mereka menjawab: bahwa Nabi tidak mengetahui pentakwilan istawa dengan istaula, sungguh mereka telah mengatakan perkataan yang sangat batil, karena telah mendustai sabda beliau shalallahu’alaihi wasallam:

«إن أتقاكم وأعلمكم بالله أنا» البخاري رقم: 20
“Sesungguh yang paling bertaqwa dan yang paling berilmu diantara kalian tentang Allah adalah saya”. H.R Bukhari no. 20

Jika mereka menjawab: iya, yaitu bahwa beliau shalallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwa makna yang benar tentang ayat tesebut adalah apa yang mereka pahami, yaitu takwil. Maka timbul pernyataan: kenapa beliau tidak menjelaskannya?

Kedua: Bukankah Nabi shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran tentang makna dari ayat-ayat yang kalian pahami, atau tidak ?

Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mencela Allah dan mencela Rasul-Nya, mereka telah mencela Allah, karena kelaziman dari jawaban tersebut bahwa Allah mengutus seorang rasul yang tidak mampu menjelaskan kebenaran kepada umatnya, tentu maha suci Allah dari tuduhan yang keji dan batil ini.

Begitu juga mereka telah mencela Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, karena telah menuduh beliau sebagai orang yang pandir yang tidak memiliki kefasihan dan kemampuan dalam menjelaskan kebenaran, tentu Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang selamat dari sifat yang seperti itu, bahkan beliau adalah orang yang paling fasih dan yang paling mampu menjelaskan kebenaran tentang makna ayat-ayat sifat dan yang lainnya, akan tetapi kenapa tidak dinukilkan dari beliau pentakwilan sifat istawa dalam firman Allah (الرحمن على العرش استوى) sebagaimana yang kaum Mu’tazilah dan Asya’irah takwilkan dengan makna (استولى) ?

Ketiga: Bukankah Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah nabi yang paling bersungguh-sungguh memberikan hidayah kepada umatnya dan sangat menginginakn kebaikan bagi kaum mukminin, atau tidak ?

Jika mereka menjawab: tidak, sungguh mereka telah mengatakan kebatilan yang dahsyat dan telah mendustai firman Allah:

(لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم) التوبة: 128.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kebaikan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Maka tiadal lain mereka kecuali pasti mengatakan: bahwa beliau adalah orang yang paling menginginkan kebaikan dan petunjuk bagi umatnya.

Jika halnya demikan: bahwa Rasul shalallahu’alaihi wasallam adalah orang yang paling berilmu tentang Allah, yang paling fasih yang mampu menjelaskan kebenaran dan paling besungguh-sungguh memberikan petunjuk dan sangat menginginkan kebaikan bagi kaum mukminin, nah yang menjadi pertanyaan: kenapa beliau shalallahu’alaihi wasallam tidak menjelaskan makna dari nas-nas sifat tersebut seperti yang ditakwilan oleh ahlu kalam dari kalangan Mu’tazilah, Asya’irah dan sekte-sekte yang lain yang mengadopsi pemikiran Jahmiyyah tersebut?

Itulah tiga pertanyaan pemungkas yang wajib dijawab oleh sekte Asya’irah dan orang-orang yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal jama’ah tetapi mengingkari dan mentakwil sifat-sifat Allah Ta’ala.
Jika mereka tidak bisa menjawabnya dan mustahil mereka akan bisa menjawabnya dengan benar, maka jelaslah kebatilan dan kesesatan mazhab takwil dan akidah ta’thil yang mereka yakini dan perjuangkan, dan tiada selain kebenaran kecuali hanya kebatilan.

(قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين) البقرة: 111

“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”
(فماذا بعد الحق إلا الضلال، فأنى تصرفون) يونس: 32.

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan
Jember: 10 Dzulhijjah 1441 H
30 Juli 2020 M

About admin

Check Also

TAUHIDNYA PARA PENAKUT

TAUHIDNYA PARA PENAKUT   Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan hafidzahullah bercerita tentang gurunya Syaikh Bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *